Inovasi Bumbu Siap Masak, STIMATA Dorong Empal Gentong Masuk Pasar Digital

A. Nugroho • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 18:17 WIB
BERDAYA: Program Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) di Industri Rumah Tangga (IRT) Empal Gentong Berkah 27, Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.
BERDAYA: Program Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) di Industri Rumah Tangga (IRT) Empal Gentong Berkah 27, Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

 

KOTA MALANG, RADAR MALANG – Cita rasa kuliner tradisional kini terus didorong untuk beradaptasi dengan perkembangan pasar. Salah satunya dilakukan tim dosen dan mahasiswa STMIK PPKIA Pradnya Paramita (STIMATA) Malang melalui Program Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) di Industri Rumah Tangga (IRT) Empal Gentong Berkah 27, Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Program bertajuk “Pemberdayaan IRT Empal Gentong Berkah 27 Melalui Inovasi Bumbu Kemasan Siap Masak di Desa Asrikaton, Pakis Malang” tersebut berfokus pada pengembangan produk bumbu siap masak, penguatan branding, peningkatan sarana produksi, serta optimalisasi pemasaran digital.
Program yang didukung hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2026 ini berangkat dari sejumlah kendala yang dihadapi mitra. Di antaranya keterbatasan sarana produksi, pengemasan bumbu, serta pemanfaatan media sosial dan marketplace yang belum optimal.

Tim PMP STIMATA diketuai Jauharul Maknunah, S.E., M.M., dengan anggota Dwi Safiroh Utsalina, S.Kom., MMSI, dan Dr. Indah Dwi Mumpuni, S.Kom., MMSI. Program juga melibatkan mahasiswa Naulan Darmawan dari S1 Sistem Informasi dan Abdulloh Al-Hudda Makatul Mukaromah dari D3 Sistem Informasi.

Pendampingan dimulai melalui koordinasi intensif sejak 18 Mei 2026. Tahap tersebut digunakan untuk memetakan kebutuhan usaha sekaligus merancang pengadaan sarana produksi, seperti mesin giling bumbu, vacuum sealer, neon box, dan berbagai peralatan pendukung.
Penguatan identitas usaha kemudian dilakukan melalui pelatihan branding pada 15 Juli 2026. Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata pemahaman peserta mencapai 84,8 persen. Bahkan, beberapa materi teknis, seperti pemisahan merek dan pendiri, pemanfaatan Instagram Professional, serta integrasi WhatsApp Business, mencapai tingkat pemahaman hingga 100 persen.

Tak hanya dari sisi pengetahuan, pelatihan juga mendorong kepercayaan diri mitra. Rata-rata skor kepercayaan diri mencapai 3,88 dari skala 5. Mitra juga didorong untuk mulai menerapkan identitas merek di media sosial, memanfaatkan social proof, serta memantau kinerja pemasaran.

Penguatan branding secara fisik dilanjutkan dengan pemasangan neon box di tempat usaha pada 16 Juli 2026. Keberadaan papan identitas tersebut diharapkan membuat warung Empal Gentong Berkah 27 lebih mudah dikenali dan ditemukan konsumen, termasuk pada malam hari.

Di sisi produksi, tim PMP menyerahkan sejumlah peralatan, mulai mesin giling bumbu, vacuum sealer, timbangan digital, plastik vacuum, aluminium foil, hingga label kemasan. Sarana tersebut ditujukan untuk menghasilkan bumbu empal gentong yang lebih higienis, tahan lama, serta memiliki konsistensi rasa.

Inovasi ini sekaligus membuka peluang agar produk tidak hanya dipasarkan sebagai makanan siap saji di sekitar warung. Bumbu empal gentong dalam kemasan memungkinkan produk dikirim ke konsumen di luar daerah sehingga jangkauan pasar dapat diperluas.
Meski demikian, transformasi digital masih membutuhkan pendampingan berkelanjutan. Evaluasi menunjukkan pemahaman mengenai penataan konten dan etalase digital berada di angka 60 persen. Sementara itu, tingkat kepercayaan diri mitra dalam membuat video pendek atau Reels mencapai skor 3,60 dari skala 5.
Ketua Tim PMP STIMATA Jauharul Maknunah, S.E., M.M., mengatakan program tersebut dirancang tidak sekadar memberikan bantuan peralatan, tetapi membangun kemampuan mitra agar mampu mengembangkan usahanya secara mandiri.

“Program ini kami arahkan agar potensi kuliner lokal tidak hanya bertahan sebagai usaha makanan siap saji, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki identitas, kemasan, dan jangkauan pemasaran yang lebih luas,” ujarnya.

Pendampingan selanjutnya diarahkan pada optimalisasi akun bisnis, produksi konten secara konsisten, pemanfaatan marketplace, serta evaluasi dan monitoring berkala. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi Empal Gentong Berkah 27 sekaligus meningkatkan daya saing usaha rumah tangga di tengah perubahan perilaku konsumen.

Melalui inovasi produk, penguatan sarana produksi, pembenahan branding, dan digitalisasi pemasaran, STIMATA berupaya menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam pendidikan, tetapi juga dapat menjadi mitra strategis bagi pelaku usaha lokal untuk naik kelas dan memperluas pasar di era digital. (*)

Editor : A. Nugroho
stimata Pemberdayaan malang