
MALANG — Guna menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, tangguh bencana, sekaligus mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang (FIK UM) sukses menggelar Pelatihan "Code Red" pada Kamis (23/7/2026).
Bertempat di Lapangan Parkir UM, kegiatan pengabdian masyarakat yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 12.30 WIB ini menggandeng tim Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Batu sebagai instruktur dan narasumber utama. Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta yang mewakili seluruh elemen kampus, terdiri dari 8 orang dosen, 10 tenaga kependidikan (tendik), 4 tenaga penunjang sarana prasarana (satpam dan pengelola asrama), serta 8 perwakilan mahasiswa.
Ketua Pelaksana Pengabdian Masyarakat yang juga Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) FIK UM, Dr. Kumoro Asto Lenggono, M.Kep., menyampaikan bahwa kolaborasi berbagai unsur ini sengaja dibentuk agar tercipta sinergi yang kuat, sekaligus melatih peserta menjadi champion (penggerak utama) keselamatan kampus.
"Tujuan pelatihan ini adalah sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana di lingkungan kampus, baik kebakaran maupun gempa bumi. Lebih dari itu, sistem tanggap darurat yang terstruktur adalah pilar penting dalam mewujudkan ekosistem kampus yang aman dan berkelanjutan," tegas Dr. Kumoro saat membuka acara.

Dukung Pencapaian SDGs: Kampus Sehat, Aman, dan Tangguh Program pembentukan Tim Code Red ini bukan sekadar merespons kerentanan internal kampus akibat minimnya keterampilan individu saat terjadi kondisi medis darurat atau kecelakaan kerja. Lebih jauh, inisiatif ini merupakan wujud nyata kontribusi FIK UM dalam mengimplementasikan agenda global SDGs, khususnya pada tiga pilar utama:
SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera): Melalui pelatihan penanganan insiden medis dasar, program ini menekan risiko fatalitas akibat kecelakaan kerja atau darurat medis di lingkungan kampus.
SDG 4 (Pendidikan Bermutu): Memastikan terciptanya lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan bebas dari ancaman bencana bagi seluruh sivitas akademika, yang merupakan prasyarat mutlak bagi pendidikan berkualitas.
SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan): Membangun kapasitas adaptasi dan ketangguhan kampus (disaster-resilient) terhadap berbagai risiko bencana, seperti kebakaran massal dan gempa bumi.

"Kegiatan ini bermula dari pengalaman duka kami, yaotu salah satu dosen berpulang saat bermain badminton. Oleh karena itu, kami belajar bahwa pertolongan pertama sangatlah penting agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan." ungkap WD 3 FIK UM Dr. Kurniati Rahayuni, S.Psi., M.Psi., Ph.D. Pemantik ini tidak hanya berakhir begitu saja, tetapi ada langkah lebih panjang lagi.
Program ini direncanakan sebagai Prototipe Model Nasional
Ke depan, program ini akan dilanjutkan dengan serangkaian langkah strategis dan konkret. Tim akan melakukan audit risiko kampus, penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) berbasis standar internasional, hingga pengadaan fasilitas penunjang seperti Alat Pemadam Api Ringan (APAR), jalur evakuasi, titik kumpul darurat, dan kotak P3K. Simulasi Code Red juga akan dilakukan secara berkala.
Melalui pendekatan yang terintegrasi dengan prinsip keberlanjutan ini, FIK UM menargetkan terbentuknya Tim Code Red sebagai prototipe sistem kesiapsiagaan darurat kampus. Luaran dari program ini—termasuk publikasi ilmiah, modul pelatihan, dan policy brief—diharapkan dapat direplikasi menjadi model percontohan nasional dalam pengembangan sistem tanggap darurat di perguruan tinggi seluruh Indonesia.
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang