Gap Year Bukan Berarti Kalah, BRITS Siapkan Strategi Belajar Siswa Menuju Perguruan Tinggi

A. Nugroho • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:09 WIB
SEMANGAT: BRITS menghadirkan program Gap Year selama satu tahun dengan pendampingan belajar terarah.
SEMANGAT: BRITS menghadirkan program Gap Year selama satu tahun dengan pendampingan belajar terarah.

MALANG, RADAR MALANG — Mengambil gap year setelah lulus SMA bukan berarti berhenti mengejar perguruan tinggi. Masa satu tahun tersebut justru dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi persiapan sebelumnya dan menyusun strategi baru agar lebih siap menghadapi seleksi pada tahun berikutnya.

Namun, tanpa perencanaan yang matang, waktu satu tahun berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal. Karena itu, BRITS menghadirkan program Gap Year selama satu tahun dengan pendampingan belajar terarah.

Program tersebut tidak hanya mempersiapkan siswa menghadapi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), tetapi juga berbagai jalur masuk perguruan tinggi, seperti jalur mandiri dan Kelas Internasional (IUP), serta seleksi sekolah kedinasan.

Manager Operasional BRITS Malang, Irsyadul Halim, mengatakan siswa yang memilih gap year perlu melakukan evaluasi terhadap persiapan sebelumnya.

“Kalau memang memilih gap year, jangan sampai satu tahun itu hanya digunakan untuk mengulang hal yang sama. Harus ada evaluasi, apa yang kurang dari persiapan sebelumnya, harus diperbaiki selama satu tahun ini,” ujarnya.

Menurut Irsyadul, pembelajaran tidak cukup hanya dengan memperbanyak latihan soal. Siswa perlu mengetahui kelemahan konsep dan strategi pengerjaan yang masih harus diperbaiki.

“Yang kami coba bangun di BRITS bukan hanya bagaimana anak bisa mengerjakan soal sebanyak-banyaknya. Kami ingin tahu dulu fondasinya seperti apa. Kalau materi dasarnya masih kurang, tentu tidak bisa langsung kita dorong ke drilling soal,” katanya.

Karena itu, program Gapyear diawali dengan matrikulasi dan penguatan materi dasar sebelum siswa mengikuti latihan soal secara intensif. Pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan pendampingan tentor, belajar bersama teman sebaya, penugasan, serta drilling soal secara rutin.

BRITS juga menyediakan empat tipe kelas berdasarkan jumlah siswa, yakni Platinum maksimal tiga siswa, Gold lima hingga tujuh siswa, Executive 10 hingga 13 siswa, dan Junior 15 hingga 20 siswa.

“Setiap anak punya kebutuhan yang berbeda. Ada yang membutuhkan pendampingan sangat intensif, ada juga yang bisa berkembang dengan belajar dalam kelompok yang lebih besar,” ujar Irsyadul.

Ia menambahkan, konsistensi menjadi salah satu tantangan siswa selama menjalani gap year. Karena itu, sistem belajar yang memiliki jadwal, pendampingan, tugas, dan evaluasi diperlukan agar siswa tetap menjaga ritme belajar.

“Gap year bukan berarti kalah. Yang penting adalah usaha apa yang dilakukan selama satu tahun tersebut. Kalau digunakan untuk memperbaiki kemampuan dan strategi, anak bisa datang ke seleksi berikutnya dengan kondisi yang lebih siap,” tuturnya.

BRITS saat ini memiliki cabang di Malang, Jogjakarta, Bandung, Samarinda, dan Semarang. Pusat BRITS berada di Jalan Kendalsari Barat No. 17 C, Lowokwaru, Kota Malang.

Irsyadul menegaskan, gap year dapat menjadi kesempatan bagi siswa untuk memperbaiki diri sebelum kembali mengikuti seleksi perguruan tinggi.

“Kalau memang masih punya cita-cita yang ingin diperjuangkan, jangan takut mengambil gap year. Yang penting siapkan strategi belajarnya. Satu tahun itu cukup panjang untuk melakukan perubahan jika dijalani dengan serius dan terarah,” pungkasnya. (aw)

Editor : A. Nugroho
brits sma UTBK Gap Year sekolah