Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

SKS: Tradisi Mahasiswa yang Mematikan Fungsi Otak?

Salshabila Abidah Ardelia • Jumat, 1 Mei 2026 | 22:52 WIB
Sistem Kebut Semalam: Mengapa Kita Sulit Berhenti Meski Tahu Itu Rugi? (Foto: Pexels)
Sistem Kebut Semalam: Mengapa Kita Sulit Berhenti Meski Tahu Itu Rugi? (Foto: Pexels)

MALANG, RADAR MALANG – Sistem Kebut Semalam (SKS) merupakan budaya yang dilakukan oleh tidak sedikit pelajar di Indonesia. Namun, meski dianggap heroik, SKS adalah bentuk sabotase terhadap potensi kognitif dan kesehatan mental.

Tingkat Prokrastinasi Akademik

Dr. Piers Steel, seorang pakar psikologi, merangkum bahwa sekitar 80-95% mahasiswa memiliki perilaku prokrastinasi atau menunda-nunda pekerjaan tugas atau kewajiban akademik meskipun mengetahui dampak negatifnya.

Baca Juga: Belajar Mandiri: Solusi Adaptasi di Era Pembaruan

Dr. Piers Steel juga mengatakan bahwa sekitar 50% di antaranya mengaku mengalami prokrastinasi kronis yang menjadi alasan utama mereka melakukan SKS.

Sres dan Hormon Kortisol

Otak cenderung lebih mengingat tugas yang belum terselesaikan. Dalam teori Optimal Arousal, beberapa orang memerlukan tekanan adrenalin dari tenggat waktu atau deadline agar fokus. Tekanan tenggat waktu memicu terjadinya fokus sementara atau memori jangka pendek yang akan cepat hilang setelah tugas terselesaikan.

Penelitian yang dilakukan di Standford membahas bahwa stres akut, seperti tekanan SKS, memicu pelepasan kortisol berlebihan. Hal tersebut mengakibatkan kerja otak yang bertanggung jawab atas logika dan pengambilan keputusan terhambat. Itulah alasan medis terjadinya blank atau blank fog saat ujian.

Dampak SKS pada Kinerja Otak

Otak membutuhkan istirahat yang cukup untuk memindahkan informasi dan memori jangka panjang. Ketika pelajar melakukan belajar SKS, waktu tidur akan terpotong dan justru akan membuat otak sulit mengingat kembali materi yang sudah dipelajari.

Baca Juga: Rahasia Belajar Efektif dengan Teknik Pomodoro, Cara Sederhana Tingkatkan Konsentrasi

Data penelitian Journal of Sleep Research menunjukkan bahwa begadang satu malam penuh setara dengan kondisi kognitif seseorang yang sedang mabuk.

Solusi Praktis dan Efektif

Penelitian yang dilakukan Nate Kornell, seorang pakar psikologi, menunjukkan bahwa belajar berjeda (space repetition) jauh lebih efektif dibandingkan belajar sekaligus dalam satu waktu atau SKS. Selain itu, pelajar juga dapat menggunakan teknik Pomodoro untuk mengatur waktu agar otak tidak cepat lelah.

Tidur dan istirahat yang cukup merupakan bagian dari strategi belajar. Keberhasilan akademik tidak dibangun hanya dalam satu malam, tetapi konsistensi yang terjaga.

Editor : Aditya Novrian
#SKS #prokrastinasi #mahasiswa #sistem kebut semalam #belajar