
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) menerima 11 mahasiswa peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) Konsorsium Dekan Fakultas Ilmu Budaya se-Indonesia untuk Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Kegiatan penerimaan dilaksanakan pada Jumat (21/8/2026) di Ruang Rapat Lantai 6 Gedung A FIB UB sebagai awal perjalanan akademik mahasiswa pertukaran selama menjalani perkuliahan di UB.
Sebelas mahasiswa tersebut berasal dari empat perguruan tinggi, yakni Universitas Udayana, Universitas Andalas, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Gadjah Mada. Mereka berasal dari bidang keilmuan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Indonesia, Sastra Inggris, serta Bahasa Mandarin.

PMM Konsorsium Dekan FIB se-Indonesia merupakan program pertukaran mahasiswa dalam negeri yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa FIB untuk menempuh pembelajaran selama satu semester di perguruan tinggi anggota konsorsium. Program ini dikembangkan untuk membantu mahasiswa menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika sosial melalui pengalaman belajar di lingkungan akademik yang berbeda.
Program tersebut telah menjadi salah satu bentuk kolaborasi antarfakultas ilmu budaya di Indonesia. Implementasinya memungkinkan mahasiswa mempelajari mata kuliah dalam lingkup FIB di perguruan tinggi tujuan sekaligus memperluas pengalaman akademik, jejaring, dan pemahaman terhadap lingkungan sosial budaya yang berbeda.
Dari 11 mahasiswa yang diterima FIB UB pada semester ini, empat mahasiswa berasal dari Universitas Udayana, yakni Arimbi, Olivia Clianta Wijaya, Naura Salsabila, dan Silvilla Zahra Putri Arifin. Empat mahasiswa lainnya berasal dari Universitas Andalas, yaitu Zilan Zalila, Keyko Loveynissa, Meisy Putri Fajri, dan Reihan Julfan.

Universitas Sumatera Utara mengirimkan dua mahasiswa Program Studi Bahasa Mandarin, yakni Amira Aulia Br Sitorus dan Ulina Peronika Hutajulu. Sementara itu, Universitas Gadjah Mada diwakili oleh Dede Nabila Rahmah dari Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia.
Keberagaman asal perguruan tinggi dan bidang studi tersebut membuat program pertukaran tidak hanya menjadi proses perpindahan tempat belajar. Selama berada di FIB UB, mahasiswa akan berinteraksi dengan lingkungan akademik, mahasiswa, dosen, budaya belajar, hingga kehidupan sosial yang berbeda dari kampus asal.
Dekan FIB UB, Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan selamat datang kepada seluruh mahasiswa peserta PMM. Ia mengungkapkan rasa senangnya karena para mahasiswa telah memilih FIB UB sebagai tempat untuk menjalani pengalaman pertukaran.

“Kami atas nama FIB UB menyampaikan selamat datang. Kami sangat senang atas kehadiran teman-teman semua dan telah memilih FIB UB,” ujar Sahiruddin.
Ia juga menyampaikan salam hormat kepada para dekan dan jajaran pimpinan fakultas dari perguruan tinggi asal mahasiswa. Menurutnya, FIB UB memiliki kedekatan dengan berbagai Fakultas Ilmu Budaya di Indonesia, sehingga mobilitas mahasiswa menjadi salah satu bentuk nyata hubungan yang telah terbangun tersebut.
Kedekatan antarfakultas menjadi modal penting dalam membangun ekosistem pendidikan humaniora yang lebih terbuka. Melalui pertukaran mahasiswa, hubungan institusional tidak hanya berlangsung di tingkat pimpinan atau melalui dokumen kerja sama, tetapi diterjemahkan menjadi pengalaman akademik yang secara langsung dirasakan mahasiswa.
Sahiruddin berpesan agar mahasiswa memanfaatkan kesempatan selama berada di FIB UB dengan sebaik-baiknya. Selain menjalani kegiatan akademik dengan sungguh-sungguh, mahasiswa juga didorong untuk mengenal lingkungan UB dan Kota Malang.
“Kami atas nama manajemen berharap teman-teman bisa belajar dengan rajin sambil menikmati lingkungan UB dan Kota Malang,” pesannya.
Pengalaman pertukaran memang tidak hanya berlangsung di dalam ruang kuliah. Berada di kota dan lingkungan sosial yang berbeda memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk beradaptasi, mengenal kebiasaan baru, membangun pertemanan, serta mengalami secara langsung kehidupan masyarakat di tempat mereka belajar.
Karena itu, kegiatan penerimaan juga diisi dengan selayang pandang mengenai FIB UB, penjelasan singkat mengenai kehidupan dan kebiasaan di UB, serta pengenalan berbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan mahasiswa selama mengikuti program.
Informasi tersebut menjadi bekal awal agar mahasiswa dapat lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Setelah pemaparan, masing-masing mahasiswa juga memperkenalkan diri sehingga peserta dapat mulai saling mengenal sebelum menjalani perkuliahan bersama.
Motivasi mahasiswa mengikuti PMM beragam. Bagi Olivia Clianta Wijaya dari Universitas Udayana, pertukaran mahasiswa menjadi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman dan lingkungan pertemanan baru.
Ia berharap selama berada di FIB UB dapat memperoleh pengetahuan yang mungkin belum diperolehnya di perguruan tinggi asal sekaligus membangun jaringan pertemanan yang lebih luas.
Keinginan untuk memperoleh pengalaman akademik baru juga dirasakan Dede Nabila Rahmah dari Universitas Gadjah Mada. Ia tertarik memilih UB karena melihat adanya bidang-bidang pembelajaran di FIB UB yang dapat memperluas pengalaman studinya, termasuk ketertarikannya terhadap seni dan film.
Dede berharap masa pertukarannya dapat menjadi kesempatan untuk menghasilkan karya. Ia juga mengapresiasi penerimaan yang diberikan FIB UB kepada para mahasiswa PMM.
“Terima kasih telah menyambut kami dengan hangat,” ungkap Dede.
Dede menyampaikan bahwa ketertarikan terhadap kesempatan berkarya menjadi salah satu motivasinya memilih UB sebagai tujuan pertukaran.
Sementara itu, Meisy Putri Fajri, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Andalas, melihat PMM sebagai kesempatan untuk mengenal kehidupan di Pulau Jawa sekaligus mempelajari kebudayaan dan sistem pembelajaran yang berbeda.
Ia ingin mengetahui bagaimana mahasiswa di UB menjalani proses belajar dan berharap dapat menjadi bagian dari keluarga besar UB selama masa pertukaran.
“Saya ingin mengeksplorasi Pulau Jawa dan juga ingin belajar lebih banyak tentang kebudayaan serta bagaimana orang di sini belajar dan bagaimana sistem pembelajarannya,” ungkap Meisy.
Motivasi yang lebih spesifik disampaikan Amira Aulia Br Sitorus dari Program Studi Bahasa Mandarin Universitas Sumatera Utara. Baginya, berangkat ke Malang merupakan kesempatan untuk keluar dari zona nyaman sekaligus meningkatkan kemampuan bahasa Mandarin.
Amira bahkan telah menetapkan target akademik selama menjalani program di FIB UB, yakni meningkatkan kompetensinya hingga mampu lulus Hanyu Shuiping Kaoshi (HSK) Level 5.
“Saya ingin mencari lingkungan baru dan yang paling utama saya ingin meningkatkan kemampuan berbahasa Mandarin. Harapan saya selama berkuliah di sini, saya bisa lulus HSK 5,” tuturnya.
Cerita para mahasiswa tersebut memperlihatkan bahwa pertukaran mahasiswa memiliki makna yang berbeda bagi setiap peserta. Ada yang ingin mencari pengalaman akademik baru, mengenal budaya, memperluas pertemanan, mengembangkan karya, hingga meningkatkan kompetensi bahasa. Namun, seluruh pengalaman tersebut bertemu pada satu titik yang sama: keberanian untuk meninggalkan lingkungan belajar yang telah dikenal dan memasuki ruang akademik baru.
Kehadiran mahasiswa PMM juga memberikan manfaat bagi FIB UB sebagai perguruan tinggi penerima. Interaksi dengan mahasiswa dari berbagai universitas membawa perspektif, pengalaman belajar, serta latar budaya yang berbeda ke dalam ruang-ruang perkuliahan.
Pertemuan tersebut memungkinkan proses belajar berlangsung dua arah. Mahasiswa pertukaran memperoleh pengalaman dari FIB UB, sementara mahasiswa FIB UB juga memiliki kesempatan untuk mengenal perspektif teman-teman dari perguruan tinggi lain tanpa harus meninggalkan kampus.
Praktik serupa di perguruan tinggi anggota konsorsium menunjukkan bahwa PMM tidak berhenti pada perkuliahan. Mahasiswa pertukaran juga dapat terlibat dalam kehidupan kemahasiswaan, kegiatan budaya, dan interaksi sosial di kampus tujuan sehingga jejaring akademik antarmahasiswa semakin luas.
Bagi bidang humaniora, pengalaman lintas kampus tersebut memiliki relevansi tersendiri. Bahasa, sastra, seni, dan budaya pada dasarnya berkembang melalui perjumpaan dengan perspektif yang beragam. Perpindahan dari satu lingkungan akademik ke lingkungan lainnya memungkinkan mahasiswa melihat objek keilmuannya dari sudut pandang yang mungkin berbeda. [dts/Humas FIB]
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang