MALANG KOTA - Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) SD-SMP Kota Malang dibuka sekitar sebulan lagi. Meski belum dimulai, diperkirakan 10.811 pendaftar bakal tersingkir alias gagal masuk sekolah negeri. Itu jika 26.739 lulusan TK-SD mendaftar ke SD dan SMP negeri se-Kota Malang.
Estimasi banyaknya pendaftar tak lolosnya seleksi diketahui dari pagu SD-SMP negeri yang tak sebanding dengan membeludaknya lulusan TK dan SD se-Kota Malang.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, pagu SD negeri tahun ini mencapai 8.568 kursi. Kemudian pagu SMP negeri 7.360 kursi. Bertambah dibanding pagu tahun lalu, yakni 7.807 kursi untuk SD dan 7.424 kursi SMP.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Malang Muflikh Adhim mengatakan, tahun ini ada perubahan pagu pada SD negeri dan SMP negeri. Pagu SD negeri bertambah, sementara SMP negeri berkurang.
Namun, dia mengatakan, perbedaan jumlah pagu tahun ini tidak terlalu drastis. Hanya ada sedikit penurunan pada pagu SMP negeri karena jumlah lulusan SD tahun 2026 berkurang.
"Tahun ini, menurut data kami ada 13.792 siswa yang lulus SD. Sementara tahun lalu ada 14.354 murid," ujar Adhim kemarin (4/5).
Karena ada penurunan lulusan, pihaknya pun melakukan penyesuaian pagu yang dibuka untuk jenjang SMP. Kemudian lulusan TK pada 2025 dan 2026 hampir sama. Yakni sekitar 12.947 murid. Oleh karena itu, ada penambahan pagu di SD negeri.
Dia mengatakan, tidak semua murid bisa diterima di sekolah negeri. Terlebih lagi di Kota Malang hanya ada 195 SD negeri dan 30 SMP negeri.
"Jika dihitung, berarti ada 5.587 lulusan TK dan 5.224 lulusan SD yang tidak bisa mendaftar ke sekolah negeri, tapi mereka bisa mencoba sekolah swasta," terang Adhim.
Adhim melanjutkan, untuk mekanisme SPMB tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Jumlah jalur yang dibuka tetap 5 jalur. Yakni jalur domisili. Kemudian ada jalur afirmasi anak berkebutuhan khusus dan afirmasi kepindahan orang tua.
"Jalur kepindahan orang tua dibagi untuk anak yang orang tuanya guru atau tenaga kependidikan," jelas dia.
Selanjutnya ada jalur prestasi akademik. Pada jalur prestasi akademik, lanjutnya, komposisinya meliputi 25 persen nilai rapor dan 75 persen nilai Tes Kompetensi Akademik (TKA). Satu lagi adalah jalur prestasi nonakademik sebesar 10 persen.
"Yang berbeda, tahun lalu pada jalur prestasi akademik menggunakan nilai uji kompetensi dasar (UKD), sekarang menggunakan nilai TKA," sebut Adhim. Saat ini, pihaknya sedang menunggu pengumuman nilai TKA dari seluruh murid.(mel/dan)
Editor : Mahmudan