Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Berawal dari Warung Bakso, Sekolah Alam Sobyor di Kota Batu Buktikan Pendidikan Bisa Hadir untuk Semua

Rori Dinanda Bestari • Kamis, 25 Juni 2026 | 17:45 WIB
Luhur Suseno (dua dari kanan) berpose dengan relawan dan pengajar di Sekolah Alam Sobyor, Dusun Kekep, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. (Rori Dinanda Bestari/Radar Malang)
Luhur Suseno (dua dari kanan) berpose dengan relawan dan pengajar di Sekolah Alam Sobyor, Dusun Kekep, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. (Rori Dinanda Bestari/Radar Malang)

RADAR MALANG - Sore mulai menyelimuti lereng Gunung Arjuna ketika suara gemericik air berpadu dengan aroma kuah bakso yang mengepul dari sebuah warung sederhana di Dusun Kekep, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Di tempat itulah puluhan anak berkumpul, bukan hanya untuk bermain, tetapi juga belajar. Warung bakso itu menjadi ruang lahirnya Sekolah Alam Sobyor, sebuah sekolah gratis yang tumbuh dari kepedulian terhadap pendidikan anak-anak desa.

Di antara hamparan kebun sayur yang mengelilingi bangunan sederhana tersebut, ruang belajar berdampingan dengan warung tanpa sekat. Tak ada ruang kelas megah maupun fasilitas modern. Alam menjadi dinding, sungai menjadi teman, dan kehidupan sehari-hari menjadi buku pelajaran.

Sekolah Alam Sobyor Berawal dari Pandemi Covid-19

Sekolah Alam Sobyor dirintis pada 2020, saat pandemi Covid-19 memaksa seluruh kegiatan belajar dilakukan secara daring. Kondisi itu menyisakan persoalan besar bagi anak-anak di Dusun Kekep yang kesulitan memahami pelajaran karena minim pendampingan.

Luhur Suseno bersama beberapa rekannya melihat persoalan tersebut secara langsung. Banyak orang tua mengeluhkan anak-anaknya yang mulai tertinggal pelajaran, padahal ujian sekolah semakin dekat.

"Kami menerima banyak keluhan. Banyak anak tidak memahami pelajaran, padahal sebentar lagi menghadapi ujian," ujar Luhur kepada Jawa Pos Radar Malang, Selasa (23/6).

Baca Juga: 1.200 Pelajar Diprediksi Tak Lolos SPMB SMA-SMK Negeri di Kota Malang

Mayoritas warga setempat bekerja sebagai buruh tani. Mengikuti les privat bukan pilihan karena biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Berangkat dari kondisi itu, Luhur memutuskan membuka bimbingan belajar gratis di warung bakso miliknya.

Awalnya, tempat itu hanya digunakan untuk membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah sekaligus menyediakan ruang bermain yang semakin sulit ditemukan akibat pesatnya pembangunan kawasan wisata di Kota Batu.

Meyakinkan Warga hingga Membangun Kepercayaan

Perjalanan Sobyor tidak langsung mulus. Bersama kader PKK, Luhur mendatangi rumah-rumah warga untuk memperkenalkan program tersebut. Perlahan, keraguan berubah menjadi kepercayaan.

Sebanyak 14 anak menjadi angkatan pertama.

Belakangan, ruang belajar itu diberi nama Sekolah Alam Sobyor. Nama "Sobyor" diambil dari salah satu permainan tradisional masyarakat setempat. Filosofinya sederhana, yakni mengajarkan sesuatu dari dasar hingga benar-benar dipahami, bukan sekadar dihafalkan.

Perkembangannya semakin terasa pada 2024 ketika sejumlah tenaga pendidik dengan latar belakang pendidikan formal bergabung. Kurikulum mulai disusun lebih sistematis tanpa meninggalkan konsep belajar yang dekat dengan alam.

Kini sekitar 30 hingga 40 siswa aktif belajar di Sobyor. Bahkan, sebagian di antaranya datang dari luar Kota Batu.

Belajar Langsung dari Alam dan Kehidupan

Berbeda dengan sekolah pada umumnya, Sobyor tidak menjadikan hafalan sebagai pusat pembelajaran. Alam justru menjadi ruang kelas utama.

Anak-anak diajak menanam, merawat tanaman, hingga memanen hasil kebun. Mereka belajar melalui pengalaman langsung sehingga lebih mudah memahami hubungan antara ilmu pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: DLH Kota Malang Segera Bersihkan RTH Kedungkandang dari Penjual Liar  

Namun, tantangan terbesar justru datang dari pola pikir sebagian masyarakat terhadap pendidikan.

Masih ada orang tua yang menganggap anak cukup bersekolah hingga jenjang sekolah dasar. Setelah itu, anak laki-laki diminta membantu bekerja di ladang, sedangkan anak perempuan dipersiapkan menikah pada usia muda.

Tidak sedikit siswa yang tiba-tiba berhenti belajar karena harus membantu orang tuanya mencari nafkah. Dalam kondisi seperti itu, para relawan rela mendatangi rumah mereka untuk membujuk agar anak-anak tetap melanjutkan pendidikan.

Warung Bakso Menjadi Penopang Sekolah Gratis

Selain persoalan sosial, tantangan lain adalah pembiayaan operasional.

Berbeda dengan banyak sekolah alam di kota besar yang mengenakan biaya jutaan rupiah, Sobyor memilih tetap membuka layanan belajar secara gratis.

Luhur mengaku sempat mempertimbangkan menarik iuran sukarela. Namun niat tersebut diurungkan karena memahami kondisi ekonomi mayoritas warga yang menggantungkan hidup sebagai buruh tani.

Baginya, nominal yang terlihat kecil bagi sebagian orang bisa menjadi beban bagi keluarga peserta didik.

Untuk menjaga kegiatan belajar tetap berjalan, sebagian keuntungan dari warung bakso miliknya disisihkan sebagai sumber pendanaan utama. Kekurangan biaya kemudian ditutup melalui donasi sukarela dari wali murid yang mampu dan iuran para relawan.

Enam tahun berselang, hasilnya mulai terlihat. Beberapa siswa angkatan pertama kini telah beranjak remaja. Mereka tidak meninggalkan Sobyor, melainkan kembali sebagai relawan muda yang mendampingi adik-adik belajar.

Di sebuah sudut Desa Tulungrejo, di antara warung bakso, aliran sungai, dan hamparan kebun sayur, Sekolah Alam Sobyor membuktikan bahwa pendidikan tidak selalu lahir dari gedung megah. Kadang, kesempatan belajar justru tumbuh dari semangkuk bakso, gotong royong, dan keyakinan bahwa setiap anak berhak memperoleh masa depan yang lebih baik.

Editor : Aditya Novrian
#Sekolah Alam Sobyor #sekolah gratis Kota Batu #pendidikan alternatif Batu #warung bakso #Sekolah alam