TULUNGAGUNG, RADAR MALANG– Tim dari Departemen Seni dan Desain, Universitas Negeri Malang (UM), berkolaborasi dengan Sanggar Gatra Mandasari, Tulungagung, dalam pelaksanaan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026. Program pengabdian kepada masyarakat ini diarahkan pada penguatan pelestarian Tari Reog Kendang melalui pengembangan media pembelajaran berbasis desain komunikasi visual dan videografi.
Kolaborasi tersebut berangkat dari kebutuhan Sanggar Gatra Mandasari sebagai ruang pembelajaran seni tradisi yang selama ini aktif mengenalkan Tari Reog Kendang kepada generasi muda, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus. Dalam proposal program, proses pembelajaran di sanggar masih banyak mengandalkan demonstrasi langsung dan peniruan gerak dari pelatih. Kondisi tersebut menjadi tantangan terutama bagi peserta didik yang membutuhkan pendekatan pembelajaran visual dan nonverbal.
Melalui PISN 2026, tim UM mengembangkan inovasi berupa buku ilustrasi digital dan video pembelajaran Tari Reog Kendang berbasis visual storytelling. Produk tersebut dirancang tidak hanya sebagai dokumentasi seni, tetapi sebagai media pembelajaran dan literasi budaya yang dapat dimanfaatkan oleh sanggar, lembaga pendidikan, maupun masyarakat luas.
Salah satu produk utama yang sedang dikembangkan adalah buku Belajar Reog Kendang: Panduan Visual Tari Inklusif untuk Generasi Muda. Buku ini dirancang untuk memperkenalkan Reog Kendang secara sistematis, mulai dari sejarah dan identitas budaya, cerita dan filosofi, kostum serta properti, hingga gerak dasar dan panduan gerak langkah demi langkah. Pendekatan ilustrasi visual digunakan agar materi lebih mudah dipahami oleh generasi muda dan peserta didik dengan kebutuhan belajar yang beragam.
Selain buku, tim juga mengembangkan video pembelajaran yang mendokumentasikan Tari Reog Kendang secara lebih lengkap. Produksi video tidak hanya berfokus pada gerakan tari, tetapi juga mencakup tahapan persiapan pertunjukan seperti tata rias, penggunaan busana, aksesori, properti, dan proses latihan. Pendekatan tersebut dimaksudkan agar pembelajaran tidak berhenti pada teknik gerak, tetapi juga mengenalkan keseluruhan proses penyajian seni tradisi.
Pelaksanaan program dilakukan secara partisipatif melalui kolaborasi antara dosen, mahasiswa, pengajar sanggar, dan peserta didik. Proposal program menetapkan pelatihan dalam tiga fokus utama, yakni visual storytelling dan ilustrasi gerak tari; fotografi dan videografi seni pertunjukan; serta produksi media pembelajaran inklusif. Metode yang digunakan menekankan praktik langsung (hands-on practice) dan pendampingan agar mitra tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga memiliki kapasitas untuk memproduksi dan mengembangkan media secara mandiri.
Tim pelaksana program terdiri atas Dr Andika Agung Sutrisno, S.Sn., M.Sn. sebagai ketua pelaksana, Dr Wida Rahayuningtyas, S.Pd., M.Pd. dan Dr. Andhika Putra H., S.Sn., M.Sn. sebagai anggota pelaksana, serta mahasiswa pembantu Ayuni Dwi Andini, Javier Pandya R., dan M. Alvaniko Al-Jufry. Masing-masing berkontribusi sesuai bidang keahlian, mulai dari substansi seni tari, pedagogi, desain visual, ilustrasi, dokumentasi, hingga produksi dan penyuntingan video.
Program ini diharapkan memberikan manfaat tidak hanya bagi Sanggar Gatra Mandasari, tetapi juga bagi upaya pelestarian Reog Kendang sebagai identitas budaya Tulungagung. Media yang dikembangkan diarahkan untuk dapat digunakan secara berkelanjutan dalam kegiatan latihan sanggar dan berpotensi direplikasi oleh komunitas seni maupun lembaga pendidikan lain yang memiliki kebutuhan serupa. Juknis PISN sendiri menekankan penerapan inovasi seni yang sesuai kebutuhan masyarakat serta penguatan keberlanjutan komunitas seni melalui kolaborasi multipihak.
Melalui sinergi perguruan tinggi dan komunitas seni, program PISN 2026 ini menempatkan teknologi bukan sebagai pengganti tradisi, melainkan sebagai sarana untuk mendokumentasikan, mengajarkan, dan memperluas akses terhadap seni tradisi. Pengembangan buku ilustrasi dan video pembelajaran diharapkan menjadi langkah konkret agar Reog Kendang tetap hidup, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya dalam bentuk yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. (*)