MALANG, RADAR MALANG – Banyak calon mahasiswa masih berfokus pada jurusan-jurusan populer seperti Kedokteran, Hukum, atau Teknik. Padahal, sejumlah program studi yang relatif sepi peminat justru menawarkan peluang karir yang luas dan kompetitif di dunia kerja.
Dilansir dari laman Universitas Airlangga (UNAIR), beberapa jurusan yang belum banyak dikenal masyarakat ternyata memiliki lulusan yang tersebar di berbagai sektor industri, pemerintahan, hingga kewirausahaan.
Peluang Karier Tak Kalah Menarik
Salah satu jurusan yang memiliki prospek cerah adalah Teknologi Hasil Perikanan (THP). Program studi ini mempelajari pengolahan hasil perikanan, keamanan pangan, hingga pengembangan produk pangan fungsional. Lulusannya dapat bekerja sebagai peneliti, akademisi, pegawai pemerintah, maupun pelaku usaha di bidang pangan.
Selain itu, Akuakultur juga menawarkan peluang kerja yang luas. Jurusan ini berfokus pada kesehatan ikan, lingkungan perairan, dan budidaya perikanan modern. Lulusannya banyak berkiprah di instansi pemerintah, perusahaan swasta, hingga sektor wirausaha perikanan.
Tidak Selalu Sesuai Stereotip
Banyak jurusan yang sering disalahpahami oleh calon mahasiswa. Misalnya Fisika yang kerap dianggap hanya berkaitan dengan dunia teknik. Di Unair, jurusan ini justru memiliki fokus pada bidang kesehatan dan sains terapan.
Lulusannya dapat bekerja sebagai fisikawan medis, analis data, tenaga pengolah data perusahaan, hingga profesional di sektor perbankan dan sumber daya manusia. Pemilihan jurusan sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan tingkat popularitas, tetapi juga prospek jangka panjang dan kesesuaian dengan minat mahasiswa.
Baca Juga: Wisudawan Terbaik UB Berinovasi dengan Pangan dan Teknologi Komputer
Persaingan Masuk Lebih Kompetitif
Selain peluang kerja yang menjanjikan, jurusan yang tidak terlalu populer umumnya memiliki tingkat persaingan masuk yang lebih rendah dibanding program studi favorit. Hal tersebut dapat menjadi alternatif bagi siswa yang ingin meningkatkan peluang diterima di perguruan tinggi tanpa harus mengorbankan prospek karier di masa depan.
Editor : Aditya Novrian