Profesor Pertama yang Usung Akuntansi Kearifan Lokal

Nabila Amelia • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 18:02 WIB
Prof Dr Hj Ana Sopanah Supriyadi SE MSi Ak CMA
Prof Dr Hj Ana Sopanah Supriyadi SE MSi Ak CMA

 

MALANG KOTA, RADAR MALANG - Akuntansi tak melulu soal angka. Disiplin ilmu tersebut juga bisa mengarah ke kearifan lokal. Seperti yang diusung oleh Guru Besar Bidang Akuntansi Universitas Widya Gama Prof Dr Hj Ana Sopanah Supriyadi SE MSi Ak CMA.


Bidang akuntansi kearifan lokal itu membawa Ana dikukuhkan menjadi guru besar pada 22 Juli. Dalam pengukuhan, Ana mengangkat orasi ilmiah yang berjudul Akuntansi Kearifan Lokal: Dari Nilai Budaya Menuju Akuntabilitas dan Keberlanjutan Organisasi.


Menurutnya, fokus untuk menekuni akuntansi kearifan lokal timbul saat menempuh studi doctoral (S3) di Universitas Brawijaya (UB). ”Ternyata akuntansi tidak hanya berbicara mengenai angka dan laporan keuangan, tapi juga tentang nilai, budaya, kepercayaan, hingga tanggung jawab sosial,” katanya. 


Dalam disertasinya, Ana meneliti akuntansi di Suku Tengger. Dari penelitian itu diketahui bahwa Suku Tengger melakukan penghitungan anggaran. Kemudian, dia memperluas penelitian tersebut, menyasar komunitas budaya lainnya seperti Suku Osing dan  komunitas masyarakat di Madura, Bali, NTT, hingga komunitas bantengan. 
”Bantengan ternyata bukan hanya pertunjukan. Di dalamnya terdapat praktik pengelolaan keuangan, pengambilan keputusan, serta akuntabilitas yang punya landasan guyub rukun, tepo sliro, dan tanggung jawab bersama,” tegas perempuan asli Brebes tersebut.


Menurutnya, konsentrasi terkait akuntansi kearifan lokal termasuk baru. Belum banyak praktisi atau akademisi yang menekuni. Untuk itu, dia menyampaikan kepada mahasiswa akuntansi yang mulai menekuni konsentrasi akuntansi kearifan lokal,  memiliki peluang yang luas.


”Karena Indonesia butuh pemuda-pemudi yang kembali ke desa dan mengembalikan kearifan lokal,” tegas Ana.

Dengan sistem kearifan lokal bisa menumbuhkan ekonomi lokal juga.
Na­mun pertumbuhan ekonomi lokal juga membutuhkan kerja sama lintas sektor. Mulai masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, maupun media massa sebagai wadah publikasi. 


Ana bercita-cita untuk mengembangkan aplikasi akuntansi kearifan lokal. Dia juga berharap ke depan ada perda dan standardisasi terkait akuntansi kearifan lokal. (mel/gp)

Editor : A. Nugroho
widya gama Profesor Akuntansi Universitas