FILKOM UB Siapkan Program AI Inklusif, Talenta yang Gagal Seleksi AITF Tetap Diberi Panggung

Indra Andi • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 09:43 WIB
Dok. PSIK FILKOM UB
Dok. PSIK FILKOM UB

 

 

MALANG – Kesempatan mengembangkan talenta kecerdasan buatan (AI) di Universitas Brawijaya (UB) bakal diperluas. Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) tengah menyiapkan program mandiri yang menyerupai Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) untuk mewadahi mahasiswa yang belum lolos seleksi program nasional tersebut.

Gagasan itu mengemuka setelah FILKOM UB menjadi lokasi pembukaan Workshop 1 AITF 2026 pada Rabu (11/3/2026). Program yang diinisiasi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam pengembangan talenta AI di Indonesia.

Namun, ketatnya proses seleksi juga menunjukkan masih besarnya potensi talenta yang belum terakomodasi. Dari lebih dari 120 pendaftar Batch 2 yang berasal dari berbagai fakultas, hanya 38 talenta yang dinyatakan lolos.

Kondisi tersebut mendorong FILKOM UB mengambil langkah lanjutan. Dekan FILKOM UB Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM., mengatakan fakultas memiliki tanggung jawab untuk memastikan talenta yang belum lolos tetap memperoleh ruang untuk berkembang.

“Kami melihat ada potensi luar biasa yang belum terfasilitasi. Oleh karena itu, di bawah koordinasi dengan Wakil Rektor Bidang Akademik, kami di internal FILKOM tengah menyiapkan program serupa (AITF-like) untuk memberikan wadah bagi mereka yang tidak terserap di kegiatan AITF ini,” ungkap Tri Astoto.

Menurutnya, inovasi tidak semestinya terhenti hanya karena keterbatasan kuota. Melalui program tersebut, mahasiswa akan mendapat wadah yang lebih terstruktur untuk mengasah kemampuan sekaligus mengembangkan gagasan berbasis AI.

Menariknya, program mandiri UB itu nantinya tidak akan sekadar meniru program AITF. Peserta justru diarahkan mengeksplorasi persoalan atau use case baru yang belum menjadi fokus dalam AITF 2026.

Saat ini, AITF membagi fokus pengembangan use case di tiga perguruan tinggi. Di UB, fokusnya meliputi Sekolah Rakyat serta pemetaan kemiskinan dan bantuan sosial di Jawa Timur. Sementara Universitas Gadjah Mada (UGM) menggarap komunikasi publik dan media.

Adapun Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berfokus pada persoalan disinformasi, fitnah dan ujaran kebencian, serta perlindungan anak di ruang digital.

Pemetaan tersebut menjadi acuan FILKOM UB agar program baru yang disiapkan tidak menghasilkan inovasi yang tumpang tindih. Peserta akan didorong mencari persoalan lain yang membutuhkan solusi berbasis AI.

Peluangnya cukup luas. Mulai sektor kesehatan, ketahanan pangan, hingga optimalisasi infrastruktur daerah yang memiliki karakteristik dan kebutuhan spesifik. Dengan demikian, inovasi mahasiswa tidak hanya relevan bagi kebutuhan lokal, tetapi juga berpotensi dikembangkan untuk menjawab persoalan nasional.

Tri Astoto menegaskan, program tersebut bukan sekadar kegiatan tambahan. Inisiatif itu menjadi bagian dari upaya FILKOM UB membangun ekosistem pendidikan yang mampu mengikuti perkembangan kebutuhan industri dan teknologi.

“Langkah ini sejalan dengan komitmen kami dalam membangun proses pendidikan yang organik. Di FILKOM UB, kami terus mengarahkan kurikulum dan atmosfer akademik agar setiap mahasiswa—baik yang tergabung dalam program khusus maupun reguler—memiliki kompetensi AI yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan,” tambahnya.

Dengan langkah tersebut, FILKOM UB ingin mengambil peran lebih luas. Tidak hanya menjadi tuan rumah program pengembangan talenta AI berskala nasional, tetapi juga membangun ruang tumbuh bagi talenta yang belum mendapatkan kesempatan melalui jalur utama.

Program AITF-like itu diharapkan menjadi wadah pembinaan bagi mahasiswa untuk menguji gagasan, memperkuat kompetensi, sekaligus menghasilkan solusi AI yang berdampak. Bagi FILKOM UB, tidak lolos seleksi bukan berarti perjalanan talenta harus berhenti. Justru, kegagalan di satu pintu dapat menjadi awal untuk membuka pintu kesempatan yang lain. (rr/tak)

Editor : Indra Andi
AITF FILKOM UB Universitas Brawijaya (UB)