MALANG KOTA – Setiap tahun, masih saja ada sekolah negeri yang tidak mampu memenuhi pagunya. Dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SMPB) SD-SMP tahun lalu, SD Negeri Tulusrejo 4 kesulitan memenuhi pagu.
"Selama tiga tahun terakhir, jumlah murid baru tidak sampai 20 orang. Jika dirinci tahun 2023 hanya ada 3 murid baru, 2024 ada 11 murid baru, dan 2025 ada 2 murid baru," ujar Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Malang Muflikh Adhim kemarin.
Penyebabnya karena faktor demografis. Sebab di sekitar sekolah didominasi penduduk lansia dan kepadatan sekolah yang berdekatan. Agar kegiatan belajar mengajar berjalan lancar, disdikbud akan meminta Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bergabung dengan kelas lain.
Di samping itu, sekolah juga harus menonjolkan prestasi dalam rangka menarik minat.
"Kalau wacana merger, pihak dinas biasanya baru melakukan evaluasi minimal selama tiga tahun berturut-turut sebelum mengambil keputusan final," tegas dia.
Berdasar SPMB tahun lalu, ada tiga sekolah yang masih kesulitan memenuhi pagu. Ketiganya berasal dari jenjang SD. Yaitu SDN Tulusrejo 4 yang hanya mendapat 2 siswa, SDN Tulusrejo 1 yang mendapat 6 siswa, dan SDN Jatimulyo 4 yang mendapat 7 siswa.
Kepala SDN Tulusrejo 4 Purnomo Sigit mengatakan, penduduk sekitar sekolahnya 80 persen sudah memasuki masa lansia. Untuk itu populasi anak kecil tergolong langka.
“Sebelumnya sempat kumpul-kumpul sama warga, 80 persen sudah memasuki masa pensiun, 20 persennya sudah punya anak tapi usia SD mendekati SMP,” ujarnya.
Sementara keturunan dari para lansia itu banyak yang tak tinggal di Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru. Rata-rata memilih bekerja di luar kota atau pindah domisili. Jadi kebanyakan tetangga dari SDN Tulusrejo 4 adalah lansia yang menikmati masa tua.
Populasi anak kecil yang berkurang drastis berpengaruh terhadap penerimaan murid. Sebab jalur domisili yang membatasi jarak rumah murid dengan sekolah menempati 80 persen kuota dalam SPMB.
“Bahkan sejak tahun lalu, ada siswa yang jarak rumahnya jauh kami terima, tapi tetap saja yang terisi hanya dua kursi dari pagu 28 siswa,” lanjut Sigit.
Selain itu, jarak antar sekolah yang terlalu berdekatan juga menjadi faktor penyebab sulitnya mendapat murid. Jarak SDN Tulusrejo 4 dengan SDN Tulusrejo 1 tak sampai 100 meter. Keduanya juga sama kesulitan memenuhi pagu di SPMB tahun lalu.
Sigit menganalisis banyak juga dari orang tua sekitar sekolah yang memilih menyekolahkan anaknya di satuan pendidikan berbasis Islam. Untuk itu, mulai tahun lalu dia menambah ekstrakurikuler bahasa Arab sebagai opsi siswa.
“Kami juga sering melayani murid yang ingin tambahan belajar atau mengaji sepulang sekolah,” lanjut Sigit.
Selama proses sosialisasi SPMB, setidaknya sudah ada enam calon siswa yang diproyeksikan bakal masuk sekolahnya. Kendati demikian, Sigit berharap angka itu bisa terus bertambah. Sebab tahun ini pihaknya bakal meluluskan 16 siswa dari kelas enam. Apabila jumlah murid yang masuk tak seimbang tentu berpengaruh terhadap kinerja sekolah karena berkaitan dengan dana BOS.
Terpisah, Kepala Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kota Malang Agus Wahyudi menuturkan, persiapan SPMB sudah maksimal. Seluruh sekolah sudah siap menyambut pendaftaran peserta didik baru. Hanya beberapa satuan pendidikan juga waswas tak bisa penuhi pagu tahun ini.
Alasan sekolah-sekolah itu tak bisa penuhi pagu tetap sama. Yaitu letak sekolah yang berada di pinggiran kota atau wilayah dengan kepadatan penduduk usia sekolah yang lebih rendah.
“Kami melalui MKKS terus memantau perkembangan penerimaan sekolah agar seluruh satuan pendidikan bisa bersaing dengan sehat dalam pemenuhan pagu,” pungkasnya.(mel/aff/dan)
Editor : Mahmudan