MALANG KOTA, RADAR MALANG – Krisis murid mulai menghantui sejumlah sekolah dasar negeri di Kota Malang. Selama lima tahun terakhir, SDN Tulusrejo 4 tak pernah mampu memperoleh lebih dari 10 siswa baru. Tahun ajaran 2026/2027 bahkan menjadi yang paling berat setelah sekolah itu hanya menerima enam pendaftar hingga proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) berlangsung.
Kondisi tersebut membuat jumlah siswa terus menyusut dari tahun ke tahun. Padahal, pada saat yang sama sekolah tetap harus memenuhi kebutuhan operasional dengan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang besarannya bergantung pada jumlah peserta didik. Jika tren itu berlanjut, sekolah diperkirakan hanya memiliki 36 siswa pada 2027.
Penurunan Anak Usia Sekolah Jadi Penyebab Utama
Kepala SDN Tulusrejo 4 Purnomo Sigit mengatakan persoalan utama bukan lagi persaingan antar sekolah, melainkan semakin sedikitnya anak usia sekolah dasar di lingkungan sekitar.
"Tahun ini sudah kelima kalinya kami tidak bisa dapat siswa di atas 10 orang," ujarnya.
Awalnya sekolah berharap 16 siswa yang lulus tahun ini dapat tergantikan oleh jumlah murid baru yang setara. Namun hingga SPMB berjalan, baru enam anak yang resmi mendaftar.
Bangunan sekolah yang memiliki enam ruang kelas itu kini terasa semakin lengang. Setiap rombongan belajar hanya diisi sekitar lima hingga enam siswa. Harapan sekolah kini bergantung pada pendaftaran luring yang masih dibuka.
Baca Juga: Persaingan Nilai di SPMB SMK Jalur Prestasi Akademik Tak Terlalu Ketat
"Kami tidak lagi mempermasalahkan nilai ataupun domisili. Siapa pun yang mendaftar akan kami terima," katanya.
Untuk mengetahui penyebabnya, Sigit bahkan menelusuri kondisi kependudukan di sekitar sekolah. Ia rutin menghadiri pertemuan RT maupun RW hingga berdialog langsung dengan warga.
Hasilnya, sekitar 80 persen rumah di sekitar sekolah kini dihuni warga lanjut usia. Sementara sebagian besar keluarga muda memiliki anak yang sudah duduk di bangku SMP hingga SMA. Anak usia taman kanak-kanak semakin sulit ditemukan.
Situasi tersebut diperparah dengan keberadaan sekolah lain yang letaknya sangat berdekatan. Bahkan terdapat SD negeri lain yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari SDN Tulusrejo 4.
Menurut Sigit, kondisi itu menjadi tantangan tersendiri ketika mayoritas kuota penerimaan siswa masih melalui jalur domisili. Di sisi lain, angka kelahiran di kawasan tersebut terus mengalami penurunan. Bahkan salah satu taman kanak-kanak swasta di sekitar sekolah telah lebih dulu tutup karena tidak lagi memperoleh murid.
Dana BOS Ikut Menyusut
Penurunan jumlah siswa tidak hanya berdampak pada aktivitas belajar, tetapi juga kondisi keuangan sekolah.
Sigit memperkirakan jika jumlah siswa hanya tersisa 36 orang pada tahun depan, BOS reguler yang diterima sekolah hanya sekitar Rp 32,4 juta dalam setahun.
Dana tersebut harus mencukupi berbagai kebutuhan operasional, mulai pembayaran listrik, air, pemeliharaan fasilitas hingga kebutuhan pembelajaran.
"Untuk anggaran tahun ini sudah aman. Tahun 2027 yang cukup dikhawatirkan karena terpangkasnya sangat besar," katanya.
Baca Juga: Kouta SPMB Jalur Prestasi Non Akademik 741 kursi
Sekolah juga masih memiliki kewajiban membayar guru tidak tetap yang mengajar kelas I. Sesuai ketentuan, honor guru hanya boleh diambil maksimal 20 persen dari BOS reguler. Di luar itu, sekolah masih harus membiayai pembina ekstrakurikuler Pramuka, hoki, Bahasa Arab, hingga guru agama Kristen.
Inovasi Dilakukan demi Menarik Murid Baru
Menghadapi kondisi tersebut, sekolah mulai melakukan berbagai inovasi agar tetap diminati masyarakat.
Salah satunya dengan memperkuat pendidikan karakter melalui kegiatan mengaji setelah jam sekolah. Selain itu, nilai-nilai keagamaan juga lebih banyak diintegrasikan dalam proses pembelajaran.
Di bidang prestasi, SDN Tulusrejo 4 juga terus mempertahankan identitasnya sebagai sekolah unggulan cabang olahraga hoki. Pekan lalu, tim hoki sekolah tersebut kembali meraih juara pertama dalam UNESA Manor Hockey Championship 2026.
Namun menurut Sigit, prestasi saja belum cukup untuk mengatasi persoalan utama.
"Kalau memang anak kecilnya yang langka, tetap sulit mendapat siswa," ujarnya.
Fenomena serupa juga dialami SDN Kiduldalem 1. Hingga pendaftaran daring dan luring berlangsung, sekolah itu baru memperoleh tujuh siswa baru, turun dibanding tahun lalu yang mencapai 15 siswa.
Baca Juga: Diumumkan Hari Ini, 856 Pelajar Daftar SPMB SMA Jalur Prestasi Akademik
Kepala SDN Kiduldalem 1 Frida Yossi mengatakan berkurangnya keluarga muda di sekitar sekolah menjadi salah satu penyebab utama.
"Di sekitar sekolah kami sudah jarang penduduk usia produktifnya," katanya.
Frida masih berharap pendaftaran luring dapat menambah jumlah peserta didik. Namun ia menilai persoalan yang dihadapi sekolah negeri saat ini bukan sekadar persaingan antarsekolah, melainkan perubahan demografi yang membuat jumlah anak usia sekolah dasar di Kota Malang terus menyusut.
Editor : Aditya Novrian