Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Wali Murid Protes, Jalur Domisili SMA Negeri Dinilai Lebih Mirip Jalur Prestasi

Nahdiatul Affandiah • Jumat, 12 Juni 2026 | 19:35 WIB
Wali murid mendatangi Kantor Cabdin Kota Malang untuk konsultasi SPMB. (Darmono/Radar Malang)
Wali murid mendatangi Kantor Cabdin Kota Malang untuk konsultasi SPMB. (Darmono/Radar Malang)

MALANG KOTA, RADAR MALANG – Jalur domisili dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA Negeri di Kota Malang menuai keluhan dari sejumlah wali murid. Pasalnya, seleksi yang seharusnya mempertimbangkan kedekatan tempat tinggal dengan sekolah kini lebih banyak ditentukan oleh nilai akademik siswa.

Perubahan skema tersebut membuat persaingan masuk SMA negeri semakin ketat. Dari lima jalur penerimaan yang dibuka tahun ini, hampir seluruhnya menempatkan capaian akademik sebagai faktor utama penilaian, termasuk pada jalur domisili.

“Sejak tahap pertama jalur domisili dibuka, nilai para pendaftar tinggi-tinggi. Banyak yang akhirnya minder melihat persaingan yang ada,” ujar Lita, wali murid asal Kecamatan Lowokwaru.

Baca Juga: Hari Pertama SPMB SMA/SMK, Warga Keluhkan Nilai TKA Tak Muncul di Website

Nilai Akademik Jadi Faktor Pertama Seleksi

Pada jalur domisili tahun ini, sistem seleksi menggunakan komposisi 40 persen nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan 60 persen nilai rapor. Setelah itu, baru mempertimbangkan jarak rumah dengan sekolah tujuan.

Jika masih terdapat nilai yang sama, faktor usia menjadi penentu berikutnya. Pendaftar yang lebih tua akan mendapatkan prioritas dibanding peserta lain.

Kebijakan tersebut membuat sebagian wali murid menilai fungsi jalur domisili mengalami pergeseran. Sebab, kedekatan lokasi tempat tinggal tidak lagi menjadi pertimbangan utama dalam proses seleksi.

Baca Juga: Aturan KK SPMB Jenjang SMA/SMK Dikeluhkan, Siswa Diasuh Keluarga di Kota Malang Gagal Daftar Sekolah Negeri

Wali Murid Menilai Mirip Jalur Prestasi

Menurut Lita, apabila seleksi lebih banyak bertumpu pada capaian akademik, maka mekanismenya dinilai tidak jauh berbeda dengan jalur prestasi.

Dia berpendapat siswa dengan nilai akademik tinggi seharusnya bersaing lebih dahulu melalui jalur prestasi. Dengan demikian, jalur domisili dapat memberikan peluang lebih besar bagi siswa yang tinggal di sekitar sekolah namun memiliki nilai rata-rata.

“Kalau dari awal yang dilihat nilai, seharusnya pendaftar dengan nilai tinggi masuk jalur prestasi akademik. Jadi jalur domisili benar-benar mempertimbangkan kedekatan tempat tinggal,” katanya.

Menurutnya, sistem yang berlaku saat ini membuat banyak orang tua kesulitan memprediksi peluang anak mereka diterima di sekolah tujuan meski lokasi rumah relatif dekat.

Persaingan Masuk SMA Negeri Semakin Ketat

Penerapan formula baru dalam SPMB 2026 membuat persaingan masuk SMA Negeri di Kota Malang semakin kompetitif. Selain harus memenuhi syarat administrasi domisili, calon peserta didik juga dituntut memiliki nilai rapor dan TKA yang tinggi agar mampu bersaing.

Kondisi tersebut membuat sejumlah wali murid mulai aktif berkonsultasi ke Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Wilayah Kota Malang untuk memahami mekanisme seleksi yang diterapkan tahun ini.

Mereka berharap evaluasi dapat dilakukan pada pelaksanaan SPMB berikutnya agar tujuan awal jalur domisili sebagai akses pendidikan bagi warga sekitar sekolah tetap terjaga tanpa mengabaikan aspek pemerataan kesempatan belajar.

Editor : Aditya Novrian
#SPMB Kota Malang #Nilai TKA #jalur domisili SMA #SMA Negeri Kota Malang #pendaftaran SMA