MALANG, RADAR MALANG — Berangkat dari maraknya produk minuman bubuk instan yang menggunakan pewarna, pemanis sintetis, dan pengasam, dosen Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan inovasi minuman berbahan dasar rosela. Inovasi tersebut dikembangkan oleh Prof Teti Estiasih, STP, MP, dosen Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) UB, sejak 2022.
Prof Teti mengembangkan prototipe bubuk minuman rosela instan dengan memanfaatkan kelopak bunga rosela merah dan rosela ungu. Penggunaan rosela ungu menjadi salah satu keunggulan inovasi tersebut karena jenis rosela ini masih relatif belum banyak dikenal masyarakat.
Selain memiliki warna yang menarik secara alami, rosela juga mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan. Berdasarkan kajian yang dilakukan, rosela ungu memiliki aktivitas antidiabetes, antioksidan, dan antikolesterol yang lebih baik dibandingkan rosela merah. Meski demikian, kedua jenis rosela tersebut sama-sama memiliki potensi positif bagi kesehatan.
Pengembangan bubuk minuman rosela instan ini mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui pendanaan Bantuan Biaya Luaran Prototipe tahun 2026. Dukungan tersebut dimanfaatkan untuk menyempurnakan prototipe agar dapat dikembangkan dan diterapkan dalam industri pangan, baik dalam skala kecil maupun lebih besar.
Melalui teknologi instanisasi, bubuk rosela yang dikembangkan lebih mudah diseduh dan dapat larut secara sempurna dalam air. Dengan demikian, konsumen tidak perlu khawatir adanya ampas yang tertinggal saat minuman dikonsumsi, seperti yang umumnya ditemukan pada bubuk rosela biasa maupun kelopak rosela kering yang diseduh menggunakan air panas.
Inovasi tersebut juga didukung kajian saintifik mengenai potensi aktivitas kesehatan dari bubuk minuman rosela merah dan ungu. Hasil penelitian menunjukkan adanya kemampuan dalam menghambat enzim alfa-glukosidase yang berkaitan dengan peningkatan kadar gula darah, serta enzim HMG-CoA reduktase yang berperan dalam pembentukan kolesterol.
Selain itu, minuman rosela instan tersebut memiliki kandungan antioksidan yang berasal dari senyawa bioaktif dalam kelopak bunga rosela. Warna merah hingga merah keunguan pada produk juga berasal secara alami dari antosianin, bukan dari penambahan pewarna sintetis.
Dalam pengembangannya, produk tersebut juga tidak menggunakan pemanis buatan maupun pengasam sintetis. Rasa asam yang menjadi karakteristik minuman rosela berasal dari kandungan asam organik alami yang terdapat pada kelopak bunga rosela.
Untuk mendorong produk menuju tahap komersialisasi, Prof Teti menggandeng PT Anugerah Alam Wilis dari Kediri. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk uji coba produksi sekaligus penjajakan pemasaran produk agar inovasi yang dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi dapat diterapkan secara lebih luas di masyarakat.
Tidak hanya untuk minuman, bubuk rosela instan tersebut juga memiliki potensi penggunaan yang beragam. Produk dapat dimanfaatkan sebagai topping atau bahan tambahan pada berbagai olahan pangan, seperti es krim, donat, brownies, yoghurt, gelato, dan produk makanan lainnya.
Melalui inovasi tersebut, pengembangan bubuk minuman rosela instan diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif penyediaan produk pangan yang lebih sehat sekaligus memiliki nilai tambah.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri juga diharapkan mampu mempercepat proses hilirisasi hasil penelitian sehingga manfaat inovasi dapat dirasakan masyarakat dan memiliki peluang untuk berkembang di pasar komersial. (aw)
Editor : A. Nugroho