MALANG, RADAR MALANG – Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) kembali memperkuat komitmennya dalam menyiapkan lulusan yang kompetitif melalui program subsidi sertifikasi kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Inisiatif ini menjadi salah satu strategi FIA UB dalam meningkatkan kesiapan kerja mahasiswa sekaligus memperluas akses terhadap sertifikasi profesi yang diakui secara nasional.
Program tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa Program Studi Administrasi Publik dan Administrasi Bisnis untuk mengikuti workshop, pelatihan, pendampingan, hingga asesmen kompetensi langsung. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh ratusan mahasiswa FIA UB, mengingat pelaksanaan dilaksanakan langsung di fakultas. Dengan didahului oleh pemaparan pentingnya kompetensi profesi di luar kurikulum Program Studi, mahasiswa menjadi termotivasi dan terbuka wawasan bahwa orientasi profesi sejak masa kuliah adalah sangat penting.
Pada sambutannya, Wakil Dekan III FIA UB, Dr. Moh. Said, S.Sos., M.AP, menjelaskan bahwa dukungan pembiayaan ini merupakan bentuk investasi fakultas dalam meningkatkan kualitas lulusan di luar pembelajaran reguler yang diperoleh selama perkuliahan.
“FIA UB menyelenggarakan uji kompetensi profesi sebagai bekal tambahan yang sangat penting dan menambah nilai dan portofolio bagi mahasiswa. Program ini tidak termasuk komponen dalam pembiayaan UKT, tetapi menjadi langkah strategis untuk memperkuat kualitas lulusan sehingga memiliki kesiapan yang lebih baik memasuki dunia kerja dan berpeluang memperoleh pekerjaan dalam waktu kurang dari 12 bulan setelah lulus,” ujarnya.
Sementara Direktur Utama PT Indonesia Emas Empatlima sekaligus Asesor Kompetensi BNSP RI, Moch Agus Surosyid, M.T., NLSQ., C.IM, dalam pemaparannya, menyampaikan bahwa dunia industri saat ini membutuhkan talenta yang siap bekerja dan memiliki kompetensi yang terukur.
“Perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang siap kerja. Saat ini ijazah saja belum cukup, sehingga sertifikasi kompetensi menjadi bukti kemampuan yang memudahkan industri mengenali kapasitas lulusan,” jelasnya.
Melalui program yang difasilitasi FIA UB, mahasiswa tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga memperoleh pendampingan intensif dari instruktur kompetensi. Pendampingan dilakukan mulai dari pengenalan skema sertifikasi, pembahasan kisi-kisi asesmen, simulasi praktik, hingga penyelesaian tugas yang harus dipersiapkan sebelum uji kompetensi dilaksanakan.
Peserta yang menyelesaikan rangkaian kegiatan akan memperoleh sertifikat pelatihan dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) sebagai pengakuan atas proses pembelajaran yang telah diikuti. Selanjutnya, peserta berkesempatan melanjutkan proses asesmen untuk memperoleh sertifikat kompetensi BNSP yang memiliki pengakuan nasional dan dapat menjadi dokumen pendukung dalam memasuki dunia kerja.
Kebijakan subsidi sertifikasi ini menunjukkan langkah konkret FIA UB dalam menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang, terutama pada era transisi menuju Industri 5.0 yang menuntut kolaborasi manusia dan teknologi, kreativitas, inovasi, serta kemampuan adaptasi yang tinggi.
Akses terhadap sertifikasi profesi dengan biaya yang lebih terjangkau membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa untuk membangun portofolio kompetensi sebelum lulus. Pendekatan tersebut memperkuat posisi FIA UB sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga menyiapkan lulusan dengan kompetensi profesional yang relevan, terdokumentasi, dan siap bersaing di pasar kerja nasional maupun global.
Upaya ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth). Bagi mahasiswa FIA UB, program ini menjadi peluang nyata untuk memperkuat kompetensi, menambah kepercayaan diri, dan mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang. (*)
Editor : A. Nugroho