Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Demo AITF 2026, AI Karya Mahasiswa FILKOM UB Disiapkan Dukung 178 Sekolah Rakyat

Kholid Amrullah • Rabu, 1 Juli 2026 | 09:26 WIB
AITF 2026: Peserta, dosen, dan pimpinan berfoto bersama usai Graduation Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) 2026 di Auditorium Algoritma FILKOM UB.
AITF 2026: Peserta, dosen, dan pimpinan berfoto bersama usai Graduation Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) 2026 di Auditorium Algoritma FILKOM UB.

MALANG, RADAR MALANG - Rangkaian Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) 2026 resmi mencapai tahap akhir melalui Demo Use Case AITF 2026 yang digelar di Auditorium Algoritma Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB), Selasa (30/6). Pada tahap ini, mahasiswa mempresentasikan solusi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan untuk mendukung program Sekolah Rakyat serta pemetaan kemiskinan dan layanan sosial.

Program hasil kolaborasi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Kementerian Sosial, serta tiga perguruan tinggi, yakni Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM), tersebut menjadi puncak rangkaian pengembangan AI yang telah berlangsung selama empat bulan.

Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial, Dr. Robben Rico, mengatakan solusi AI yang dikembangkan mahasiswa tidak hanya menjadi proyek akademik, tetapi diproyeksikan mendukung proses pembelajaran di Sekolah Rakyat.

Menurutnya, sistem tersebut mampu membantu guru dalam menyusun kurikulum, merancang proses pembelajaran, hingga membuat pre-test dan post-test secara lebih efektif.

"Artinya teknologi ini dapat memudahkan kerja kepala sekolah, tenaga kependidikan, dan guru dalam menyiapkan proses belajar mengajar dengan lebih baik," ujarnya.

Robben menjelaskan, program tersebut direncanakan diterapkan pada 178 Sekolah Rakyat yang akan beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027 sebagai bagian dari program prioritas pemerintah.

GRADUASI: Mahasiswa menerima sertifikat kelulusan pada Graduation Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) 2026.
GRADUASI: Mahasiswa menerima sertifikat kelulusan pada Graduation Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) 2026.

Dalam implementasinya, mahasiswa bersama dosen pembimbing akan mendampingi sekitar 3.000 guru dan 5.000 tenaga kependidikan dengan pengawasan dari Komdigi.

"Kami berkomitmen untuk memastikan mahasiswa dan dosen pembimbing akan mendampingi guru dan tenaga kependidikan secara langsung," tambahnya.

Ia menambahkan, mahasiswa nantinya akan ditempatkan di 178 lokasi Sekolah Rakyat untuk memastikan aplikasi dapat dimanfaatkan secara optimal. Program tersebut ditargetkan mulai diimplementasikan pada akhir tahun ini.

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan SDM Komunikasi dan Digital Komdigi, Bonifasius Wahyu Pudjianto, menjelaskan bahwa setiap perguruan tinggi dalam AITF mengembangkan solusi AI sesuai kebutuhan masing-masing.

"Masing-masing universitas memiliki case yang harus diselesaikan. Universitas Brawijaya sendiri berfokus pada Sekolah Rakyat," katanya.

Menurut Bonifasius, pengalaman mengembangkan solusi AI berbasis kebutuhan nyata menjadi bekal penting bagi mahasiswa saat memasuki dunia kerja.

"AITF menjadi modal dasar bagi mahasiswa agar memiliki kompetensi yang lebih siap menghadapi kebutuhan dunia kerja di masa depan," ujarnya.

KETERANGAN: Sejumlah pejabat memberikan keterangan kepada awak media usai Demo Day dan Graduation AITF 2026 di Auditorium Algoritma FILKOM UB.
KETERANGAN: Sejumlah pejabat memberikan keterangan kepada awak media usai Demo Day dan Graduation AITF 2026 di Auditorium Algoritma FILKOM UB.

Dekan FILKOM UB, Ir. Tri Astoto Kurniawan, menyampaikan bahwa AITF menjadi media pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan riil yang dihadapi pemerintah.

Pada AITF 2026, mahasiswa FILKOM UB mengembangkan dua use case utama, yakni sistem AI untuk Sekolah Rakyat dan sistem pemetaan bantuan sosial serta kategori kemiskinan.

"Mahasiswa menghadapi real case yang cukup kompleks. Untuk Sekolah Rakyat saja ada enam tim yang harus berkolaborasi menyelesaikan satu proyek, sedangkan untuk pemetaan kemiskinan ada empat tim. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi mereka," ujarnya.

Menurut Tri Astoto, selain meningkatkan kemampuan teknis dalam pengembangan AI, program tersebut juga mengasah kemampuan bekerja sama, komunikasi, dan penyelesaian masalah yang dibutuhkan di dunia profesional.

"Kami bangga mahasiswa mampu menyelesaikan proyek ini di bawah tekanan waktu yang ketat. Mereka tidak hanya mengembangkan hard skill, tetapi juga soft skill seperti kolaborasi, saling berbagi, dan saling mendukung," pungkasnya. (akb)

Editor : Kholid Amrullah
##AITF 2026 ##FILKOM UB ##Artificial Intelligence ##Sekolah Rakyat ##Kementerian Sosial