MALANG, RADAR MALANG - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum refleksi bagi insan pendidikan, termasuk di lingkungan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya (FKG UB). Tidak hanya berbicara tentang capaian akademik, Hardiknas juga mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses panjang dalam membentuk karakter, kepedulian, dan ketangguhan generasi penerus bangsa.
Para pendidik diharapkan terus menghadirkan kasih sayang, keteladanan, serta dukungan yang mampu membentuk peserta didik menjadi pribadi yang berakhlak mulia.
Hal tersebut disampaikan oleh para dosen FKG UB. Mereka menyoroti pentingnya pendidikan yang humanis, inklusif, dan bermakna bagi mahasiswa.
Di antaranya seperti disampaikan Dr. drg. Yuanita Lely Rachmawati, M.Kes. Yuanita menyampaikan bahwa perjalanan menjadi dokter gigi bukan hanya tentang meraih gelar, melainkan sebuah proses transformasi diri.
Menurutnya, pendidikan dokter gigi menuntut keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan motorik yang presisi, sekaligus membentuk empati terhadap pasien. "Setiap proses belajar yang dijalani mahasiswa merupakan bentuk pengabdian paling awal bagi masyarakat," ujarnya.
Yuanita menambahkan, waktu yang dihabiskan untuk mempelajari teori maupun keterampilan klinis menjadi investasi penting demi keselamatan pasien di masa depan.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menghargai proses belajar, termasuk kegagalan dan tantangan yang dialami selama pendidikan, sebagai bagian dari pembentukan ketangguhan seorang dokter gigi.
“Pasien tidak hanya membutuhkan dokter yang pintar, tetapi juga dokter yang peduli,” ungkapnya dalam refleksi Hardiknas tahun ini.
Sejalan dengan itu, Dr. drg. Nur Masita Silvina, Sp.Ort berpendapat bahwa pentingnya kesehatan jiwa dalam dunia pendidikan.
Menurutnya, perguruan tinggi harus mampu menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi mahasiswa untuk bertumbuh dengan bahagia. Ia berharap mahasiswa dapat terus berkembang tanpa terbebani tuntutan untuk menjadi sempurna.
“Teruslah berjuang, bukan untuk sempurna, namun untuk terus bertumbuh dengan penuh makna,” ujarnya.
Nuansa reflektif Hardiknas juga disampaikan drg. Citra Insany Irgananda, M.Med.Ed bahwa semangat Hardiknas ada di dalam hati untuk mewujudkan lingkungan belajar yang tidak sekedar mengisi pikiran, tetapi juga menggerakkan emosi, membangun karakter, dan menanamkan nilai-nilai kebaikan. Kami yang tak segan menyebarkan kasih sayang dan keteladanan demi anak didik yang berakhlak mulia.
Selain aspek akademik, penguatan karakter dan soft skills juga menjadi perhatian penting.
drg. Sinta Candra Wardani, M. Biomed menyampaikan bahwa Hardiknas menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem akademik yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga kaya akan nilai dan karakter. Ia berharap kegiatan akademik dan non-akademik dapat berjalan selaras sehingga mahasiswa memiliki ruang tumbuh yang optimal.
“Semoga sinergi ini mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya mumpuni dalam hard skills, tetapi juga matang dalam soft skills, siap berkontribusi secara profesional dan bermakna di masyarakat,” tuturnya.
Pandangan serupa juga disampaikan Dr. drg. Ranny Rachmawati, Sp. Perio yang menilai Hari Pendidikan Nasional tetap relevan hingga saat ini karena dunia pendidikan Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Menurutnya, Hardiknas adalah momen untuk selalu mengingat tentang pentingnya pendidikan sebagai fondasi kehidupan.
"Bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi pengingat bahwa proses belajar adalah perjalanan sepanjang hayat," ungkapnya.
Sebagai penutup, drg. Feni Istikharoh, M. Biomed memberikan sebuah pantun singkat yang penuh makna. "Pergi ke kampus naik sepeda.
Singgah sebentar membeli buku. Pendidikan bukan soal siapa yang paling cerdas.
Tapi siapa yang terus mau belajar tanpa ragu," ujarnya.
Melalui peringatan Hardiknas ini seluruh sivitas akademika diharapkan dapat terus menjaga semangat belajar, beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta menghadirkan pendidikan yang lebih manusiawi dan berdampak bagi masyarakat luas. (*)
Editor : A. Nugroho