MALANG KOTA-RADAR MALANG - Penerima beasiswa pendidikan dari Pemkot Malang untuk jenjang SMA dan perguruan tinggi berpotensi menyusut. Penyebabnya, anggaran pada tahun 2026 mengalami pengurangan. Berdasar informasi digali wartawan koran ini, nominalnya menurun sampai Rp 1,8 miliar.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kota Malang Achmad Sholeh menyampaikan, alokasi anggaran beasiswa pada 2026 sebesar Rp 6,36 miliar. Sedangkan pada tahun sebelumnya, anggaran mencapai Rp 8,25 miliar.
”Beasiswa pendidikan yang berada naungan Bagian Kesra tahun 2026 total 551 penerima. Dengan perincian siswa SMA sederajat sebanyak 210 dan mahasiswa perguruan tinggi 341 penerima,” jelasnya. Sebagai perbandingan pada 2025, total penerima beasiswa mencapai 577 orang. Terdiri dari 305 mahasiswa dan 272 siswa SMA sederajat.
Penerima beasiswa jenjang SMA sederajat mendapatkan bantuan sebesar Rp 440 ribu per bulan. Sementara untuk mahasiswa, besaran beasiswa mencapai Rp 2 juta per bulan. ”Mekanisme pencairan dana dilakukan setiap tiga bulan sekali. Pencairan tahap pertama pada 2026 telah dilakukan minggu ketiga bulan Maret,” papar Soleh.
Pemkot Malang menerapkan pengawasan ketat untuk memastikan bantuan tersebut digunakan sesuai peruntukannya. Setiap penerima beasiswa diwajibkan menyerahkan Surat Pertanggungjawaban (SPJ). Sebagai syarat pencairan beasiswa pada tahap selanjutnya.
Pada laporan tersebut, penerima harus menjelaskan penggunaan dana beasiswa secara terperinci. Mulai dari pembayaran uang kuliah tunggal (UKT), pembelian perlengkapan sekolah, hingga biaya transportasi. ”Seluruh penggunaan dana harus dilengkapi bukti tertulis atau kuitansi,” tandas Soleh.
Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Malang Suryadi mengatakan, efisiensi anggaran berdampak cukup besar ke banyak sektor. Tak terkecuali di sektor pendidikan. Akibatnya, mempunyai efek terhadap anggaran beasiswa pendidikan dari Pemkot Malang.
Menurutnya, kondisi itu tak boleh membuat Pemkot Malang pasrah. Pemerintah daerah harus berusaha mencari alternatif lain. Satu tujuannya, supaya dampak dari pengurangan anggaran bisa ada solusinya.
”Misalnya, mengajak pelaku usaha untuk ikut memberikan beasiswa. Bisa dengan skema bapak atau ibu asuh,” tutur Suryadi. Dia melihat, beasiswa pendidikan merupakan hal yang penting. Ada banyak pelajar atau mahasiswa yang membutuhkannya. (adk/gp)
Editor : Galih R Prasetyo