MALANG, RADAR MALANG – Penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu menyelesaikan tugas kuliah kini hampir tidak pernah dilewatkan oleh mahasiswa. Di samping untuk memersingkat waktu, perlu diketahui bahwa AI tidak selalu membagikan informasi yang tepat. Fenomena itu dikenal dengan sebutan halusinasi AI.
Baca Juga: Mendiktisaintek Beri Teguran Keras Terhadap Kecurangan UTBK 2026
Halusinasi AI merujuk pada pemberian hasil informasi yang salah, dibuat-buat, atau tidak berdasar namun tampak masuk akal dan meyakinkan. Aspek utama halusinasi AI sering meliputi referensi palsu serta ketidakakuratan yang meyakinkan.
Halusinasi AI berisiko pada kutipan yang tersebar dengan tingkat halusinasi 15-20%. Fenomena itu berisiko mengakibatkan rekayasa data dan mengancam integritas akademik.
Menurut laporan National Institutes of Health 2025, hal itu dapat disebabkan karena adanya kesenjangan data atau terbatasnya informasi terhadap fakta dunia nyata.
Baca Juga: Waspadai Ancaman Gol dari Stoper Persib, Arema FC Perkuat Sektor Ini sebelum Berlaga
Ketergantungan berlebihan mahasiswa pada AI akan menyebabkan palgiarisme atau penelitian palsu.
Strategi pencegahan halusinasi AI dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan silang terhadap informasi yang dihasilkan AI dengan informasi dari sumber tepercaya. Mahasiswa dapat melakukan verifikasi data informasi di Google Scholar, iPusnas atau portal jurnal resmi universitas yang memastikan sumber berita kredibel.
Baca Juga: Rekomendasi Generator AI untuk Mahasiswa: Tugas dan Skripsi Lebih Ringan
Mahasiswa perlu mengingat bahwa AI merupakan asisten penunjang kreativitas dan bukan sumber kebenaran mutlak atau utama. Integritas karya ilmiah sepenuhnya berasa di tangan mahasiswa sebagai penulis dan peneliti.
Kesadaran diri dan ketelitian mengolah data hasil AI mampu menghindarkan mahasiswa dari risiko sanksi akademik. Dengan berpikir kritis dan bijak terhadap penggunaan teknologi, mahasiswa dapat menghasilkan karya yang inovatif.
Editor : Aditya Novrian