UB Mulai Melakukan Pendataan Terdampak Gempa
MALANG KOTA, RADAR MALANG – Sejumlah lembaga pendidikan memberikan atensi terhadap masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa bumi. Salah satunya Universitas Brawijaya (UB), kemarin (21/8) melakukan pendataan dan verifikasi terhadap para mahasiswa yang terdampak fenomena alam itu.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Universitas Brawijaya Dr Setiawan Noerdajasakti SH MH mengatakan, berdasar data Direktorat Teknologi Informasi ada 250 mahasiswa UB asal NTT. Karena itu, pihaknya melakukan pendataan dan verifikasi untuk memastikan kondisi masing-masing mahasiswa. Selanjutnya akan diberi bantuan biaya hidup atau lainnya.
”Seperti saat mahasiswa dari Sumatra terdampak bencana. Kami hubungkan dengan perusahaan-perusahaan agar mereka mendapat corporate social responsibility (CSR),” terang Sakti. Menurutnya, saat gempa di Sumatra banyak perusahaan-perusahaan yang datang ke UB. Mereka menawarkan bantuan kepada para mahasiswa terdampak banjir bandang.
Selain dari perusahaan, beberapa direktorat di bawah UB juga sudah mengirim bantuan ke lokasi bencana. Salah satunya adalah Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DPRM) UB.Baca Juga: Koordinasi Tanggap Darurat NTT, Universitas Widya Karya Siapkan Penjaringan 400 Mahasiswa Terdampak
Ditanya terkait keringanan akademik untuk mahasiswa terdampak bencana, Sakti menyampaikan, sudah diatur masing-masing fakultas. Setiap fakultas memiliki kebijakan pembelajaran dan aturan berbeda.
Dirjen Kesejahteraan Mahasiswa Eksekutif Mahasiswa (EM) UB Dimas Satya Saputra menyampaikan, ada 3 aspek yang diverifikasi dari mahasiswa. Mulai finansial, psikologis, hingga tempat tinggal pasca bencana.
”Kebanyakan dari rumpun kedokteran atau Saintek. Kemudian mereka didominasi dari Kabupaten Manggarai,” katanya. Dari pantauannya, mahasiswa yang datang mengalami berbagai kondisi. Salah satunya seorang mahasiswa semester 9 dari Prodi Pariwisata UB. Mahasiswa itu mengikuti verifikasi secara daring karena terjebak di lokasi bencana.
”Yang bersangkutan posisinya di tenda pengungsian. Karena adanya gempa ini jadi kesulitan mengerjakan skripsi,” beber Dimas. Mahasiswa itu tinggal di pengungsian bersama 5-7 keluarga lainnya. Dia membutuhkan konseling, kondisinya syok karena sampai sekarang setiap jam ada gemba susulan.
Fakhirah Na'ilah Ilham, salah satu mahasiswa dari NTT yang hadir untuk melakukan bercerita keluarganya harus mendirikan tenda akibat rumahnya rusak. ”Saya harap ke depan mungkin ada keringanan UKT. Kebetulan UKT saya Rp 12 juta. Mungkin bisa ada keringanan di bawah Rp 7 juta,” ucapnya. (mel/gp)
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang