MALANG KOTA, RADAR MALANG - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dimulai serentak, kemarin (13/7). Tahun ini pengenalan sekolah fokus pada tiga aspek ramah. Yaitu ramah anak, ramah lingkungan, dan ramah biaya. Itu sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 12 Tahun 2026 tentang Pelaksanaan MPLS. Rangkaian kegiatan pengenalan sekolah selama lima hari itu diresmikan langsung oleh tiga Menteri.
Yakni Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, Menteri Koor dinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi.
Baca Juga: MPLS Sebagai Bekal Agar Siswa Baru Cepat Beradaptasi
Ketiganya hadir di Gedung Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang, di Jalan Teluk Mandar, Blimbing. Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa juga hadir.
Ada empat misi yang di usung dalam MPLS di tiap sekolah. Yaitu budaya Aman, Sehat, Rapi, dan Indah (ASRI). Tentu tujuan utamanya menjadikan sekolah yang memiliki budaya aman dan nyaman bagi seluruh siswa. ”Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, kami butuh sinergi dari guru, orang tua, dan siswa untuk menciptakan lingkungan sekolah yang memiliki aspek sosial, intelektual, dan spiritual kuat,” ujar Mendikdasmen RI Abdul Mu’ti kepada awak media.
Mu’ti menyoroti latar belakang dan keadaan tiap siswa yang berbeda. Celah itu bisa menjadi bumerang bagi guru dan orang tua apabila tidak diarahkan dengan baik. Karena itu, sekolah harus bisa menghadirkan meeting point bagi siswa melalui wawasan, karakter, dan semangat tinggi untuk saling menghormati.
Baca Juga: MPLS Bukan Ajang Perpeloncoan, Ini Tujuan dan Kegiatan yang Perlu Diketahui Siswa Baru
Penekanan MPLS tahun ini harus bersih dari kekerasan. Mu’ti menegaskan segala bentuk perpeloncoan dan pendisiplinan dengan dalih senioritas harus ditiadakan. ”Jadi kami minta semua MPLS di desain humanis, inklusif, dan partisipatif,” lanjut Mu’ti.
Senada dengan Mendikdamen, Menko PMK Pratikno juga menuturkan tiap sekolah harus menjamin ruang aman dan nyaman bagi anak-anak. Sebab ketika anak mengalami kekerasan, dampaknya bakal bertahan untuk jangka waktu lama. Terutama untuk tumbuh kembang anak.
”Selain memastikan anak nyaman dan aman, kesehatan mental mereka juga harus diperhatikan,” ujar Pratikno. Menurut dia, tidak ada guna anak di didik hingga pintar kalau kesehatan mentalnya terganggu.
Lebih lanjut Menteri PPPA Ari fatul Choiri Fauzi menambahkan, dewasa ini masih banyak siswa yang terancam. Baik dari kekerasan fisik maupun kekerasan seksual. Seringkali kekerasan itu datang dari ruang yang seharusnya memberi korban rasa aman dan nyaman.
”Kami amati 71 persen kekerasan yang terjadi pada anak berasal dari orang terdekat,” ujar Arifa. Seperti dalam lingkup rumah tangga atau sekolah. Untuk itu pemerintah sudah menghadirkan berbagai regulasi yang mendukung, namun im plementasinya harus dibarengi peran keluarga, satuan pendidikan, dan seluruh masyarakat Indonesia. (aff/by)
Editor : A. Nugroho