Lahan Sempit Bukan Masalah, Mahasiswa FPIK UB Hadirkan LEKUNGAN untuk Ketahanan Pangan Warga

A. Nugroho • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:58 WIB
APLIKATIF: Mahasiswa Kelompok 37 PKM-B FPIK UB mendemonstrasikan perangkat LEKUNGAN kepada warga Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.
APLIKATIF: Mahasiswa Kelompok 37 PKM-B FPIK UB mendemonstrasikan perangkat LEKUNGAN kepada warga Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

MALANG, RADAR MALANG - Keterbatasan lahan pekarangan tidak harus menjadi penghalang bagi keluarga untuk memproduksi pangan sendiri. Berangkat dari persoalan tersebut, 19 mahasiswa Kelompok 37 Pengabdian kepada Masyarakat-Bahari (PKM-B) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan LEKUNGAN, singkatan dari Lele Kangkung Berbasis Aquaponik, di Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

Program yang dibimbing Dr Nanik Retno Buwono, S.Pi., M.P., dosen Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) FPIK UB, dirancang sebagai teknologi tepat guna yang mudah diterapkan di pekarangan rumah. Melalui satu unit budidaya, warga dapat memelihara ikan lele sekaligus menanam kangkung dengan penggunaan ruang yang lebih efisien.

LEKUNGAN diperkenalkan kepada kelompok Perempuan Berdaya Desa Genengan sebagai alternatif untuk memperkuat ketersediaan pangan keluarga. Selain memenuhi kebutuhan protein hewani dan sayuran, sistem ini juga diarahkan agar dapat dikembangkan sebagai kegiatan produktif bernilai ekonomi di tingkat rumah tangga.

Satu Wadah, Dua Sumber Pangan

LEKUNGAN menggabungkan akuakultur atau budidaya ikan lele dengan hidroponik kangkung dalam satu sistem akuaponik sederhana. Wadah yang digunakan dapat berupa ember berkapasitas sekitar 80 liter maupun galon air mineral bekas yang dimanfaatkan kembali sehingga sistem lebih mudah disesuaikan dengan kondisi pekarangan warga.

SEMANGAT: Kegiatan sosialisasi dan demonstrasi LEKUNGAN diikuti 53 ibu rumah tangga Desa Genengan.
SEMANGAT: Kegiatan sosialisasi dan demonstrasi LEKUNGAN diikuti 53 ibu rumah tangga Desa Genengan.

 


Dalam skema budidaya yang diperkenalkan kepada warga, kangkung ditargetkan dapat dipanen pertama kali pada umur sekitar 14-21 hari setelah tanam dan dipanen ulang beberapa kali. Sementara itu, lele dipelihara hingga masa panen sekitar dua sampai tiga bulan.

Berdasarkan perhitungan program, dari 50 ekor benih lele dengan asumsi tingkat kelangsungan hidup atau survival rate sebesar 85 persen, sekitar 42-43 ekor diproyeksikan bertahan hingga panen. Potensi hasil panen lele diperkirakan mencapai sekitar 6,45-8,60 kilogram per unit.


Konsep tersebut membuat LEKUNGAN tidak hanya berfungsi sebagai sarana budidaya, tetapi juga sebagai media edukasi tentang pemanfaatan ruang, efisiensi penggunaan air, dan pengelolaan sumber daya rumah tangga secara lebih produktif.

Sosialisasi dan Demonstrasi Libatkan 53 Warga

Pengenalan LEKUNGAN dilakukan melalui kegiatan sosialisasi dan demonstrasi yang diikuti 53 ibu rumah tangga Desa Genengan. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menjelaskan prinsip dasar akuaponik, cara menyiapkan wadah, serta tahapan pemeliharaan ikan lele dan kangkung.
Sebagai langkah awal penerapan di masyarakat, tim PKM-B menyerahkan satu unit LEKUNGAN beserta benih kangkung dan lele untuk setiap RT di Desa Genengan. Pembagian unit tersebut diharapkan menjadi titik awal agar warga dapat mencoba, merawat, dan kemudian mengembangkan sistem serupa secara mandiri.

BERSAMA WARGA: Praktik LEKUNGAN diikuti ibu rumah tangga Desa Genengan.
BERSAMA WARGA: Praktik LEKUNGAN diikuti ibu rumah tangga Desa Genengan.

 

Pendampingan tidak berhenti setelah kegiatan sosialisasi. Kelompok 37 PKM-B FPIK UB melakukan monitoring secara rutin untuk membantu warga dalam pemeliharaan hingga memasuki masa panen. Pendampingan juga mencakup aspek teknis budidaya dan pencatatan keuangan sederhana agar pengelolaan unit dapat berkembang secara lebih terarah.


Ketahanan Pangan Dimulai dari Pekarangan


Melalui LEKUNGAN, pekarangan rumah yang terbatas diarahkan menjadi ruang produksi pangan skala keluarga. Kombinasi lele dan kangkung memungkinkan warga memperoleh sumber protein hewani dan sayuran dari satu sistem budidaya yang relatif ringkas dan mudah ditempatkan di lingkungan rumah.


Program ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). LEKUNGAN mendukung SDG 2 (Zero Hunger) melalui upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga dan akses terhadap pangan sehat, serta SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui penyediaan sumber protein hewani dan sayuran untuk mendukung pemenuhan gizi keluarga.


Dari sisi lingkungan, pemanfaatan kembali galon bekas dan penggunaan air yang lebih efisien dalam sistem akuaponik turut mendukung SDG 12 (Responsible Consumption and Production). Pendekatan ini menunjukkan bahwa upaya memenuhi kebutuhan pangan dapat berjalan beriringan dengan pemanfaatan sumber daya secara lebih bertanggung jawab.

Dengan pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan, kelompok Perempuan Berdaya Desa Genengan diharapkan mampu mengelola dan mengembangkan LEKUNGAN secara mandiri. Inovasi sederhana tersebut menjadi contoh bahwa keterbatasan lahan dapat diubah menjadi peluang untuk memperkuat kemandirian pangan keluarga dari pekarangan rumah. (*)

Editor : A. Nugroho
genengan pakisaji Masyarakat Pengabdian FPIK UB