KOTA BATU, RADAR MALANG – Mahasiswa Kelompok 68 Kuliah Kerja Nyata Tematik Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (KKN-T FIA UB) membantu masyarakat Desa Giripurno, Kota Batu, mengidentifikasi aktivitas keseharian dan tradisi lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi pengalaman wisata.
Program tersebut diawali melalui Sosialisasi Pariwisata Minat Khusus dan Pelatihan Dasar Pemanduan Wisata yang diselenggarakan di Desa Giripurno, 18 Juli lalu. Kegiatan melibatkan pemerintah desa, TP PKK, Forum Anak, Dinas Pariwisata Kota Batu, akademisi, praktisi pariwisata, serta masyarakat desa.
Kegiatan dihadiri Kepala Desa Giripurno Suntoro, Ketua TP PKK Desa Giripurno Siti Masiroh Suntoro, perwakilan Dinas Pariwisata Kota Batu, dan Dosen Pembimbing Lapangan Saiful Rahman Yuniarto, M.AB. Praktisi pariwisata Heri Mujiono, M.M. hadir sebagai narasumber.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak melihat bahwa pengembangan wisata tidak selalu harus dimulai dengan pembangunan objek baru. Aktivitas bertani, beternak, mengolah makanan tradisional, berkesenian, serta berbagai kebiasaan masyarakat dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata apabila dikemas secara terencana tanpa menghilangkan karakter asli desa.
Pendekatan tersebut diperkenalkan melalui gagasan Kegiatan Sehari-hari, Bisa Jadi Cuan. Gagasan ini menekankan bahwa kehidupan lokal dapat memberikan nilai tambah ekonomi ketika dikembangkan menjadi pengalaman yang menarik, aman, dan dapat diikuti wisatawan.
Namun, aktivitas sehari-hari tidak secara otomatis menjadi produk wisata. Pengembangannya membutuhkan pemetaan potensi, penentuan target pengunjung, penyusunan alur kegiatan, kesiapan pemandu, standar keamanan, penetapan harga, serta mekanisme pembagian manfaat bagi masyarakat.
“Yang dicari wisatawan saat ini bukan hanya tempat yang indah, tetapi pengalaman yang autentik. Identitas desa justru menjadi kekuatan utama yang harus dipertahankan,” ujar Heri Mujiono.
Selain memperkenalkan wisata berbasis pengalaman lokal, mahasiswa KKN-T FIA UB memberikan pembekalan dasar mengenai pemanduan wisata. Peserta diperkenalkan pada teknik menyambut wisatawan, komunikasi pelayanan, penyampaian cerita mengenai desa, serta cara mengakhiri kegiatan wisata secara profesional.
Kemampuan pemanduan menjadi penting karena kualitas pengalaman wisata tidak hanya ditentukan oleh daya tarik yang dikunjungi. Cara masyarakat menjelaskan aktivitas, berinteraksi dengan pengunjung, dan menyampaikan cerita lokal turut menentukan kesan yang diperoleh wisatawan.
Dalam sesi sosialisasi dan simulasi, peserta mengikuti pemaparan materi kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok untuk mengidentifikasi potensi wisata di masing-masing dusun. Setelah itu, peserta melakukan simulasi sederhana pemanduan wisata, mulai dari praktik menyambut tamu, menyampaikan informasi singkat tentang aktivitas pertanian dan budaya lokal, hingga latihan storytelling mengenai sejarah dan keunikan Desa Giripurno. Kegiatan ditutup dengan presentasi hasil identifikasi potensi oleh tiap kelompok sebagai langkah awal menyiapkan warga menjadi pelaku utama dalam pengembangan wisata Desa Giripurno.
“Pelatihan ini memberi pengetahuan baru tentang cara menyambut tamu dan menceritakan potensi desa, tetapi kami masih perlu banyak latihan agar lebih percaya diri saat menjadi pemandu wisata,” kata Rini, anggota PKK Desa Giripurno.
Diskusi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan mengenai potensi desa. Sunarti, warga Dusun Sabrang Bendo, mengusulkan agar kesenian karawitan yang telah lama tidak aktif dapat dihidupkan kembali.
Usulan tersebut mendapat tanggapan positif dari narasumber karena karawitan dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata budaya. Namun, pengembangannya masih memerlukan pemetaan terhadap keberadaan pelaku seni, kondisi peralatan, proses regenerasi, kebutuhan latihan, dan kesiapan masyarakat untuk menampilkannya kepada pengunjung.
“Karawitan ini dulu menjadi bagian penting kehidupan warga. Kami berharap bisa dihidupkan kembali agar generasi muda mengenal dan ikut melestarikan budaya ini sekaligus menjadi daya tarik bagi desa,” ujarnya.
Ketua TP PKK Desa Giripurno, Siti Masiroh Suntoro, menyampaikan bahwa pengembangan wisata perlu tetap menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dan menjaga identitas desa.
“Potensi Desa Giripurno sangat besar jika dikelola bersama. Kami dari TP PKK siap mendorong keterlibatan ibu-ibu dan warga agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku dalam pengembangan wisata desa ini,” katanya.
Setelah kegiatan sosialisasi, mahasiswa Kelompok 68 akan melakukan pemetaan potensi wisata berbasis aktivitas harian masyarakat Desa Giripurno serta menyusun rancangan paket wisata pengalaman sederhana yang dapat diuji coba bersama warga sebagai model awal pengembangan wisata desa.
Pemetaan tersebut akan mencakup jenis aktivitas, lokasi, calon pengelola, durasi pengalaman, kebutuhan fasilitas, kapasitas pengunjung, risiko kegiatan, dan potensi manfaat bagi masyarakat.
Hasilnya akan disusun dalam bentuk dokumen rekomendasi pengembangan potensi wisata Desa Giripurno.
Dosen Pembimbing Lapangan, Saiful Rahman Yuniarto, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak diarahkan untuk mengubah kehidupan masyarakat menjadi pertunjukan, tetapi membantu warga mengenali nilai dari pengetahuan, pekerjaan, dan budaya yang telah mereka miliki.
“Pengembangan wisata harus berbasis masyarakat, tidak menghilangkan nilai budaya, dan dijalankan secara berkelanjutan agar manfaatnya kembali ke warga,” jelasnya.
Melalui proses tersebut, KKN-T menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan pariwisata dalam persoalan nyata. Bagi masyarakat, kegiatan ini menjadi tahap awal untuk menilai potensi lokal secara lebih sistematis sebelum dikembangkan menjadi produk wisata.
Pengembangan wisata berbasis pengalaman lokal diharapkan dapat membuka peluang ekonomi tanpa menggantikan mata pencaharian utama maupun mengubah identitas masyarakat. Keberhasilannya akan bergantung pada kesiapan warga, kesinambungan pengelolaan, kualitas pengalaman, dukungan pemerintah desa, dan keterhubungan dengan pasar wisata Kota Batu.
Kegiatan ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan peluang usaha berbasis potensi lokal, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui pelestarian warisan budaya, serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pengembangan wisata yang menjaga identitas dan sumber daya desa. (*)