Musim Maba, Okupansi Hotel di Kota Malang Naik hingga 10 Persen

Nahdiatul Affandiah • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 14:02 WIB
BAWA DAMPAK EKONOMI: Universitas Brawijaya (UB) memulai rangkaian PKKMB sejak Senin lalu (10/8). (Humas UB For Radar Malang)
BAWA DAMPAK EKONOMI: Universitas Brawijaya (UB) memulai rangkaian PKKMB sejak Senin lalu (10/8). (Humas UB For Radar Malang)

MALANG KOTA, RADAR MALANG - Kedatangan 40 ribu mahasiswa baru (maba) di Kota Malang membawa dampak ekonomi yang cukup signifikan. Pelaku UMKM di sekitar kampus melaporkan peningkatan penjualan.

Terutama penyedia jasa perlengkapan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Selain itu, jasa penginapan seperti hotel dan kos-kosan di sekitar kampus juga mengalami kenaikan okupansi hingga 10 persen.

Kenaikan transaksi ekonomi selama PKKMB itu juga menjadikan driver ojek online dan angkutan umum banjir penumpang. Itu disebabkan kebijakan PKKMB yang melarang maba membawa kendaraan sendiri.

Alhasil, jalanan padat pada jam-jam tertentu karena banyak maba mengantre di depan gerbang untuk dijemput atau menunggu ojek online. 

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang Agoes Soebekti menuturkan, sejak masa PKKMB, hotel-hotel bintang tiga ke atas mulai banyak dipesan. 

Pemesan kamar itu mayoritas dari orang tua mahasiswa yang mengantar anaknya merantau. ”Biasanya satu keluarga menginap di hotel, mengantar anaknya jadi maba sekalian jalan-jalan,” ujar dia. Namun tak semua hotel merasakan peningkatan okupansi itu. 

Biasanya, hanya hotel dekat tempat wisata dan kampus saja yang merasakannya. Selain hotel, bisnis kos-kosan juga meraup banyak penghuni baru.

Rata-rata okupansi kos di sekitar kampus saat ini sudah 80 persen. Dengan segmen kos premium dan kos sedang yang paling banyak dicari.

Panca Ahmad, salah satu pengelola kos di Kota Malang menuturkan, okupansi di bisnis kosnya sudah mencapai 100 persen. Seluruh kamar sejumlah 13 unit habis dipesan sejak bulan Mei. ”Karena letak kos saya strategis hanya satu kilometer dari UM dan menawarkan harga yang terjangkau, jadi sangat laris,” kata dia. 

Bagi maba, pengeluaran saat PKKMB memang cukup menguras kantong. Selain memikirkan biaya transportasi, mereka masih harus mencari atribut untuk PKKMB. Mulai dari name tag, ID card, hingga handbook yang permintaannya di jenjang universitas dan fakultas berbeda.

Salah satu maba UB bernama Syakilla menuturkan, selama PKKMB dia mengeluarkan uang lebih dari Rp 300 ribu. Itu untuk membayar jasa penyedia perlengkapan PKKMB seharga Rp 170 ribu. ”Sisanya untuk biaya transport,” ujarnya.

Syakilla lebih memilih menggunakan jasa penyedia atribut PKKMB karena lebih praktis. Sebab dia belum terlalu mengenal Kota Malang. Sementara penugasan pencarian atribut sering datang dengan tenggat waktu yang singkat.

Mahasiswa asal Jakarta itu juga harus membayar biaya kos bulanan senilai Rp 1,3 juta karena berada di area perumahan Graha Agung. Belum lagi biaya makan dan perjalanan selama perkuliahan. (aff/by)

 

Editor : Bayu Mulya Putra
Hotel Kota Malang PKKMB UB PKKMB UM Musim Maba malang hari ini