MALANG, RADAR MALANG - Selama satu dekade terakhir, jumlah pondok pesantren menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang tumbuh cukup pesat. Dari 566 unit pada 2011 menjadi 727 unit pada 2020. Hal ini sejalan dengan menjamurnya pesantren bergaya modern berfasilitas mewah dan berbiaya tinggi.
Di tengah tren tersebut, Tsurayya Islamic School Malang atau TISMA yang terletak di Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, tampil sebagai satu-satunya pesantren di Malang yang mampu menghadirkan fasilitas mewah dengan biaya yang tetap terjangkau.
Yang membedakan TISMA dari pesantren mewah lainnya adalah caranya menjaga ketawadukan meski berdiri megah. Pengajaran kitab-kitab turost tetap menjadi ruh pembelajaran di kelas dan di masjid, berdampingan dengan kurikulum akademik modern yang tetap berpijak pada nilai dan spirit keislaman.
Prinsip biaya yang dibayar santri harus lebih murah daripada apa yang didapatkan pun diterapkan secara konsisten, tecermin dari biaya masuk sebesar Rp 7.000.000 dan SPP bulanan Rp 1.750.000 saja.
Sejumlah program juga dihadirkan untuk meringankan beban orang tua, mulai dari subsidi pendidikan bagi santri kurang mampu yang memiliki hafalan tiga juz, hingga beasiswa penuh berikut uang saku bagi santri yatim, duafa, dan penghafal Alquran 10, 20, dan 30 juz.
“Komitmen beasiswa ini terus kami lakukan sebagai ikhtiar TISMA untuk mencetak Generasi Qur’ani, Rabbani dan Mandiri," ujar Abdul Mughis, Pimpinan Pondok Tsurayya Islamic School Malang.
TISMA.
Mughis berharap ke depan dapat terus tumbuh sebagai pesantren yang menyeimbangkan kenyamanan, kualitas pendidikan, dan keterjangkauan biaya. Semua ini dilakukan sembari mencetak santri-santri yang unggul dalam ilmu agama maupun akademik.
Tak hanya itu, TISMA juga memegang teguh nilai memberi tanpa mengharap balasan, sebagaimana semangat yang selama ini menjadi napas perjuangan pondok. (*)
Artikel ini ditulis oleh Supriyanto Refra, S.Sos.,C.Mtr, SMP-SMA Tsurayya Islamic School Malang
Editor : A. Nugroho