SMK Terpadu Al-Ishlahiyah terus berupaya memberi pelayanan pendidikan terbaik kepada peserta didiknya. Dengan tagline ‘Sekolah Sak Ngajine’, sekolah kejuruan swasta itu mengajarkan pendidikan agama selayaknya pesantren.
MALANG, RADAR MALANG - Sekolah yang terletak di Pagentan, Kecamatan Singosari itu setiap tahun menerima 100-120 peserta didik. 70 persen di antaranya merupakan anak rumahan. Sisanya 30 persen merupakan anak yang menetap di pondok pesantren (ponpes). Namun seluruh peserta didiknya wajib mendapat pendidikan mengaji ala di ponpes.
Kepala SMK Terpadu Al-Ishlahiyah Muhammad Nashrulloh mengatakan, tagline tersebut merupakan warisan Dewan Pembina Yayasan Al-Ishlahiyah Anisah Mahfudz. Kemudian diterapkan sejak 2018. Sejak tahun itu program unggulan dimulai, pihak sekolah terus melakukan uji coba supaya dapat menemukan metode pembelajaran yang tepat.
“Anak-anak memulai pembelajaran kurikulum nasional sejak pagi hingga istirahat kedua pukul 12.40. Setelah mereka salat duhur, pendidikan ala ponpes dimulai,” ujarnya ditemui di SMK Terpadu Al-Ishlahiyah kemarin (17/7).
Pendidikan ala ponpes itu disebut madrasah diniyah (madin). Setelah berbagai metode pembagian jadwal antara kurikulum nasional dan madin, jadwal tersebut dinilai yang paling tepat. Peserta didiknya masih bisa mengikuti pembelajaran tanpa tertekan dengan padatnya jadwal.
Baca Juga: 53 Desainer dari Berbagai Daerah di Jawa Timur Pamer Gaun di Malang Fashion Runaway
Dia lima pembelajaran untuk madin. Meliputi Al-Qur’an, nahwu dan saraf, tauhid, akhlak, dan fiqih. Kitab yang digunakan juga seperti yang ada di ponpes. “Bagi yang sebelumnya berasal dari sekolah umum, akan kami ajari terlebih dahulu supaya tidak tertinggal dengan anak yang sebelumnya sudah mondok,” imbuhnya.
Saat kelas X, peserta didik mengaji menggunakan kitab yang sudah ada terjemahan menggunakan abjad pegon. Sekaligus diajarkan cara menulis menggunakan abjad Arab yang dimodifikasi untuk menulis bahasa di Nusantara itu. Begitu sudah memasuki kelas XI, peserta didik diharapkan bisa memberi terjemahan sendiri (maknani) seperti santri yang belajar di ponpes.
Menurutnya, dengan diterapkan sekolah bersama mengaji tersebut, siswa-siswinya yang sudah lulus dapat menerapkan materi yang diajarkan di sekolah. Terutama memiliki akhlak yang baik.
Baca Juga: Desainer John Cataleya Gelar Fashion Show di Pameran Seni
Selain berorientasi pada pendidikan keagamaan, sekolah tersebut juga ditetapkan pemerintah sebagai SMK pusat keunggulan (PK). Jurusan Desain Produksi Busana (DPB) yang ditetapkan sebagai SMK PK. Sebab, berdasar hasil analisis berbagai sumber daya, jurusan tersebut mampu menjalankan program-program tersebut. Mulai laboratorium hingga gurunya.
“Siswa-siswi dari jurusan DPB juga sering mengadakan fashion show. Baik di dalam sekolah maupun luar sekolah,” imbuhnya.
Dengan berbagai program tersebut, lebih dari 70 persen peserta didiknya terserap kerja setiap tahun. Bahkan sebelum lulus, sudah ada peserta didiknya yang ditarik bekerja oleh perusahaan. ”Kami akan terus berupaya menjadi sekolah yang dikenal bisa mengantarkan lulusannya ke dunia industri,” pungkasnya.(yun/dan).
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang