Berebut Ketua Jurnalistik, Siswa SD di Malang Pakai Kamus hingga Jam Dinding untuk Kampanye

Aditya Novrian • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:20 WIB
Berebut Ketua Jurnalistik, Siswa SD di Malang Pakai Kamus hingga Jam Dinding untuk Kampanye
Berebut Ketua Jurnalistik, Siswa SD di Malang Pakai Kamus hingga Jam Dinding untuk Kampanye

MALANG – Pemilihan Ketua dan Wakil Ekskul Jurnalistik SD Katolik Santa Maria III Malang berlangsung cukup ketat, Rabu (26/8). Enam pasangan calon menyampaikan kampanye dengan membawa simbol masing-masing, mulai buku, lem, gunting, kamus, hingga jam dinding. Hasil pemungutan suara bahkan harus ditentukan melalui dua putaran setelah dua pasangan sama-sama mengantongi enam suara.

Pemilihan tersebut digelar dalam dua kali pertemuan. Sebelum kampanye, siswa kelas besar dipasangkan dengan siswa kelas kecil untuk membentuk pasangan calon ketua dan wakil. Mereka kemudian diminta memilih benda di perpustakaan yang dianggap sesuai dengan gagasan kampanye.

Kamus dan Jam Dinding Sama-sama Kantongi Enam Suara

Pada putaran pertama, pasangan Salomo dan Eel yang membawa simbol Kamus memperoleh enam suara. Perolehan tersebut sama dengan pasangan Trystan dan Sheryl yang menggunakan Jam Dinding.

Sementara itu, pasangan Hugo dan Oliv dengan simbol Buku mendapatkan dua suara. Pasangan Daniel, Lionel dan Igad yang membawa simbol Lem mendapat satu suara. Pasangan Ezra dan Gita dengan simbol Gunting tidak masuk dalam perolehan suara yang disebutkan dalam hasil putaran pertama.

Karena dua pasangan teratas memperoleh suara sama, pemilihan dilanjutkan ke putaran kedua. Salomo-Eel dan Trystan-Sheryl kembali diberi kesempatan berkampanye singkat sebelum mengikuti sesi tanya jawab.

Hasilnya, Salomo dan Eel keluar sebagai pasangan terpilih setelah memperoleh delapan suara. Trystan dan Sheryl mendapat lima suara, sedangkan dua suara lainnya tidak memilih.

Simbol Kampanye Diambil dari Benda di Perpustakaan

Sebelum pemungutan suara, keenam pasangan diminta menentukan benda atau media di perpustakaan sebagai simbol kampanye. Benda tersebut kemudian dikaitkan dengan nilai yang ingin mereka bawa jika terpilih.

Hugo dan Oliv memilih Buku. Daniel, Lionel dan Igad menggunakan Lem. Ezra dan Gita memilih Gunting. Salomo dan Eel membawa Kamus, sedangkan Trystan dan Sheryl memilih Jam Dinding.

Trystan mengatakan, jam dinding dipilih karena waktu dianggap berharga dan tidak dapat diulang. Gagasan tersebut kemudian dikaitkan dengan kedisiplinan dan tanggung jawab seorang pemimpin.

Selain menentukan simbol, para siswa juga menyiapkan teks pidato kampanye. Mereka berlatih menyampaikan pembukaan, inti, dan penutup pidato selama sekitar satu pekan sebelum tampil di hadapan peserta ekskul.

Siswa Belajar Menerima Hasil Pemilihan

Kepala SD Katolik Santa Maria III Malang Stephanus Lukito Cahyo Purnomo, S.Pd., M.Pd., mengatakan proses pemilihan memberi pengalaman langsung kepada siswa. Mereka tidak hanya diminta berbicara di depan peserta, tetapi juga mengikuti proses pemilihan hingga menerima hasilnya.

“Kegiatan pemilihan Ketua dan Wakil Jurnalistik ini merupakan pembelajaran yang sangat baik bagi anak-anak. Mereka tidak hanya belajar menjadi seorang jurnalis, tetapi juga belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin,” ujarnya.

Menurut Cahyo, siswa juga belajar menyampaikan gagasan, menghargai pilihan peserta lain, bertanggung jawab, dan menerima hasil pemilihan.

“Anak-anak belajar berani menyampaikan gagasan, menghargai pilihan orang lain, bertanggung jawab, dan menerima hasil pemilihan dengan sportif,” imbuhnya.

Trystan, salah satu peserta yang gagal terpilih, mengaku tetap mendapatkan pengalaman dari proses tersebut. Menurutnya, kampanye membuat dirinya lebih berani berbicara di depan teman-teman.

“Saya merasa senang mengikuti kampanye ini karena saya belajar berani berbicara di depan teman-teman dan menyampaikan pendapat. Saya juga belajar bahwa menjadi pemimpin bukan hanya tentang menang dalam pemilihan, tetapi harus bisa bertanggung jawab, disiplin, menghargai waktu, dan menjadi contoh yang baik bagi teman-teman,” kata Trystan.

Dia juga mengaku menerima hasil pemilihan tersebut. “Walaupun pasangan saya belum terpilih, saya tetap bangga karena mendapat pengalaman berharga dan belajar menerima hasil pemilihan dengan sportif,” lanjutnya.

Proses pemilihan ini berlangsung dengan memanfaatkan ruang perpustakaan sekaligus benda-benda yang tersedia di dalamnya. Benda yang biasanya digunakan untuk menunjang kegiatan belajar tersebut kemudian menjadi bagian dari kampanye masing-masing pasangan.

Editor : Aditya Novrian
pemilihan ketua jurnalistik Ekskul Jurnalistik Santa Maria III kampanye siswa SD pemilihan ketua ekskul jurnalistik sekolah