MALANG KOTA, RADAR MALANG - Program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) 2026 di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya memasuki tahap akhir pengembangan. Memasuki Workshop 3 yang digelar di Auditorium Algoritma FILKOM UB, Senin (8/6), berbagai solusi berbasis kecerdasan artifisial (AI) yang dikembangkan mahasiswa untuk mendukung Sekolah Rakyat dan pemetaan bantuan sosial dilaporkan telah mencapai progres sekitar 75–80 persen dan ditargetkan siap didemonstrasikan pada akhir Juni mendatang.
Program AITF merupakan inisiatif Kementerian Komunikasi dan Digital melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Komdigi untuk mencetak talenta AI nasional. Tahun ini program melibatkan tiga perguruan tinggi, yakni Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Universitas Gadjah Mada.
Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital, Said Mirza Pahlevi, mengatakan bahwa perkembangan proyek yang dikerjakan peserta dari UB menunjukkan hasil yang positif. Salah satu fokus utama yang dikembangkan adalah sistem AI untuk Sekolah Rakyat yang dirancang mampu berinteraksi secara personal dengan siswa.
“Untuk use case Sekolah Rakyat, user interface-nya sudah sekitar 80 persen selesai dan ditargetkan pada akhir bulan ini dapat dilakukan demonstrasi aplikasi,” ujarnya.
Selain pengembangan sistem pembelajaran berbasis AI, peserta juga mengembangkan solusi pemetaan kemiskinan dan bantuan sosial yang ditujukan untuk membantu pemerintah meningkatkan akurasi data penerima bantuan. Menurut Said Mirza, tingkat kesiapan proyek tersebut juga telah mencapai sekitar 80 persen.
Ia menjelaskan bahwa AITF tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan teknis peserta, tetapi juga membangun ekosistem pendukung agar inovasi yang dihasilkan memiliki manfaat nyata. Peserta memperoleh dukungan infrastruktur, akses pembelajaran digital, hingga pendampingan dari para ahli di bidang AI.
“Output akhir program ini adalah minimum viable product (MVP) yang nantinya akan ditampilkan pada Demo Day sebagai bukti bahwa solusi yang dikembangkan sudah dapat digunakan,” katanya.
Sementara itu, Dekan FILKOM UB, Tri Astoto Kurniawan, menilai keterlibatan mahasiswa dalam program ini memberikan pengalaman yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas. Melalui AITF, mahasiswa ditantang untuk menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan instansi pemerintah.
“Mahasiswa mendapat kesempatan untuk menyelesaikan permasalahan nyata di lapangan dengan skala yang cukup menantang. Pengalaman ini menambah jam terbang dan kemampuan mereka dalam mengembangkan solusi berbasis teknologi,” ujarnya.
Menurut Tri Astoto, berbagai produk yang dikembangkan selama program berlangsung terus dievaluasi bersama pengguna agar solusi yang dihasilkan benar-benar sesuai kebutuhan. Hasil pengembangan tersebut juga akan terus dilanjutkan meskipun program AITF telah berakhir.
“Program ini hanya berlangsung selama empat bulan sehingga waktunya sangat terbatas. Karena itu, hasil-hasil yang sudah dicapai akan kami lanjutkan melalui kolaborasi secara berkelanjutan agar pengembangannya tetap berjalan dan memberikan manfaat yang lebih luas,” tambahnya.
Wakil Dekan Bidang Akademik FILKOM UB sekaligus Ketua Pelaksana AITF UB 2026, Sabriansyah Rizqika Akbar, menjelaskan bahwa Workshop 3 menjadi fase penting untuk mengevaluasi capaian peserta sebelum memasuki tahap akhir program.
“Workshop kali ini digunakan untuk melihat sejauh mana peserta mampu menyelesaikan studi kasus yang diberikan, memantau progres pengembangan kecerdasan buatan yang dibuat, sekaligus mengejar target-target yang masih tertinggal,” jelasnya.
Ia menyebut progres keseluruhan program saat ini telah mencapai sekitar 75 persen dan ditargetkan selesai pada 29–30 Juni 2026. Pada akhir program akan digelar Graduation Day yang menjadi ajang demonstrasi produk hasil pengembangan peserta.
Dalam AITF 2026, tim dari UB mengembangkan dua use case utama. Pertama, pengembangan sistem AI untuk mendukung pembelajaran di Sekolah Rakyat. Sebelumnya, tim AITF UB telah melakukan kunjungan dan validasi kebutuhan pengguna di Sekolah Rakyat Menengah Atas 22 Kota Malang. Dari hasil pendampingan tersebut, mahasiswa mengembangkan berbagai fitur seperti penyusunan materi pembelajaran, pembuatan soal, flash card, chatbot mentor pribadi, hingga sistem profiling siswa yang dapat membantu guru memantau perkembangan akademik maupun kondisi emosional siswa.
Use case kedua berfokus pada pemetaan kemiskinan dan bantuan sosial. Dalam pengembangannya, tim AITF UB berkolaborasi dengan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur untuk membangun sistem yang mampu meningkatkan akurasi data kemiskinan, memetakan prioritas penerima bantuan sosial, serta membantu proses pengambilan keputusan berbasis data.
Menurut Sabriansyah, solusi yang dikembangkan tidak diarahkan menjadi platform AI generatif umum seperti chatbot yang sudah tersedia saat ini. Sebaliknya, sistem tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan yang lebih spesifik dan kontekstual sesuai persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia.
Sejak dibuka pada Maret lalu, AITF mendapatkan antusiasme tinggi dari mahasiswa. Di FILKOM UB, lebih dari 120 mahasiswa mendaftar untuk mengikuti program tersebut, sementara sekitar 38 peserta berhasil lolos seleksi. Tingginya minat tersebut menunjukkan semakin besarnya ketertarikan generasi muda terhadap pengembangan teknologi AI yang tidak hanya inovatif, tetapi juga mampu memberikan dampak sosial bagi masyarakat.
Dengan progres yang telah mencapai 75–80 persen, Workshop 3 menjadi langkah penting sebelum para peserta menampilkan hasil akhir pengembangan mereka pada akhir Juni mendatang. Selain menjadi ajang pembuktian kemampuan teknis mahasiswa, program ini juga diharapkan menghasilkan solusi AI yang dapat mendukung sektor pendidikan dan kesejahteraan sosial secara lebih efektif. (akb)
Editor : Kholid Amrullah