MALANG, RADAR MALANG - Sekolah-sekolah di Indonesia mulai memperketat pengawasan dan edukasi melalui program anti-bullying guna menciptakan lingkungan belajar yang aman. Langkah ini menjadi prioritas karena perundungan berdampak langsung pada penurunan kesehatan mental dan motivasi belajar siswa di sekolah.
Program Roots dan Agen Perubahan
Kemendikbudristek menggalakkan Program Roots yang berfokus pada peran siswa sebagai agen perubahan. Program ini melibatkan siswa yang memiliki pengaruh sosial besar di sekolah untuk menyebarkan pesan positif dan perilaku nonkekerasan kepada teman sebaya.
Baca Juga: 116 Siswa di Kabupaten Malang Terhalang Masuk SMP Negeri
Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif karena komunikasi antarsiswa terasa lebih alami dibandingkan teguran formal dari guru.
Agen perubahan bertugas menciptakan norma sosial baru yang menentang segala bentuk kekerasan, baik fisik, verbal, maupun psikis di lingkungan sekolah.
Sistem Pelaporan dan Deteksi Dini
Selain peran siswa, institusi pendidikan juga mulai menyediakan sistem pelaporan anonim untuk memudahkan korban atau saksi melapor tanpa rasa takut. Layanan tersebut didukung oleh pelatihan guru agar lebih peka terhadap titik buta sekolah yang sering menjadi lokasi perundungan.
Pencegahan juga dilakukan melalui kurikulum pembelajaran sosial emosional untuk melatih empati siswa sejak dini. Hal itu bertujuan agar siswa mampu mengelola emosi dan berkomunikasi secara asertif tanpa perlu menjatuhkan orang lain.
Baca Juga: Anggaran Seragam Gratis Dipangkas, Disdikbud Kota Malang Beri Kebijakan Ini
Kolaborasi Ekosistem Pendidikan
Keberhasilan program anti-bullying memerlukan sinergi antara pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat sekitar. Pengawasan di ranah digital juga diperketat guna mencegah cyberbullying yang sering kali berlanjut menjadi konflik fisik di dunia nyata.
Upaya kolektif tersebut diharapkan mampu mengikis budaya perundungan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan lingkungan yang kondusif, siswa dapat lebih fokus pada pengembangan potensi akademik dan karakter tanpa intimidasi.
Editor : Aditya Novrian