Cerita Hamim Thohari Mahfudzillah Kembangkan Inovasi AI untuk Deteksi Bullying di Sekolah: Manfaatkan Sistem yang Bikin Memori Tak Cepat Habis

Ramizard Rafsanjani • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 18:06 WIB
TERUS DISEMPURNAKAN: Hamim Thohari Mahfudzillah menunjukkan cara kerja sistem AI yang berfungsi untuk mendeteksi tindakan bullying. (RAMIZARD RAFSANJANI/RADAR MALANG)
TERUS DISEMPURNAKAN: Hamim Thohari Mahfudzillah menunjukkan cara kerja sistem AI yang berfungsi untuk mendeteksi tindakan bullying. (RAMIZARD RAFSANJANI/RADAR MALANG)

MALANG KOTA, RADAR MALANG - Pidato yang disampaikan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, November 2024 lalu menggugah kesadaran Hamim Thohari Mahfudzillah.

Dalam rapat koordinasi evaluasi kebijakan pendidikan dasar dan menengah di Jakarta Selatan itu, Gibran meminta satu hal. Yakni pembelajaran coding atau sistem pemrograman komputer mulai diterapkan di sekolah-sekolah. 

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI yang mendapat permintaan itu menyanggupinya. Hamim menyikapi permintaan itu dengan cara berbeda. Dia langsung berinisiatif agar coding juga diterapkan di sekolah-sekolah. Tak hanya sekadar jadi bahan pembelajaran saja. 

Sejak 2024 itu sampai 1,5 tahun berikutnya, guru MTs Negeri 6 Malang itu berinisiatif untuk mengembangkan Artificial Intelligence (AI) untuk memantau keamanan di sekolah. Khususnya terkait tindakan bullying

Dia mulai merekam beberapa adegan kekerasan agar menjadi memori bagi AI untuk mendeteksi tindakan bullying. Khususnya bullying fisik. 

 

Mulai akhir Mei, AI yang dikembangkannya mulai diterapkan di sekolahnya. Diintegrasikan dengan 22 kamera CCTV yang berada di beberapa sudut sekolah. Seperti kelas, kantin, hingga halaman sekolah. 

Saat ini, Hamim tengah mendampingi dua pelajarnya untuk mengembangkan lagi sistem AI itu. ”Sejauh ini memang butuh pengembangan lagi. Karena tindakan bullying verbal belum bisa termonitor,” kata Hamim. 

Dua pelajar yang didampinginya itu juga bersiap mengikuti lomba pengembangan AI di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. ​Tim riset kecil yang terdiri dari tiga orang itu mengandalkan YOLOv11 (You Only Look Once versi II). 

Itu merupakan model kecerdasan buatan yang ditujukan untuk mendeteksi objek secara real-time, kemudian memproses seluruh gambar dalam sekali lihat atau single-stage. Sistem itu bisa memprediksi letak kotak (bounding box) dan jenis objek dengan kecepatan tinggi. Akurasinya juga lebih tajam dibanding versi lama

Sistem cerdas itu dimanfaatkan mereka untuk mengenali sembilan jenis gerakan fisik berbahaya. Seperti gerakan mendorong, menjegal, menampar, dan memukul. Dua pelajarnya aktif merekam simulasi adegan untuk mengumpulkan data visual dasar.

Rekaman video tersebut kemudian dikonversikan menjadi sekitar tiga ribu potongan foto tunggal. ​Ribuan gambar dipilah secara manual menggunakan label studio.

Itu merupakan perangkat lunak open-source berbasis website. Berfungsi untuk melabeli dan menganotasi berbagai jenis data. Seperti gambar, teks, video, audio untuk keperluan AI atau kecerdasan buatan.

”Sistem yang kami gunakan memiliki keunggulan di efisiensi kapasitas memori, yang hanya sebesar 5 MB,” imbuh guru berusia 35 tahun itu. Dengan ukuran itu, AI yang dia kembangkan dapat bekerja cukup ringan tanpa membebani server sekolah. Ukurannya yang ringkas membuat pemrosesan data berjalan dengan sangat lancar.

Aplikasinya, saat kamera menangkap indikasi gestur berbahaya, sistem akan secara instan memberi sinyal peringatan. Sistem itu juga langsung mengambil tangkapan layar sebagai arsip bukti kejadian. Itu untuk memastikan setiap insiden terekam dengan jelas dan akurat.

​Bukti visual itu kemudian dikirim detik itu juga ke gawai guru BK via Telegram. Notifikasi cepat itu memungkinkan tindakan penanganan di lapangan dilakukan sesegera mungkin. Respons kilat sangat penting agar dampak perundungan tidak semakin meluas.

Warga Kecamatan Pakisaji itu masih terus melakukan riset untuk menyempurnakan AI anti-bullying tersebut. Kendala keterbatasan kapasitas server dan akurasi gestur harus terus dibenahi. ”Ketika bisa jadi lebih baik, saya berharap sistem itu dapat diterapkan di banyak sekolah untuk menangkal bullying,” tutup dia. (*/by)

Editor : Bayu Mulya Putra
AI anti bullying hamim thohari mahfudzillah guru kembangkan AI guru madrasah mtsn 6 malang