MALANG, RADAR MALANG - Ute dan Angel (21), dua mahasiswi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (FKH UB), tak pernah menyangka bahwa rutinitas kehidupan di tengah hiruk-pikuk Jabodetabek akan membawa mereka hingga ke Desa Lintang, Simpang Renggiang, Belitung Timur – yang mengantarkan mereka pula untuk mendapatkan gelar sarjana. Di bawah payung penelitian drh. Andreas Bandang Hardian, MVSc., anggota Kelompok Eksotik Akuatik dan Satwa Liar (Kelawar) FKH UB tersebut terlibat dalam penelitian dan pengabdian masyarakat bersama Komunitas Tebat Rasau, komunitas nelayan sungai air tawar yang menjadi bagian penting dalam agenda konservasi dan penyelamatan populasi liar kura-kura byuku (Orlitia borneensis) yang sudah sangat terancam punah.
Inisiatif yang digagas Wildlife Rescue Centre (WRC) Jogja – Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY) didukung oleh IUCN - Asian Species Action Partnership (ASAP) dan Stiftelsen Nordens Ark ini melibatkan Gembira Loka Zoo, Yayasan KONKLUSI, Yayasan Satucita Lestari Indonesia, Komunitas Tebat Rasau, FKH UB, dan FKH Universitas Gadjah Mada di bawah pengawasan Kementerian Kehutanan. Pulau Belitung, yang jejak geologinya terhubung dengan jaringan sungai purba, menyimpan Geosite Tebat Rasau sebagai lanskap berharga yang ditetapkan UNESCO sebagai salah satu area prioritas konservasi dan habitat alami kura-kura byuku.
Selama tiga tahun terakhir, FKH UB turut mengambil peran dalam agenda konservasi kura-kura byuku yang diinisiasi oleh WRC Jogja melalui penyediaan data referensi medis dan genetik yang digawangi drh. Andreas Bandang Hardian, MVSc. Sebanyak sepuluh mahasiswa sarjana dan satu staf FKH UB telah terlibat dalam riset melalui skripsi dan tesis pascasarjana yang mencakup profil genetik, hematologi, biokimia darah, hingga analisis alometrik morfologi dan morfometri dari kura-kura yang selama ini masih tergolong sebagai spesies terabaikan. Pada Juli 2025, Ute dan Angel melanjutkan kontribusi tersebut dengan turun langsung ke lapangan, mengkaji kualitas air sebagai salah satu faktor penting bagi kesehatan byuku sekaligus mengembangkan metode deteksi environmental DNA (eDNA) untuk mencari keberadaannya di Sungai Lenggang, yang sebelumnya diuji pula pada kolam penangkaran eksitu Gembira Loka Zoo.
Bagi FKH UB, keterlibatan ini tidak hanya menghasilkan data ilmiah, tetapi menjadi wujud nyata bagaimana ilmu kedokteran hewan dapat hadir di garis depan konservasi – menghubungkan pengetahuan medis, genetika, ekologi, mahasiswa, dan masyarakat dalam satu upaya bersama untuk memastikan byuku tidak sekadar bertahan, tetapi tetap menjadi bagian dari ekosistem perairan air tawar, khususnya bagi masyarakat nelayan sungai di Belitung Timur.
Bagi Ute dan Angel, perjalanan ini bukan sekadar penelitian dengan skripsi yang sudah mereka pertahankan di bulan Agustus 2026 ini, tetapi menjadi pengalaman untuk memahami bahwa konservasi tidak berhenti pada penyelamatan satwa – ia juga tentang memperkuat pengetahuan, kapasitas, dan peran masyarakat yang hidup berdampingan dengan ekosistem.
Dari ruang kelas di kota besar hingga tepian sungai di Belitung Timur, keduanya membuktikan bahwa mahasiswi dari ibu kota pun dapat berkontribusi nyata dalam membangun sumber daya manusia dan memperkuat ekosistem di tingkat tapak dan akar rumput. Sebab perubahan besar dalam konservasi sering kali bermula dari tempat-tempat sederhana, ketika sains bertemu dengan pengetahuan masyarakat dan keduanya bergerak bersama menjaga alam.
Di Kabupaten Belitung Timur - Negeri Laskar Pelangi, Ute dan Angel menemukan bahwa perjalanan konservasi tidak hanya berlangsung melalui data dan penelitian. Di sela aktivitas riset, keduanya berbaur dengan anggota Komunitas Tebat Rasau, berkomunikasi dengan anak-anak seusianya, menjelajahi sudut-sudut desa, hingga ikut memasak dan menikmati hidangan khas Belitung. Dari interaksi sederhana tersebut, mereka belajar bahwa setiap tempat memiliki cerita, pengetahuan, dan kearifan lokal yang layak dihargai.
Pengalaman itu perlahan menumbuhkan empati, kepekaan sosial, serta kesadaran bahwa sebagai mahasiswa yang memperoleh kesempatan dan pendidikan lebih luas, mereka memiliki tanggung jawab moral untuk tidak hanya mengembangkan ilmu bagi diri sendiri, tetapi juga menggunakannya untuk hadir, belajar bersama, dan memberi manfaat bagi masyarakat serta lingkungan di sekitarnya. Negeri Laskar Pelangi pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar lokasi penelitian – ia menjadi ruang belajar tentang manusia, alam, dan makna pengabdian.
“Selama bergabung dalam misi bersama WRC Jogja, kami belajar bahwa konservasi tidak melulu menjaga satwa liar namun juga merawat ilmu pengetahuan dan melindungi manusia – karena konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan alam hari ini, tetapi memastikan kehidupan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang,” ungkap Ute dan Angel. (*)
Editor : A. Nugroho