JAKARTA, RADAR MALANG – Kebergantungan mahasiswa pada kecerdasan buatan (AI) generatif kini memicu kekhawatiran atas terkikisnya kemampuan literasi dasar. Fenomena itu mengancam ketajaman berpikir kritis dan kemampuan analisis mendalam dalam ekosistem akademik.
Baca Juga: Pekan Depan, 300-an Siswa SD di Malang Jalani TKA Susulan
Ketergantungan Kognitif
Laporan UNESCO dalam Guidance for Generative AI memperingatkan risiko penggantian interaksi kognitif manusia oleh mesin. Mahasiswa kini cenderung menyerahkan beban berpikir sepenuhnya kepada algoritma.
Kondisi tersebut menciptakan jarak antara kecepatan menghasilkan teks dan kedalaman pemahaman materi. Penulisan esai yang dahulu menjadi proses belajar, kini beralih menjadi sekadar proses kurasi output mesin yang instan.
Risiko Halusinasi dan Suara Seragam
Studi literasi digital dari Stanford University menyoroti kelemahan pengguna dalam memvalidasi informasi. Banyak mahasiswa menerima data fiktif yang dihasilkan AI tanpa melakukan verifikasi silang ke sumber primer.
Selain validitas, ketergantungan ini mengakibatkan penyeragaman gaya bahasa. Tulisan mahasiswa kehilangan karakter personal dan orisinalitas karena terlalu mengikuti pola prediktif yang kaku dari model bahasa besar (LLM).
Urgensi Literasi Deep Reading
Pakar neurosains Maryanne Wolf menekankan bahwa budaya membaca digital yang cepat mengikis kemampuan deep reading. Tanpa latihan membaca mendalam, sirkuit otak untuk analisis kritis dan empati intelektual sulit terbentuk secara optimal.
Mahasiswa yang hanya mengandalkan AI tanpa penguasaan fondasi literasi berisiko kehilangan daya saing di dunia kerja profesional.
Baca Juga: Krisis Literasi: Ketahanan Baca Mahasiswa Menuntaskan Bacaan Panjang
Transformasi Peran AI
AI sejatinya adalah asisten, bukan pengganti proses intelektual manusia. Penguatan kurasi dan verifikasi mandiri menjadi kunci agar teknologi itu tidak melumpuhkan daya pikir.
Pemanfaatan AI secara bijak harus dibarengi dengan pemeliharaan kemampuan dasar membaca dan menulis manual. Keseimbangan ini memastikan teknologi tetap menjadi pendukung, sementara kendali intelektual tetap berada di tangan manusia.
Editor : Aditya Novrian