Mahasiswa Arsitektur UB Raih Juara Sayembara Nasional Lewat Desain Rumah Adaptif Banjir RUYU

A. Nugroho • Dipublikasikan Selasa, 19 Mei 2026 | 12:05 WIB
INOVATIF: Karya desain RUYU, konsep hunian adaptif yang dirancang untuk menjawab tantangan masyarakat di wilayah rawan banjir,
INOVATIF: Karya desain RUYU, konsep hunian adaptif yang dirancang untuk menjawab tantangan masyarakat di wilayah rawan banjir,

 

MALANG, RADAR MALANG – Mahasiswa Program Studi Sarjana Arsitektur, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB) meraih Juara I dalam Sayembara Wakaf Desain Arsitektur Rumah Pascabencana banjir Sumatra. Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Jawa Barat.


Tim pemenang terdiri atas Zhafif Iltsar Hasanudin, Abdel A’la Musyahidan Al Ambari, dan Kafi Rizal Fawwaz. Mereka berhasil memenangkan kompetisi melalui karya desain inovatif bertajuk RUYU, konsep hunian adaptif yang dirancang untuk menjawab tantangan masyarakat di wilayah rawan banjir, khususnya di Sumatra.

RUYU dirancang tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai ruang hidup yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan. Konsep tersebut mengusung filosofi hidup berdampingan dengan alam melalui pendekatan arsitektur yang responsif terhadap risiko bencana.

Dalam narasi desainnya, tim mengangkat fenomena banjir yang kerap mengancam ruang hidup dan keselamatan masyarakat. Berangkat dari kondisi tersebut, mereka menawarkan solusi hunian yang fleksibel, aman, dan berkelanjutan.

Konsep RUYU mengadopsi kearifan lokal rumah panggung Nusantara dengan menempatkan ruang utama keluarga di lantai atas. Sementara itu, area bawah bangunan dirancang terbuka agar aliran air dapat melewati bangunan tanpa mengganggu aktivitas utama penghuni. Pendekatan ini dinilai mampu mengurangi dampak banjir sekaligus meningkatkan keamanan saat debit air meningkat.

Selain itu, lantai bawah dirancang multifungsi dengan penggunaan perabot yang mudah dibongkar pasang dan dipindahkan. Konsep tersebut memungkinkan penghuni memindahkan barang-barang penting ke lantai atas ketika banjir terjadi. Ruang di lantai atas juga difungsikan sebagai area perlindungan sementara hingga kondisi kembali normal.

Tidak hanya mengedepankan aspek teknis bangunan, RUYU turut mengusung nilai kebersamaan dan gotong royong. Desain rumah ini memungkinkan pengembangan ruang secara bertahap sesuai kebutuhan keluarga, sehingga dapat beradaptasi terhadap perubahan jumlah penghuni di masa mendatang.

Prestasi tersebut sejalan dengan upaya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan melalui pengembangan hunian adaptif bencana, SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim melalui desain yang responsif terhadap risiko banjir, serta SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan desain arsitektur berkelanjutan berbasis kearifan lokal. [drn/aw]

Editor : A. Nugroho
ftub ruyu Banjir universitas brawijaya UB