Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Karya IoT Mahasiswa Vokasi UB Tampil di Forum Nasional BOPM

Indah Mei Yunita • Senin, 13 Juli 2026 | 06:32 WIB
Dua mahasiswa Fakultas Vokasi UB menunjukkan Inovasi Monitoring Retort yang dipamerkan dalam forum nasional BPOM beberapa waktu lalu. (Humas Fakultas Vokasi for Radar Malang)
Dua mahasiswa Fakultas Vokasi UB menunjukkan Inovasi Monitoring Retort yang dipamerkan dalam forum nasional BPOM beberapa waktu lalu. (Humas Fakultas Vokasi for Radar Malang)

KEPANJEN, RADAR MALANG – Inovasi mahasiswa Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) mendapat panggung di tingkat nasional. Sistem monitoring mesin retort berbasis Internet of Things (IoT) yang dikembangkan dua mahasiswa D3 Teknologi Informasi (TI) UB dipamerkan dalam Forum Koordinasi Nasional Pangan Steril Komersial 2026 yang diselenggarakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI bersama Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) di Jakarta, 30 Juni lalu.

Dua mahasiswa tersebut adalah Adimus Ricky Faisal Sahri dan Aditya Dwi Hardiansyah. Selama menjalani program magang di CV Indah Jaya Teknik (Indahmesin), keduanya terlibat dalam pengembangan sistem monitoring mesin retort yang sebelumnya masih menggunakan pencatatan data secara lokal.

Melalui inovasi tersebut, sistem perekaman suhu sterilisasi berhasil didigitalisasi sehingga dapat dipantau secara lebih efisien. Pengembangan itu juga menjadi solusi atas keterbatasan sistem lama yang hanya bergantung pada satu perangkat komputer di pabrik.

Adimus menjelaskan, salah satu tantangan yang mereka temui saat uji coba di lapangan adalah perbedaan antara tampilan data secara langsung (live) dengan data yang tersimpan. Menurut dia, kualitas jaringan internet dapat memengaruhi kecepatan pengiriman data ke dashboard.

“Awalnya kami fokus membuat suhu tampil real time di dashboard. Setelah uji di plant, kami memahami bahwa yang paling penting bukan tampilan di layar, melainkan urutan waktu dan suhu yang tersimpan. RTC membuat data tetap presisi meski paket MQTT terlambat terkirim karena koneksi internet menurun,” ujarnya.

Sementara itu, Aditya mengatakan sistem dirancang agar tetap mampu menyimpan antrean data ketika jaringan terputus. Setelah koneksi kembali normal, seluruh data akan dikirim sesuai urutan waktu pencatatan.

“Kami merancang background service sehingga data tetap mengantre dan dikirim begitu koneksi kembali tanpa mengubah urutan waktu karena stamping dilakukan langsung di perangkat,” katanya.

Sistem IoT tersebut telah terintegrasi dengan panel kontrol industri dan unit retort berbahan stainless steel SUS304. Teknologi itu juga mendapat apresiasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) karena dinilai berpotensi mendukung kebutuhan logger kit bagi industri pangan dalam memenuhi Program Manajemen Risiko (PMR) BPOM.

Dosen Pembimbing Magang Fakultas Vokasi UB Rachmad Andri Atmoko SST MT mengatakan, pengalaman tersebut memberi mahasiswa kesempatan menerapkan ilmu secara langsung di lingkungan industri.

“Mahasiswa tidak hanya melakukan deploy aplikasi, tetapi juga belajar mengenai protokol industri, embedded timing, dan trade-off desain sistem di lingkungan produksi nyata,” pungkasnya. (yun/adn)

 

 

 

Editor : Aditya Novrian
#Vokasi #IoT #mahasiswa #UB #inovasi