Di area kebun, sekolah membudidayakan berbagai jenis sayuran seperti sawi, pakcoy, timun, labu, dan jagung. Selain itu, terdapat kandang ayam dan kolam ikan nila yang menjadi sumber protein untuk mendukung kebutuhan gizi siswa.
Program tersebut mendapat perhatian Wali Kota Solo, Respati Ardi, yang meninjau langsung lokasi pada Kamis (30/4/2026). Dalam kunjungannya, ia ikut memanen sayuran, mencuci hasil panen, hingga mengambil telur bersama para siswa.
Respati mengapresiasi inovasi sekolah yang dinilai mampu menggabungkan pendidikan karakter, ketahanan pangan, dan pemenuhan gizi anak. Menurutnya, konsep kebun sirkular layak menjadi contoh bagi sekolah lain, termasuk sekolah negeri. Pemerintah Kota Solo juga berencana memberikan bantuan berupa ayam dan peralatan berkebun untuk mendukung pengembangan program tersebut.
Baca Juga: Indonesia Jadi Negara dengan Belanja Pendidikan Terendah di Kelompok Ekonomi Besar Dunia
Kepala Cabang Yayasan Kanisius Surakarta, Joseph Situmorang, mengatakan program kebun sirkular mulai dirintis sejak 2022, berawal dari keinginan memanfaatkan lahan sekolah sekaligus membantu memenuhi kebutuhan gizi siswa, terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Dalam pelaksanaannya, siswa dilibatkan secara langsung mulai dari menyemai benih, menanam, menyiram tanaman, memberi pakan ternak, hingga memanen hasil kebun. Sayuran, telur, dan ikan yang dipanen kemudian diolah bersama orang tua siswa menjadi makanan bergizi yang disantap bersama di sekolah. Kegiatan ini rutin dilakukan setidaknya sebulan sekali.
Menurut Joseph, program tersebut tidak hanya mengajarkan cara bercocok tanam, tetapi juga menanamkan nilai tanggung jawab, kepedulian terhadap lingkungan, serta mengenalkan pentingnya konsumsi makanan sehat sejak usia dini.
Untuk memperkuat edukasi, sekolah menggandeng Ketumbar Workshop, komunitas permakultur asal Solo. Co-founder Ketumbar Workshop, Britania Sari, menjelaskan bahwa kebun sirkular dirancang agar siswa memahami hubungan antara proses menanam, menjaga lingkungan, hingga pentingnya mengonsumsi makanan bergizi.
Baca Juga: SMA Taruna Nusantara Resmi Beroperasi di IKN, Sambut 477 Siswa Tahun Ajaran 2026/2027
Meski sejalan dengan semangat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah, kebun sirkular di SD Kanisius Pucangsawit berjalan secara mandiri melalui inisiatif sekolah dan yayasan, tanpa menggunakan skema dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Program ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan.
Editor : Aditya Novrian
Sumber : dikelola dari beberapa sumber