LPPM Universitas Negeri Malang Perkuat Ekosistem Pencak Silat Malang Raya lewat Kemitraan Strategis dengan IPSI Kabupaten Malang

A. Nugroho • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 13:32 WIB
Dok. Sambutan Ketua Pelaksana oleh Kurniati Rahayuni, S.Psi., M.Psi., Ph.D.
Sambutan Ketua Pelaksana oleh Kurniati Rahayuni, S.Psi., M.Psi., Ph.D.

MALANG — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Malang (UM) kembali menunjukkan kiprahnya di tengah masyarakat melalui penyelenggaraan Program Peningkatan Kompetensi Pelatih Pencak Silat Malang Raya bertajuk “Sosialisasi Peraturan Persilat 2025: Strategi Optimalisasi Performa Atlet Menuju Standar Internasional”. Kegiatan yang dilaksanakan oleh tim dari Departemen Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO), Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UM ini berlangsung di Gedung C6 Lantai 7 FIK UM pada Sabtu, 11 Juli 2026, sebagai respons cepat atas dinamika regulasi olahraga bela diri yang terus berkembang di tingkat global.

Kegiatan ini bermula dari kegelisahan akademik atas adanya kesenjangan antara standar kepelatihan yang selama ini diterapkan di tingkat lokal dengan perubahan signifikan pada regulasi Persekutuan Pencak Silat Antar Bangsa (PERSILAT) edisi 2025, terutama yang menyangkut sistem penilaian pertandingan dan standar keselamatan atlet. Tanpa penyelarasan yang dilakukan secara cepat, para pelatih dan atlet pencak silat di Malang Raya dikhawatirkan akan tertinggal dalam persaingan kompetisi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Dok. Pemaparan materi oleh Mastur, S.Pd., M.M., terkait peraturan pertandingan pencak silat IPSI terbaru.
Pemaparan materi oleh Mastur, S.Pd., M.M., terkait peraturan pertandingan pencak silat IPSI terbaru.

Oleh karena itu, LPPM UM menerjunkan tim pelaksana pengabdian masyarakat yang beranggotakan sebelas akademisi dan praktisi, yaitu Kurniati Rahayuni, S.Psi., M.Psi., Ph.D.; Dr. Rajip Mustafillah Rusdiyanto, M.Pd.; Drs. Supriatna, M.Pd.; Shofiatul Ummah; Puji Lestari; M. Naufal Fadhlurahman; I Kadek Ryo Prananda; Yukta Terate Syura; Muhammad Hamzah Pratama; Suhud Indratno, S.Or.; dan M. Mastur, S.Pd., M.M. Kesebelas orang tersebut bahu-membahu merancang dan menjalankan program agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh komunitas pencak silat di wilayah Malang Raya.

Adapun program ini dirancang dengan dua tujuan utama, yakni meningkatkan pemahaman kognitif sekaligus kompetensi teknis para pelatih dan atlet terhadap aturan pertandingan terbaru, serta menyinergikan metode latihan taktis di lapangan dengan standar kompetisi internasional. Dengan begitu, diharapkan ekosistem pencak silat di Malang Raya dapat tumbuh dengan daya saing yang unggul dan berkelanjutan.

Dok. Pemaparan materi oleh Suhud Indratno, S.Or., terkait strategi latihan taktis pencak silat menghadapi perkembangan peraturan IPSI terbaru.
Pemaparan materi oleh Suhud Indratno, S.Or., terkait strategi latihan taktis pencak silat menghadapi perkembangan peraturan IPSI terbaru.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, kegiatan yang berlangsung selama empat jam ini mengusung metode sosialisasi interaktif yang dipadukan dengan workshop klinis. Dua narasumber yang berpengalaman di kancah internasional turut dihadirkan guna memperkaya materi, yaitu Mastur, S.Pd., M.M., yang berprofesi sebagai wasit juri internasional, serta Suhud Indratno, S.Or., yang merupakan pelatih internasional.

Selain menerima paparan materi regulasi terbaru, para peserta juga diajak mengikuti sesi bedah taktik secara langsung bersama kedua narasumber. Guna mengukur sejauh mana informasi tersebut terserap dengan baik, panitia turut menyelenggarakan evaluasi kognitif berbasis instrumen digital berupa pretest dan posttest kepada seluruh peserta.

Dok. Dokumentasi peserta Sosialisasi Peraturan Persilat 2025.
Dokumentasi peserta Sosialisasi Peraturan Persilat 2025.

Hasilnya, kegiatan ini berhasil menjangkau 46 orang penerima manfaat yang terdiri atas pelatih, praktisi, dan atlet dari berbagai klub pencak silat se-Malang Raya. Tingkat partisipasi bahkan tercatat mencapai 92 persen dari target awal sebanyak 50 orang peserta, sebuah capaian yang menunjukkan tingginya antusiasme komunitas pencak silat terhadap isu pembaruan regulasi ini.

Tidak berhenti pada angka partisipasi, hasil evaluasi kognitif pun turut memperlihatkan tren positif yang menggembirakan. Rata-rata skor peserta meningkat sebesar 11,2 persen, dari 68,17 persen pada tahap pretest menjadi 75,80 persen atau setara 22,74 dari 30 poin pada tahap posttest. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa pemahaman para pelatih dan atlet terhadap regulasi baru kini terdistribusi lebih merata dan konsisten setelah mengikuti intervensi edukatif tersebut.

Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, kegiatan pengabdian masyarakat ini sekaligus merupakan implementasi konkret dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) ke-17, yakni Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals). Secara spesifik, program ini menyasar dua target sekaligus, yaitu Target 17.16 yang menitikberatkan pada penguatan kemitraan multipihak guna berbagi pengetahuan dan keahlian, serta Target 17.17 yang mendorong terjalinnya kemitraan yang efektif antara sektor publik dan masyarakat sipil.

Sejalan dengan semangat kemitraan tersebut, keberhasilan program ini juga tidak lepas dari kolaborasi erat antara Program Studi S1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga UM dan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Malang, yang berkantor di Jalan Gotong Royong Nomor 145, Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sinergi lintas lembaga ini memperkuat basis data sekaligus standardisasi kepelatihan yang menjadi fondasi penting bagi pengembangan atlet menuju visi besar 'Pencak Silat Road to Olympic'.

Lebih dari sekadar angka, capaian tersebut membawa arti penting bagi para pelatih akar rumput yang selama ini kerap kesulitan mengakses pembaruan regulasi secara langsung dari sumber resmi. Melalui kegiatan ini, mereka memperoleh kesempatan yang setara dengan pelatih-pelatih di klub besar untuk memahami standar internasional terbaru secara mendalam, sehingga kesenjangan pengetahuan antara pelatih di level akar rumput dan level elite berangsur dapat dipersempit.

Dengan bekal pemahaman yang lebih merata tersebut, para pelatih di berbagai klub kecil maupun sasana desa diharapkan mampu menerapkan metode latihan yang sejalan dengan aturan terbaru, sekaligus turut menjaga keselamatan atlet binaannya sesuai standar yang berlaku secara global.

Pada akhirnya, melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, LPPM UM bersama tim Departemen PKO FIK menegaskan komitmennya untuk terus hadir menjawab kebutuhan nyata masyarakat olahraga di Malang Raya. Kolaborasi strategis dengan IPSI Kabupaten Malang pun diharapkan dapat terus berlanjut dan menjadi model kemitraan yang dapat direplikasi oleh cabang-cabang olahraga lain, demi mewujudkan ekosistem pencak silat Indonesia yang semakin siap bersaing di panggung internasional.

Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang
Malang Raya pencak silat IPSI lppm um