MALANG — Dunia kepelatihan olahraga bela diri di Malang Raya mendapat suntikan pengetahuan baru setelah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Malang (UM) menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Peningkatan Kompetensi Pelatih Olahraga Bela Diri Malang Raya dalam Pertolongan Pertama Cedera Olahraga: Strategi Pencegahan dan Manajemen Cedera untuk Meningkatkan Keselamatan dan Longevity Karier Atlet”. Bertempat di Gedung C6 Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UM, kegiatan yang digawangi oleh tim dari Departemen Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) tersebut berlangsung pada Sabtu, 25 Juli 2026, sejak pukul 08.00 WIB hingga selesai.
Program ini muncul bukan tanpa alasan. Selama ini, tidak sedikit pelatih bela diri di Malang Raya yang masih minim pengetahuan mengenai pertolongan pertama cedera olahraga (PPCO), protokol penanganan cedera, maupun strategi pencegahan cedera yang berlandaskan bukti ilmiah. Kondisi tersebut, jika dibiarkan berlarut, berpotensi membahayakan keselamatan atlet sekaligus memperpendek usia kariernya di dunia olahraga.
Menjawab persoalan itu, LPPM UM menggerakkan tim pengabdian yang menyatukan tiga bidang keilmuan sekaligus, yakni Program Studi S1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga, S1 Keperawatan, dan S1 Ilmu Keolahragaan. Kurniati Rahayuni, Ph.D. didapuk sebagai ketua pelaksana, didampingi Muhammad Putra Ramadhan, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.M.B. dan Andryas Yuniarto, M.Or. sebagai anggota, serta tujuh mahasiswa pelaksana yang terdiri atas I Kadek Ryo Prananda, Susilo Adi Wijaya, Shofiatul Ummah, Puji Lestari, M. Naufal Fadhlurahman, Yukta Terate Syura, dan Muhammad Hamzah Pratama. Tim ini juga menggaet One Lotus Personal Therapy sebagai mitra untuk memperkuat sisi praktis penanganan cedera di lapangan.
Ada tiga hal yang ingin dicapai lewat program ini: membekali pelatih bela diri Malang Raya agar mampu memberikan pertolongan pertama pada cedera olahraga secara cepat dan tepat, menanamkan strategi pencegahan cedera berbasis evidence-based practice, serta membiasakan penerapan manajemen cedera yang terintegrasi. Ujung dari ketiganya sama, yaitu terciptanya lingkungan latihan yang lebih aman sehingga karier atlet dapat bertahan lebih panjang.
Dua narasumber pun didatangkan untuk mengupas tema tersebut dari perspektif berbeda. Kurniati Rahayuni, Ph.D. membedah sisi dinamika psikologis cedera olahraga, sementara Muhammad Putra Ramadhan, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.M.B. menjelaskan langkah-langkah teknis pertolongan pertama cedera olahraga. Format penyampaiannya pun tidak monoton, memadukan pemaparan teori dengan demonstrasi dan simulasi penanganan cedera secara langsung.
Peserta yang hadir tidak sekadar duduk mendengarkan, melainkan turut mempraktikkan langkah demi langkah penanganan cedera di bawah bimbingan narasumber. Suasana kian hidup lewat sesi diskusi yang sekaligus menjadi ajang mempererat relasi antarpelatih dari berbagai klub. Menariknya, seluruh rangkaian ini dapat diikuti tanpa biaya pendaftaran, dengan peserta pulang membawa e-sertifikat, konsumsi, dan seminar kit.
Dari sisi jumlah, animo peserta terbilang tinggi. Tingkat partisipasi tercatat menembus 92,5 persen dari target awal 40 orang peserta, dengan 37 orang pelatih dan praktisi bela diri dari berbagai klub se-Malang Raya tercatat sebagai penerima manfaat langsung.
Bukan hanya soal kuantitas, kualitas pemahaman peserta pun ikut terdongkrak. Skor rata-rata peserta melonjak 15,10 persen, dari semula 69,58 persen pada pretest menjadi 80,09 persen atau setara 24,03 dari 30 poin pada posttest. Lonjakan ini menjadi indikator bahwa materi yang disampaikan benar-benar terserap dan dipahami secara merata oleh peserta.
Jika ditarik ke ranah yang lebih luas, kegiatan ini turut menjadi wujud nyata dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) ke-17, yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals). Dua target di dalamnya tersentuh langsung, yakni Target 17.16 yang mendorong penguatan kemitraan multipihak untuk berbagi pengetahuan dan keahlian, serta Target 17.17 yang menitikberatkan pada kemitraan efektif antara sektor akademik dan sektor swasta.
Praktik Pertolongan Pertama Cedera Olahraga (PPCO) oleh peserta terkait penanganan beberapa isu kecelakaan olahraga bela diri.Capaian ini pun tidak lahir dari kerja sendirian. Kolaborasi antara Departemen PKO FIK UM dan One Lotus Personal Therapy menjadi salah satu kunci di balik keberhasilan program, khususnya dalam memperkuat kapasitas pelatih menjaga keselamatan dan keberlangsungan karier atlet binaan mereka di Malang Raya.
Namun, dampak yang paling terasa justru ada pada level akar rumput. Selama ini, banyak pelatih di klub-klub kecil menangani cedera atletnya semata berbekal insting dan pengalaman lapangan, tanpa panduan medis yang memadai. Lewat pelatihan ini, mereka kini memiliki pemahaman yang setara dengan standar penanganan cedera berbasis bukti ilmiah, sehingga celah kesalahan penanganan di tingkat klub maupun sasana kecil dapat diperkecil.
Dokumentasi peserta Sosialisasi Pertolongan Pertama Cedera Olahraga.Bekal pengetahuan baru itu diharapkan tidak berhenti sebagai teori. Ke depan, para pelatih di berbagai klub dan sasana bela diri Malang Raya diharapkan sigap memberikan pertolongan pertama yang tepat begitu atlet binaannya mengalami cedera, sekaligus turut menjaga agar karier atlet tersebut dapat bertahan lebih lama.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini pun menjadi penegasan bahwa LPPM UM, bersama tim Departemen PKO FIK, terus berupaya hadir di tengah kebutuhan nyata masyarakat olahraga Malang Raya. Ke depan, kemitraan semacam ini dengan pihak seperti One Lotus Personal Therapy diharapkan dapat direplikasi pada cabang olahraga lain, sehingga ekosistem olahraga Indonesia secara keseluruhan tumbuh menjadi lebih aman dan berkelanjutan bagi para atletnya.
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang