Perjalanan Tim Kilas UM Sabet Juara 1 Lomba Project Mapping di Ajang Padhang Mbranang 2026: Angkat Tema Punahnya Permainan Tradisional

M. Affan Fauzan • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 18:03 WIB

BUAH KESERIUSAN: Tim Kilas dari Universitas Negeri Malang menyabet predikat juara 1 project mapping dalam ajang Padhang Mbranang 2026 di Balai Kota Madiun, 26 Juli lalu. (Tim Kilas For Radar Malang)
BUAH KESERIUSAN: Tim Kilas dari Universitas Negeri Malang menyabet predikat juara 1 project mapping dalam ajang Padhang Mbranang 2026 di Balai Kota Madiun, 26 Juli lalu. (Tim Kilas For Radar Malang)

MALANG KOTA, RADAR MALANG - Balai Kota Madiun menjadi kanvas raksasa saat proyektor mulai memancarkan cahaya. Tirai panggung virtual seolah terbuka di fasad bangunan itu. Disusul kemunculan berbagai permainan tradisional seperti perahu otok-otok, mobil-mobilan dari jeruk, kuda lumping, kincir angin, hingga wayang. 

Rangkaian visual itu mengajak penonton untuk kembali mengenang masa kanak-kanak. Tampilan itu kemudian berubah setelah pintu besar terbuka. Layang-layang tradisional membawa penonton mengarungi zaman tradisional sebelum memasuki masa modern yang penuh dengan sentuhan teknologi. Sejumlah mainan robot dan mobil-mobilan terangkat melalui mesin capit.

Selama 2 menit 53 detik, penonton di Padhang Branang 2026 diperlihatkan perjalanan mainan tradisional yang perlahan tergeser dengan keberadaan mainan modern. Project mapping tersebut diberi judul Wekasan, yang dalam bahasa Jawa berarti pengujung atau akhir.

”Itu disesuaikan dengan tema yang kami angkat mengenai permainan tradisional yang saat ini kurang diminati,” ujar Ruqunia Rahmatuti, ilustrator Tim Kilas. Ide tersebut muncul dari dua rekannya yang merasa bermain dengan permainan tradisional sempat mewarnai masa anak-anak zaman dahulu. 

Sayangnya, hal itu tidak dirasakan generasi sekarang. Persiapan membuat proyeksi visual untuk menampilkan gambar, animasi, atau video ke atas permukaan bidang itu berlangsung selama sepekan.

Tim mengumpulkan berbagai ide untuk menentukan elemen visual yang paling tepat ditampilkan dalam pertunjukan projection mapping

Mulai dari permainan tradisional hingga berbagai ikon yang lekat dengan Kota Madiun sebagai lokasi penyelenggaraan. Riset tersebut tidak hanya mengandalkan pencarian di internet. Namun juga memperbanyak khasanah melalui studi literatur. 

Tujuannya agar konsep mereka yang bertajuk transformasi tetap lekat dengan Kota Madiun. Setelah disepakati apa saja yang hendak dikerjakan, tim yang berisikan delapan orang tersebut menjalankan tugas masing-masing. Meski mereka baru pertama kali gabung dalam proyek bersama, Quni-sapaan akrab Ruqunia- dan rekan-rekannya tidak membutuhkan waktu lama untuk menuntaskannya.

Bagian storyboard menggambarkan sketsa scene apa saja yang akan ditampilkan dalam project mapping. Baru setelahnya diberikan kepada ilustrator untuk memvisualisasikan konsep dalam bentuk dua dimensi dan tiga dimensi. Lalu diteruskan ke tim animasi untuk melakukan motion graphic di setiap scene agar lebih halus ketika digerakkan.

Setelah proses selama tiga pekan, nanti akan digabungkan semuanya oleh tim editor. 

Mereka akan menggabung hasil setiap frame ditambah dengan efek suara. Sehingga project mapping tersebut terlihat seperti kisah yang berawal dari panggung wayang sampai memasuki dunia modern.  Selama proses pengerjaan, Tim Kilas cukup banyak menggunakan animasi tiga dimensi. 

Itu sempat membuat beberapa orang kesulitan karena transisi dan pergerakannya belum terasa rapi. Namun, berkat saran dari senior, mereka bisa mengatasinya. Karena tema yang dibawa menggunakan konsep perjalanan, hasil project mapping tersebut cukup panjang. Mencapai hampir tiga menit. 

”Itu jauh lebih lama dibanding kontestan lain yang hanya mencapai satu menit atau 30 detik saja,” kenang perempuan asal Kecamatan Pakis tersebut. Konsep tersebut tampaknya menjadi salah satu faktor yang mengantarkan Quni dkk meraih nilai tinggi dari dewan juri. 

Karya yang digarap selama tiga pekan itu juga dinilai mampu mengangkat unsur kedaerahan Madiun. Poin itu lebih unggul dibanding 16 finalis lain yang terpilih dari ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Quni sempat tidak menyangka bisa keluar sebagai juara saat diumumkan 26 Juli lalu. Setelah penyebutan tempat kedua dan ketiga, dia sempat berpikir tidak akan memperoleh podium. Karena itu, raihan juara pertama menjadi kejutan sekaligus kebanggaan bagi dia dan rekan-rekannya.

Bagi perempuan 21 tahun itu, pengalaman mengikuti Lomba Project Mapping Padhang Mbranang memberinya banyak pelajaran berharga. Selain berhasil meraih juara project mapping pertamanya, dia bisa mengulik lebih dalam bagaimana proses pengerjaan project mapping, tidak hanya di bagian ilustrasi, namun juga di bagian animasi.

Hasil tersebut juga membuat timnya bersemangat mengikuti lomba project mapping lain. Terdekat, mereka akan mengikuti perlombaan serupa di Bandung, September mendatang. (zan/by)

Editor : Bayu Mulya Putra
Tim Kilas Tim Kilas UM project mapping Padhang Mbranang 2026 Kota Madiun