MALANG – Sejumlah lembaga dan komunitas di Kota Malang bergerak cepat merespons bencana yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Flores. Koordinasi tanggap darurat dan bantuan bencana digelar di Aula St. Thomas Aquino Universitas Widya Karya (UWK) Malang, Selasa (18/8).
Koordinator Posko Tanggap Darurat Bencana Florest NTT Saverius Ndhuri Mbipi, S.Ak., M.Ak. mengatakan, dia bersama timnya telah melakukan komunikasi dan mendapati beberapa daerah yang belum mendapatkan bantuan. “Kami sempat berkomunikasi dengan korban yang terdampak di sana lalu menemukan ada daerah yang belum tersentuh sama sekali. Itu yang kemudian menjadi fokus kami,” tuturnya.
Mereka membuka donasi untuk pakaian layak pakai, bahan dan makanan pokok, obat-obatan, perlengkapan bayi, serta kebutuhan darurat lainnya. Selain itu, tim juga membuka donasi secara tunai dengan melakukan transfer ke Yayasan Perguruan Tinggi Katolik Adisucipto.
Saver mengatakan, donasi yang telah dikumpulkan nantinya akan disalurkan oleh tim posko. Nantinya , mereka akan berkoordinasi bersama alumni UWK yang berada di lokasi. Alumni tersebut merupakan bagian langsung dari Ikatan Alumni Universitas Katolik Widya Karya Malang.
Lebih lanjut, pengadaan posko ini juga bekerja sama dengan organisasi Flobamora (Flores, Sumba, Timor, Alor, Sabu, Rote) Malang Raya, Yayasan Charis Indonesia, dan Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Malang. “Kami butuh mitra untuk membantu menggalang donasi. Kemudian, tim bertugas menyortir barang dan membersihkan pakaian-pakaian sehingga layak pakai,” ujarnya.
Terkait batas akhir penerimaan donasi, Saver dan tim belum memberikan tenggat yang pasti. Itu karena ia masih akan memastikan distribusi yang akan disalurkan ke sana tepat sasaran. Saver berharap agar bantuan yang hadir juga menjangkau daerah-daerah pelosok. “Dengan momentum kemerdekaan ini mari kita bersama-sama bahu-membahu untuk membantu meringankan masyarakat di sana," pungkasnya.
Menurut dia, Nagekeo merupakan salah satu wilayah yang terdampak dan dinilai perlu mendapat perhatian dalam penanganan darurat. Rektor Universitas Widya Karya Malang bahkan mengusulkan agar cakupan bantuan diperluas hingga Nagekeo. “Bantuan jangan hanya terfokus pada wilayah yang sudah mendapatkan informasi. Kabupaten Nagekeo juga perlu masuk dalam cakupan bantuan,” terangnya.
Untuk memastikan kondisi di lapangan, peserta rapat juga melakukan komunikasi langsung dengan keluarga di Ende. Langkah tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi warga sekaligus kebutuhan yang paling mendesak.
Sementara itu, perwakilan Flobamora menyatakan kesiapan untuk ikut ambil bagian dalam aksi kemanusiaan tersebut. Dukungan dari berbagai lembaga dinilai penting agar bantuan dapat dihimpun dan disalurkan secara terkoordinasi. Perhatian khusus juga diarahkan kepada mahasiswa asal NTT yang kini berada di Kota Malang. Perwakilan Charis Indonesia menyebut terdapat sekitar 400 mahasiswa asal wilayah terdampak yang saat ini berada di Kota Malang.
Sebagian di antara mereka bahkan dilaporkan mengalami kesulitan menghubungi keluarga di daerah asal. Kondisi tersebut dinilai membutuhkan perhatian dan pendampingan bersama. Karena itu, rapat menyepakati perlunya penjaringan dan pendataan mahasiswa asal NTT di Kota Malang. Prioritas diberikan kepada mahasiswa yang kehilangan kontak dengan keluarga, memiliki keluarga di daerah terdampak, maupun mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Selain pendataan, posko pengumpulan bahan dan logistik bantuan juga akan diaktifkan. Posko tersebut diharapkan menjadi pusat koordinasi pengumpulan bantuan dari lembaga, komunitas, maupun masyarakat yang ingin turut membantu korban bencana di Flores. Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Malang turut menyatakan kesiapan untuk mengulurkan bantuan. Sementara perwakilan Manggarai Barat dan Ruteng menyampaikan perhatian terhadap perkembangan kondisi di wilayah Ruteng dan sekitarnya.
Dari koordinasi tersebut, sejumlah langkah tindak lanjut disepakati. Pertama, bantuan untuk wilayah Flores akan segera direalisasikan karena sifat kebutuhannya mendesak. Kedua, cakupan bantuan diperluas hingga Kabupaten Nagekeo. Ketiga, posko pengumpulan bantuan diaktifkan. Keempat, dilakukan penjaringan terhadap sekitar 400 mahasiswa asal wilayah terdampak yang berada di Kota Malang.
Seluruh lembaga dan komunitas yang hadir menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dan saling mendukung dalam upaya tanggap darurat. Koordinasi lintas lembaga ini diharapkan dapat mempercepat bantuan sekaligus memastikan kebutuhan warga dan mahasiswa asal NTT tidak luput dari perhatian. Langkah tersebut menjadi bagian awal dari gerakan tanggap darurat yang diharapkan mampu menjembatani kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak dengan dukungan dari Kota Malang. (ja1/lid)
Editor : Kholid Amrullah