MALANG KOTA, RADAR MALANG - Hasil Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur domisili jenjang SMP sudah diumumkan Jumat lalu (12/6). Hasilnya, dari 9.263 pendaftar, ada 2.939 pelajar yang diterima. Kini tersisa 4.421 kursi untuk masuk SMP negeri.
Selain SMP negeri, atau SMP swasta yang bisa menjadi opsi. Total ada 88 SMP swasta di Kota Malang. Dari total itu, sudah ada 13 SMP yang pagunya telah terpenuhi. ”Sekolah swasta yang pagunya belum terpenuhi masih lebih banyak, total ada 75 satuan pendidikan,” ujar Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta Rudiyanto.
Baca Juga: Hanya 22 Persen Lulusan SMP Tertampung di Sekolah Negeri, 31 Ribu Siswa Beralih ke Swasta
Total masih tersisa 5.000-an kursi di SMP swasta. Rudi menyebut bahwa SPMB tahun ini mencerminkan dinamika pilihan masyarakat yang cukup beragam. Ditambah karakteristik sekolah yang dituju makin beragam.
Di Kota Malang, banyak sekolah swasta menawarkan spesialisasi bidang yang cukup mendalam. Mulai dari program keagamaan, internasional, hingga keterampilan vokasi. Karena itu perlu pengelompokan data program unggulan masing-masing sekolah agar calon pendaftar leluasa memilih.
Rata-rata sekolah yang belum memenuhi pagu banyak mengambil sektor kewirausahaan sebagai spesialisasi. Ada juga yang fokus ke kurikulum internasional. Hingga pembelajaran berbasis agama seperti Tahfidz Quran.
Baca Juga: SPMB Jalur Domisili, Warga Banyak Keluhkan Problem Koordinat Rumah di Google Maps
SPP yang disediakan juga beragam. Beberapa sekolah memilih tak mematok biaya bulanan untuk sekolahnya. Beberapa sekolah lain mematok harga tinggi karena berkiblat kurikulum luar negeri.
Rata-rata SPP yang ditawarkan di harga Rp 300 ribu hingga Rp 600 ribu. Namun ada juga yang tidak mematok SPP. Ada juga yang mematok uang bulanan hingga Rp 14 juta. ”Keberagaman spesialisasi dan jenis layanan yang diberikan sekolah itu menandai pendidikan di Kota Malang cukup maju,” lanjut Rudi.
Sebab masyarakat memiliki banyak pilihan sekolah untuk anak bagi orang tua yang tak ingin menyekolahkan anaknya di sekolah negeri. Dengan persaingan ketat itu, ekosistem sekolah swasta tentu makin sehat karena seluruh pihak mengusahakan pertumbuhan masing-masing lembaga. (aff/by)
Editor : A. Nugroho