MALANG KOTA, RADAR MALANG – Pada bulan Juli nanti, 69 murid di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Kota Malang bakal naik ke kelas 11. Untuk persiapan kelas lanjutan itu, pihak sekolah sudah melaksanakan persiapan berupa penjurusan.
Penjurusan di sana berbeda dengan di SMA maupun SMK pada umumnya. ”Jadi tidak ada penjurusan IPA, IPS, atau bahasa. Para murid diminta memilih paket-paket materi pelajaran yang menjurus ke kuliah,” jelas Kepala SRMA 22 Kota Malang Rahmah Dwi Norwita Imtihana.
Sebagai contoh, ada murid yang berniat melanjutkan ke jurusan tata boga selepas dari SRMA. Maka, pada kelas 11 akan diberi materi-materi yang mendukung minat mereka.
Dari hasil pemetaan yang dilakukan, kebanyakan berminat melanjutkan pendidikan ke bidang yang berhubungan dengan humaniora, sosial, hingga ilmu komunikasi.
Tidak ada yang berminat ke saintek atau kedokteran. Di samping itu, pihaknya juga memfasilitasi jika ada anak-anak yang ingin melanjutkan ke jenjang BUMN, TNI, atau kepolisian.
”Saya juga kaget dengan hasil pemetaan. Ini masih saya laporkan ke kementerian,” imbuh Wita. Selain pemetaan minat, pihak sekolah juga terus melengkapi kebutuhan pembelajaran. Wita menyebut, pihaknya belum memiliki guru bahasa asing dan guru fisika.
Kebutuhan itu bakal dilaporkan ke kementerian. Sementara untuk fasilitas pembelajaran dinilai sudah lengkap. Namun di laboratorium masih harus dilengkapi wastafel hingga cerobong.
Untuk diketahui, jumlah pelajar di SRMA 22 Kota Malang juga menyusut sejak Juli 2025 lalu. Sekolah tersebut memiliki kapasitas untuk 75 murid. Namun, sampai sekarang yang aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar hanya 69 murid itu.
Wita mengatakan, sampai sekarang kursi murid yang kosong belum terisi. ”Sempat ada dua anak yang akan menjadi pengganti, tapi belum kami terima,” kata dia.
Pihak sekolah menilai dua anak yang akan menjadi pengganti itu masih bisa dibina di keluarga masing-masing. Selain itu, Wita khawatir jika dua anak itu kesulitan mengejar pembelajaran. Mengingat kegiatan belajar mengajar sudah berlangsung selama setahun. (mel/by)
Editor : Bayu Mulya Putra