Polinema Dorong Digitalisasi Bank Sampah Tunjungsekar, Perkuat Lingkungan dan Ekonomi Warga

Indra Andi • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:33 WIB
PENGABDIAN :  Tim dosen Politeknik Negeri Malang Bersama Ibu-ibu PKK, Kader Lingkungan, dan Masyarakat Setempat.
PENGABDIAN : Tim dosen Politeknik Negeri Malang Bersama Ibu-ibu PKK, Kader Lingkungan, dan Masyarakat Setempat.

 

MALANG  — Tim dosen Politeknik Negeri Malang (Polinema) yang diketuai oleh Dharmawan Iqbal Akbar, S.ST., M.S.A., dengan anggota Aditya Arisudhana, S.E., M.Acc. dan Kunti Eliyen, S.Kom., M.T  mendorong penguatan pengelolaan Bank Sampah di Kelurahan Tunjungsekar, Kota Malang, melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat dengan  skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat tahun pendanaan 2026.

Program yang berlangsung Juni hingga Desember 2026 itu dipusatkan di Kampung Mbesuk Ambyar atau Kampung Mebel Kemirahan, Tunjungsekar. Kegiatan menyasar pengelola bank sampah, ibu-ibu PKK, kader lingkungan, dan masyarakat setempat.

Ketua tim pengabdian, Dharmawan Iqbal Akbar, S.ST., M.S.A., mengatakan program tersebut bertujuan membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur, transparan, dan berkelanjutan.

“Program ini tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah, tetapi juga bagaimana sampah dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat melalui penguatan kelembagaan, literasi keuangan, dan pemanfaatan teknologi digital,” ujarnya.

Menurut Dharmawan, program ini dilatarbelakangi tingginya timbunan sampah rumah tangga dan limbah aktivitas industri mebel, serta belum optimalnya pemilahan dan administrasi bank sampah. Penguatan pengelolaan sampah juga diharapkan mendukung Program Kampung Iklim (Proklim) di Kelurahan Tunjungsekar.

Sejumlah kegiatan dilakukan, mulai sosialisasi, revitalisasi infrastruktur, pelatihan pemilahan sampah dan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), penyusunan SOP, pengelolaan keuangan berbasis akuntansi, hingga pengembangan produk ekonomi kreatif dari sampah anorganik.

Polinema juga memberikan fasilitas pendukung, seperti timbangan digital, bak sampah organik dan anorganik, mesin pencacah plastik, perlengkapan keselamatan kerja, serta sarana budidaya maggot. Pengolahan sampah plastik menjadi material cacah atau plastic flakes berpotensi meningkatkan nilai jual sekitar 50–60 persen dibandingkan plastik dalam kondisi utuh.

FASILITAS : Polinema juga memberikan fasilitas pendukung, seperti timbangan digital, bak sampah organik dan anorganik, mesin pencacah plastik, perlengkapan keselamatan kerja, serta sarana budidaya maggot.
FASILITAS : Polinema juga memberikan fasilitas pendukung, seperti timbangan digital, bak sampah organik dan anorganik, mesin pencacah plastik, perlengkapan keselamatan kerja, serta sarana budidaya maggot.

 

Inovasi lainnya berupa Aplikasi Sistem Informasi Keuangan Bank Sampah Digital. Aplikasi ini memungkinkan pengelola mencatat data nasabah, setoran sampah, harga dan jenis sampah, transaksi penjualan, hingga pemasukan dan pengeluaran kas. Nasabah juga dapat memantau saldo serta riwayat transaksi.

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan keberdayaan masyarakat. Pada aspek sosial kemasyarakatan, keberdayaan pengelola meningkat 12 persen menjadi 81 persen, sedangkan warga naik 11 persen menjadi 85 persen. Pada aspek manajemen, keberdayaan pengelola meningkat 14 persen menjadi 76 persen dan warga 10 persen menjadi 79 persen.

Dharmawan menambahkan, tahap berikutnya diarahkan pada penyempurnaan Bank Sampah Digital, pendampingan operasional, pengembangan produk ekonomi kreatif, dan evaluasi keberlanjutan.

“Kami berharap sistem yang dibangun dapat terus berjalan setelah program selesai, sehingga masyarakat mampu mengelola sampah secara mandiri sekaligus memperoleh manfaat ekonomi,” pungkasnya.

Program tersebut mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (Aw)

Editor : Indra Andi
bank sampah pengabdian kepada masyarakat Politeknik Negeri Malang