MALANG KOTA-RADAR MALANG-Tahun ajaran baru di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 dimulai bulan Juli mendatang. Proses penjaringan siswa baru akan dimulai pada bulan Mei ini. Akan dipilih dari anggota keluarga di Kota Malang yang masuk Desil 1 dan 2 dan tengah tidak sekolah.
Total kuota yang diajukan sama dengan tahun lalu. Pihak sekolah menerima 100 siswa. Jumlah itu menyesuaikan kapasitas gedung sekolah yang tersedia dan digunakan.
Tahun ini Pemkot Malang belum memiliki opsi gedung untuk penempatan murid baru. ”Tahun ini gedung pinjaman dari Poltekom sudah penuh, sementara pembangunan gedung permanen masih tahap penentuan lahan,” ujar Kepala Dinas Sosial P3AP2KB Kota Malang Donny Sandito.
Sejauh ini sudah ada lima siswa yang diproyeksikan mengisi kuota tersebut. Mereka berasal dari keluarga Desil 1 dan 2 yang belum terjaring tahun lalu. Itu artinya, masih butuh 95 siswa lagi untuk mengisi kuota sekolah rakyat tahun ini. Tapi, dengan catatan apabila penetapan dari Kementerian Sosial sesuai pengajuan.
Berdasar informasi yang digali wartawan koran, untuk mengatasi problem gedung sejatinya muncul opsi peserta didik baru dititipkan ke Sekolah Rakyat Kabupaten Malang di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur. Namun Dinsos belum bisa memastikan rencana tersebut. Itu karena, masih menunggu arahan Kementerian Sosial.
Sembari menunggu, Dinsos akan fokus mendata anak dengan usia SMP yang masuk di Desil 1 dan 2 lebih dahulu. Di Kota Malang, tercatat ada 11.479 keluarga yang masuk Desil 1. Total ada 37.414 orang yang masuk kategori itu. Namun belum ada pemilahan spesifik berapa calon siswa yang masuk kriteria usia SMP dan tidak sekolah.
Untuk keluarga yang masuk Desil 2 jumlahnya lebih banyak. Total ada 14.509 keluarga. Ada sekitar 47.126 orang yang masuk kategori bisa bersekolah di SR. Dinsos Kota Malang memberi tenggat waktu masa rekrutmen harus selesai bulan Juni. ”Sebab jumlah siswa yang diterima menjadi landasan penentuan penempatan gedung SR untuk siswa baru,” kata Donny.
Wakil Kepala Bidang Humas SRMP 16 Kota Malang Rosita Devi Ramadhani menjelaskan, siswa SR berasal dari masyarakat kurang mampu yang tergolong Desil 1 dan 2. Latar belakang para siswa juga beragam, ada yang putus atau tidak sekolah karena ekonomi. ”Banyak dari mereka yang mencari uang dengan mengamen, mengemis, hingga menjadi anak jalanan,” katanya. (aff/gp)
Editor : Galih R Prasetyo