MALANG, RADAR MALANG - Banyak mahasiswa sering menunda tugas selama seminggu dan baru menyelesaikannya beberapa jam sebelum tenggat waktu karena pengaruh hukum Parkinson.
Mekanisme Ekspansi Pekerjaan
Cyril Northcote Parkinson merumuskan bahwa sebuah pekerjaan akan terus mengembang mengisi seluruh waktu yang tersedia untuk diselesaikan. Jika mahasiswa memiliki waktu satu minggu untuk esai ringan, otak secara psikologis akan mempersepsikan tugas tersebut menjadi lebih rumit dari aslinya.
Baca Juga: Melampaui Akademik: Peran Vital Pendidikan Nonformal bagi Pengembangan Karakter Remaja
Riset dalam Journal of Applied Psychology menunjukkan individu yang diberi waktu lebih lama cenderung bekerja lebih lambat tanpa meningkatkan kualitas hasil. Fenomena ini membuktikan bahwa durasi waktu yang panjang tidak menjamin hasil karya yang lebih baik bagi mahasiswa.
Dampak Tekanan Waktu terhadap Otak
Secara neurosains, tekanan deadline di menit terakhir memicu lonjakan dopamin dan epinefrin yang memaksa otak untuk fokus secara instan. Bekerja dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat meningkatkan risiko burnout.
Menunda-nunda mengerjakan tugas juga memperbesar risiko teknis seperti gangguan koneksi internet atau server pengumpulan tugas yang penuh. Kurangnya waktu pemeriksaan ulang membuat mahasiswa sering kali melewatkan kesalahan kecil yang sebenarnya bisa diperbaiki jika tugas selesai lebih awal.
Baca Juga: Bahan Bakar Prestasi: Hubungan Erat Kebiasaan Sarapan dan Performa Akademik
Strategi Membatasi Durasi Kerja
Penerapan batas waktu buatan atau artificial deadlines menjadi solusi efektif untuk mematahkan siklus penundaan ini. Mahasiswa dapat mengalokasikan durasi tetap, misalnya dua jam, guna memaksa otak bekerja lebih efisien.
Membatasi waktu secara ketat mendorong mahasiswa fokus pada prioritas utama. Manajemen waktu yang disiplin bukan sekadar menyelesaikan tugas, tetapi berupaya menjaga kesejahteraan mental dan kualitas hasil akademik secara konsisten.
Editor : Aditya Novrian