JOGJAKARTA, RADAR MALANG — Setiap perjalanan selalu menyimpan cerita. Ada perjalanan yang hanya membawa kita berpindah tempat, tetapi ada pula perjalanan yang mengubah cara pandang terhadap kehidupan. Rihlah kelas IX SMP Muhammadiyah 1 Kota Malang menuju Kampung Kauman, Jogjakarta, menjadi salah satu perjalanan yang termasuk dalam kategori kedua.
Perjalanan itu bukan sekadar wisata edukasi, melainkan upaya menghadirkan pelajaran Kemuhammadiyahan dalam bentuk yang nyata, hidup, dan menyentuh hati.
Selama ini para siswa mengenal KH Ahmad Dahlan melalui buku pelajaran. Mereka mengetahui tahun berdirinya Muhammadiyah, memahami gagasan pembaruannya, hingga mengenal kiprah Nyai Ahmad Dahlan sebagai pelopor gerakan perempuan. Namun, sejarah akan terasa berbeda ketika disaksikan langsung dari tempat kelahirannya. Karena itu, Kampung Kauman dipilih sebagai tujuan napak tilas agar para siswa tidak hanya memahami sejarah secara akademis, tetapi juga merasakan denyut perjuangan yang pernah tumbuh di sana.
Setibanya di Kauman, langkah pertama kami menuju Masjid Gedhe Kauman. Masjid yang berdiri sejak 1773 itu bukan hanya bangunan bersejarah, tetapi juga menjadi saksi lahirnya berbagai gagasan pembaruan Islam. Di tempat inilah para siswa mendengarkan kisah tentang perjalanan dakwah KH Ahmad Dahlan dari para abdi dalem yang masih menjaga tradisi dan sejarah kawasan tersebut.
Arsitektur masjid yang sederhana tetapi sarat filosofi menghadirkan pelajaran tersendiri. Atap limasan bertingkat, serambi yang terbuka, hingga ornamen berbentuk buah nanas di puncak bangunan menjadi simbol hubungan antarmanusia. Filosofi tersebut mengingatkan bahwa masjid sejak dahulu bukan hanya menjadi tempat ibadah, melainkan pusat pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, hingga pemberdayaan masyarakat.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Kawedanan Pengulon yang berada di sisi Masjid Gedhe. Tempat itu dahulu menjadi pusat urusan keagamaan Kesultanan Jogjakarta. Di sanalah pernah terjadi perdebatan panjang mengenai arah kiblat yang dipelopori KH Ahmad Dahlan. Gagasan pembaruan yang dibawanya sempat mendapat penolakan keras, bahkan langgar miliknya dirusak dan beliau dicap sebagai "Kiai Kafir".
Kisah tersebut menjadi pelajaran berharga bahwa perubahan besar hampir selalu lahir dari keberanian menghadapi penolakan.
Menyusuri lorong-lorong Kampung Kauman menghadirkan suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Gang-gang sempit yang teduh, rumah-rumah tua yang masih terawat, dan kehidupan masyarakat yang berjalan sederhana seolah menjadi ruang yang menyimpan jejak sejarah panjang Muhammadiyah. Di balik kesederhanaan itulah lahir gerakan pembaruan Islam yang kini berkembang hingga berbagai penjuru dunia.
Perjalanan membawa kami menuju Kelompok Bermain 'Aisyiyah Ainun Jariyah yang dahulu merupakan Pesantren 'Aisyiyah. Bangunan sederhana tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan selalu menjadi jantung gerakan Muhammadiyah. Dari tempat itu pula lahir semangat mencerdaskan generasi sejak usia dini, sebuah ikhtiar yang hingga kini tetap dijaga oleh warga Persyarikatan.
Tak jauh dari sana berdiri Musala 'Aisyiyah Kauman yang menjadi salah satu simbol penting perjuangan perempuan Muhammadiyah. Musala itu menjadi ruang belajar, berdiskusi, dan beribadah bagi perempuan pada masa ketika kesempatan memperoleh pendidikan masih sangat terbatas. Dari tempat sederhana tersebut, Nyai Ahmad Dahlan menanamkan gagasan bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Nama Nyai Ahmad Dahlan atau Siti Walidah memang tak bisa dipisahkan dari perjalanan Muhammadiyah. Beliau bukan sekadar pendamping KH Ahmad Dahlan, melainkan tokoh besar yang melahirkan gerakan 'Aisyiyah dan memperjuangkan pendidikan perempuan jauh sebelum isu kesetaraan menjadi pembicaraan luas. Kami pun menyempatkan diri berziarah ke makam beliau. Di hadapan pusara yang sederhana itu, para siswa belajar bahwa kebesaran seseorang tidak selalu diukur dari kemegahan, melainkan dari manfaat yang diwariskannya bagi umat.
Perjalanan dilanjutkan menuju Langgar Kidul Ahmad Dahlan. Bangunan sederhana itu menjadi tempat lahirnya banyak gagasan besar yang kemudian mengubah wajah pendidikan Islam di Indonesia. Dari langgar inilah KH Ahmad Dahlan mengajarkan pentingnya kembali kepada Alquran dan Assunnah, membangun pendidikan yang mencerahkan, serta mengedepankan dialog dalam menghadapi perbedaan.
Di tempat itu pula kami mendengar kembali pesan yang begitu akrab di telinga warga Muhammadiyah, tetapi selalu terasa baru setiap kali diucapkan, "Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah." Kalimat singkat tersebut menjadi pengingat bahwa Muhammadiyah dibangun sebagai gerakan pengabdian, bukan alat mencari kepentingan pribadi. Nilai itulah yang relevan ditanamkan kepada generasi muda di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Yang paling membahagiakan selama perjalanan ini bukan hanya bertambahnya pengetahuan siswa, tetapi perubahan cara mereka memandang sejarah. Mereka mulai aktif bertanya, berdiskusi, bahkan mengaitkan kisah perjuangan KH Ahmad Dahlan dengan kehidupan mereka saat ini. Pelajaran Kemuhammadiyahan yang selama ini diperoleh di ruang kelas seolah berubah menjadi pengalaman yang nyata dan membekas.
Sebagai pendidik, kami menyadari bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui teori. Anak-anak membutuhkan pengalaman langsung agar mampu memahami makna sebuah perjuangan. Menyentuh tempat-tempat bersejarah, mendengar kisah dari para pelaku sejarah, hingga merasakan atmosfer perjuangan menjadi proses pembelajaran yang jauh lebih mendalam daripada sekadar membaca buku.
Menjelang Maghrib, kami kembali ke Masjid Gedhe Kauman untuk menunaikan salat berjamaah. Di tengah suasana yang tenang, terselip rasa syukur karena diberi kesempatan menapaktilasi jejak para pendahulu Muhammadiyah. Kami pulang bukan hanya membawa dokumentasi perjalanan, tetapi juga membawa kesadaran bahwa Muhammadiyah yang hari ini tumbuh besar dibangun melalui keikhlasan, keberanian, dan pengorbanan para tokohnya.
Pada akhirnya, napak tilas di Kampung Kauman bukan sekadar perjalanan menuju masa lalu. Tapi juga merupakan perjalanan untuk memahami akar, memperkuat identitas, dan menumbuhkan tanggung jawab sebagai generasi penerus persyarikatan. Sebab membesarkan Muhammadiyah bukan hanya tugas para tokoh terdahulu, melainkan amanah yang harus terus dijaga oleh setiap insan Muhammadiyah. Termasuk para pelajar yang kelak akan melanjutkan estafet perjuangan. (*)
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang