Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pagu di 18 SD Negeri Belum Terpenuhi, Banyak Terjadi di Sekolah Pusat Kota Malang

Andika Satria Perdana • Rabu, 8 Juli 2026 | 14:02 WIB
JELANG TAHUN AJARAN BARU: Sejumlah wali murid mendatangi Kantor Disdikbud Kota Malang untuk berkonsultasi. (Darmono/Radar Malang)
JELANG TAHUN AJARAN BARU: Sejumlah wali murid mendatangi Kantor Disdikbud Kota Malang untuk berkonsultasi. (Darmono/Radar Malang)

MALANG KOTA, RADAR MALANG - Tidak semua SD negeri di Kota Malang bisa memenuhi pagu siswa baru. Berdasar data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, sampai sepekan jelang tahun ajaran baru 2026/2027, total ada 18 sekolah yang pagunya belum terpenuhi. 

Ada beberapa sekolah yang siswa barunya tidak sampai 10 orang. Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Muflikh Adhim memastikan kekurangan siswa tidak terlalu ekstrem. Seperti sekolah hanya menerima dua atau tiga murid saja. 

Paling sedikit, dia menyebut ada sekolah yang baru mendapat lima siswa. ”Normalnya satu kelas maksimal berisi 28 siswa,” jelas dia. Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, sekolah yang siswanya minim seperti SDN Bareng 4 dan SDN Kiduldalem. 

Berikutnya ada SDN Jatimulyo 5 dan SDN Tunjungsekar 4. Sampai kemarin, dua sekolah itu baru mendapat kurang dari 10 siswa baru. Sekolah-sekolah lainnya yang kekurangan siswa kebanyakan baru menerima tujuh hingga sembilan pelajar. 

Dengan minimnya jumlah siswa di beberapa sekolah, Adhim menyebut bahwa merger atau penggabungan beberapa sekolah bisa menjadi salah satu opsi. Namun untuk mengambil langkah itu, Disdikbud Kota Malang perlu melakukan analisis terlebih dahulu.

Dia menyampaikan, opsi itu sebenarnya telah muncul dalam beberapa tahun terakhir. Sebab fenomena itu tidak hanya terjadi tahun 2026 saja. ”Masih jadi opsi, tetapi belum ada keputusan. Kami perlu analisis dulu,” tambah dia.

Menurut Adhim, sekolah yang kekurangan murid saat ini justru banyak ditemukan di tengah kota. Dia menyebut perubahan kawasan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi fenomena tersebut. Pertumbuhan penduduk di pusat kota tidak secepat dulu karena lahan untuk hunian baru makin terbatas. 

Di sisi lain, penambahan penduduk semakin tinggi di wilayah pinggiran. Itu diiringi dengan munculnya banyak perumahan baru. Untuk mengatasi persoalan kekurangan murid, disdikbud membuka peluang pengisian sisa pagu setelah proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) daring dinyatakan tuntas. 

Berdasar ketentuan, sekolah yang masih memiliki kekurangan kuota dapat menerima pendaftaran secara luring atau offline. Peluang itu dapat dimanfaatkan oleh calon siswa dari luar Kota Malang. ”Kalau Kota Malang tidak ada, dari kabupaten bisa masuk. Kami masih mengevaluasi, karena banyak peminat dari luar Kota Malang,” jelasnya. 

Disinggung terkait dampak kekurangan murid terhadap beban kerja guru, Adhim memastikan kondisi tersebut tidak menjadi persoalan selama guru masih memenuhi beban mengajar 24 jam pelajaran. Menurut dia, jumlah jam mengajar umumnya berkaitan dengan pemenuhan persyaratan sertifikasi. (adk/by)

Editor : Bayu Mulya Putra
#merger SD Kota Malang #SPMB SD Kota Malang #SPMB SD Negeri Kota Malang #SD negeri kekurangan pagu #Pagu SD Negeri di Kota Malang