BENJOR, RADAR MALANG – Masalah lahan miring yang terlantar dan rawan erosi sering kali menjadi kendala klasik bagi pembangunan pertanian di wilayah perbukitan. Namun, sekelompok petani di Desa Benjor, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, berhasil mengubah tantangan tersebut menjadi peluang ekonomi baru. Melalui program Pengabdian Masyarakat Pemula (PMP), mereka sukses mengkonversi lahan tidur berlereng menjadi perkebunan kopi yang produktif dan tertata rapi. Inovasi yang diterapkan adalah teknologi Sistem Pagar Terasering (Hedgerow System). Program pemberdayaan ini diinisiasi oleh Tim Pengusul PMP dari Sekolah Tinggi Teknik Malang bersama dengan Kelompok Tani Kopi setempat.
Ketua Tim Pengabdian, Ariesta Wulandari, S.Si., M.Pd, menjelaskan bahwa sistem pagar terasering ini dipilih karena memiliki keunggulan ganda, yaitu sebagai instrumen konservasi lingkungan sekaligus optimalisasi ruang kelola tani.
"Selama ini petani menganggap lahan miring sulit ditanami secara optimal karena risiko pupuk hanyut dan erosi tanah permukaan (topsoil) sangat tinggi. Dengan sistem pagar ini, kita membuat undakan mekanis sepanjang garis kontur lereng, lalu menanam kopi dengan jarak rapat di dalam barisan, namun menyisakan lorong yang lebar antarbaris," ujar Ariesta.
Pada lahan percontohan (demplot) berukuran 400 meter persegi, perbedaan hasil antara metode lama dan baru terlihat sangat kontras. Jika menggunakan sistem konvensional dengan jarak acak, lahan seluas itu biasanya hanya bisa menampung sekitar 64 batang kopi.
Namun, dengan penerapan sistem pagar terasering, kapasitas tampung lahan melonjak drastis hingga 200 batang kopi tanpa mengganggu ruang tumbuh tanaman. Selain meningkatkan populasi tanaman hingga 32 persen, struktur terasering ini juga mampu mereduksi dampak erosi akibat limpasan air hujan hingga 80 persen.
Penggunaan mulsa organik di sekitar barisan tanaman juga efektif menjaga kelembapan mikro tanah, sehingga tanaman kopi tetap mendapatkan nutrisi optimal bahkan saat musim kemarau. Tidak hanya fokus pada aspek produksi, program pengabdian yang berjalan selama enam bulan ini juga membekali para petani dengan keterampilan manajerial dan pemetaan rantai pasok pemasaran. Petani dilatih untuk melakukan pencatatan buku kas usaha tani sederhana agar perputaran modal menjadi lebih transparan. Ketua Kelompok Tani Desa Benjor, Bapak Heri Purnomo, mengaku sangat terbantu dengan adanya program ini. Menurutnya, lorong-lorong rapi selebar 1 x 2 meter yang terbentuk di antara barisan kopi membuat aktivitas perawatan harian menjadi jauh lebih mudah.
"Sekarang kami tidak hanya tahu cara menanam kopi yang benar di lahan miring, tapi juga paham cara menghitung biaya produksi dan merencanakan musim tanam. Kami berharap kebun percontohan 400 meter persegi ini bisa menjadi contoh bagi warga desa lain untuk mulai memanfaatkan lahan tidur mereka," ungkap Bapak Sugeng salah satu petani Desa Benjor.
Melalui pengenalan dasar manajemen pascapanen dan penguatan kelembagaan kelompok, para petani Desa Benjor kini bersiap untuk menerapkan sistem pemasaran satu pintu (collective marketing). Langkah ini diharapkan dapat memotong rantai tengkulak yang panjang, meningkatkan posisi tawar petani, dan menjamin keberlanjutan dampak ekonomi hijau di kawasan perbukitan Malang.
Skema : Pengabdian Masyarakat Pemula (PMP)
Pendanaan : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jendral Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Tahun Pendanaan : 2026. (*)