Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) menyelenggarakan Orientasi Pendidikan (ORDIK) bagi mahasiswa baru Program Magister Ilmu Linguistik Tahun 2026 pada Rabu hingga Jumat (26–28/8/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Ruang Rapat Gedung B dan Ruang Kelas Gedung A FIB UB tersebut dirancang untuk memberikan bekal awal agar mahasiswa memahami sistem akademik, penelitian, publikasi ilmiah, strategi studi, hingga proses penyusunan tesis sebelum memulai perkuliahan.
Sebanyak 24 mahasiswa tercatat sebagai mahasiswa baru Program Magister Ilmu Linguistik tahun ini. Mereka berasal dari beberapa jalur penerimaan dengan latar belakang yang beragam, termasuk mahasiswa Program Fast-track, Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), mahasiswa reguler, serta mahasiswa internasional.
Keberagaman tersebut menjadikan ORDIK tidak hanya sebagai kegiatan pengenalan lingkungan kampus, tetapi juga sebagai titik awal untuk menyatukan mahasiswa dengan pengalaman dan kebutuhan akademik yang berbeda dalam satu lingkungan pembelajaran pascasarjana.
Kegiatan dibuka pada Rabu (26/8/2026). Rangkaian hari pertama dimulai dengan registrasi peserta, pembukaan, sambutan, serta pengenalan pimpinan FIB UB oleh Dekan FIB UB, Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D.
Dalam pembukaan tersebut, mahasiswa diperkenalkan dengan lingkungan FIB UB sebagai rumah akademik yang akan mendukung perjalanan mereka selama menjalani pendidikan magister.
Program Studi Magister Ilmu Linguistik menyusun kegiatan selama tiga hari dengan materi yang secara khusus diarahkan pada kebutuhan mahasiswa dalam menjalani pendidikan pascasarjana.
Dr. Dany Ardhian, S.Pd., M.Hum., ketua pelaksana, menjelaskan bahwa orientasi tersebut dirancang agar mahasiswa memiliki gambaran mengenai proses yang akan mereka jalani selama tiga hingga empat semester mendatang.
“Proses orientasi pendidikan selama tiga hari ini kami rancang untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam berkuliah selama tiga sampai empat semester ke depan,” jelas Dany.
Menurutnya, materi yang diberikan tidak dipilih sekadar untuk memperkenalkan program studi. Setiap sesi diarahkan pada kompetensi dan informasi yang akan dibutuhkan mahasiswa ketika memasuki proses akademik, penelitian, hingga penyelesaian studi.
Program Studi Magister Ilmu Linguistik menghadirkan sejumlah dosen sebagai pemateri. Topik yang diberikan mencakup pengenalan fakultas, administrasi program studi, sistem pendidikan dan pembelajaran pascasarjana, kode etik mahasiswa, penelitian dan publikasi ilmiah, tesis, serta strategi menjalani studi magister.
Pada hari pertama, Hamamah, S.Pd., M.Pd., Ph.D., memberikan materi pengenalan FIB UB. Selanjutnya, Imam Subakri, S.Kom., menjelaskan sistem administrasi di Program Magister Ilmu Linguistik, sedangkan Syariful Muttaqin, S.Pd., M.A., Ph.D., memberikan materi mengenai sistem pendidikan dan pembelajaran pascasarjana.
Pengenalan sistem tersebut menjadi penting karena karakteristik pendidikan magister berbeda dari pendidikan sarjana. Mahasiswa dituntut memiliki kemandirian akademik yang lebih tinggi, kemampuan membaca dan menelaah literatur secara kritis, serta kesiapan untuk melakukan penelitian yang pada akhirnya diwujudkan melalui tesis dan publikasi ilmiah.
Memasuki hari kedua, Kamis (27/8/2026), orientasi semakin diarahkan pada kesiapan mahasiswa menghadapi aktivitas akademik tingkat lanjut.
Dr. Dra. Roosi Rusmawati, M.Si., memberikan materi mengenai kode etik mahasiswa. Setelah itu, Prof. Dr. Zuliati Rohmah, S.Pd., M.Pd., membahas pengenalan penelitian, publikasi ilmiah, dan tesis.
Materi penelitian dan publikasi menjadi salah satu bekal penting bagi mahasiswa magister karena proses pendidikan pascasarjana tidak dapat dilepaskan dari kegiatan ilmiah. Mahasiswa tidak hanya diharapkan memahami teori linguistik, tetapi juga mampu mengembangkan pertanyaan penelitian, menentukan metode yang tepat, mengolah temuan, dan mengomunikasikan hasil penelitiannya dalam karya akademik.
Sesi berikutnya bersama Ika Nurhayani, S.S., M.Hum., Ph.D., secara khusus membahas strategi studi di program magister. Materi tersebut membantu mahasiswa memahami bagaimana mengelola proses pendidikan secara terencana sehingga tahapan perkuliahan, penelitian, hingga penyelesaian tesis dapat berjalan dengan baik.
Dany menjelaskan bahwa program studi berupaya mendampingi mahasiswa sejak awal sehingga berbagai kendala akademik dapat diminimalkan.
“Kami membantu secara maksimal, mendampingi mereka, dan memberikan yang terbaik. Baik dalam proses pengajaran, penelitian, maupun proses akademik, kami mendampingi mereka supaya bisa berproses dengan baik sampai lulus,” ujarnya.
Orientasi kemudian ditutup pada Jumat (28/8/2026) melalui koordinasi penyusunan Kartu Rencana Studi (KRS). Tahapan tersebut sekaligus menjadi jembatan dari kegiatan orientasi menuju dimulainya proses perkuliahan mahasiswa.
Selain materi internal, rangkaian ORDIK juga menghadirkan perspektif internasional melalui Studium Generale bersama Aone van Engelenhoven dari Leiden University. Kuliah tamu tersebut dimoderatori oleh Wahyu Widodo, S.S., M.Hum., Ph.D.
Dalam sesi tersebut, mahasiswa mendapatkan paparan mengenai dokumentasi bahasa dan linguistik. Kehadiran akademisi internasional sejak awal masa studi memberikan kesempatan kepada mahasiswa baru untuk melihat bahwa kajian linguistik berkembang dalam jejaring keilmuan yang luas dan melibatkan penelitian terhadap berbagai bahasa serta masyarakat penuturnya.
Kegiatan ini juga melengkapi upaya Program Magister Ilmu Linguistik FIB UB untuk memberikan paparan akademik yang lebih luas kepada mahasiswa sejak awal pendidikan.
Nuansa internasional juga terlihat dari kehadiran mahasiswa asing dalam Program Magister Ilmu Linguistik. Salah seorang mahasiswa asal Rusia, Lisa, mengungkapkan kesan positifnya terhadap lingkungan UB setelah berada di Malang.
“Selama ini, saya sangat suka di UB karena ada banyak fasilitas dan kampusnya juga sangat indah dan nyaman untuk berjalan-jalan,” ungkapnya.
Bagi Lisa, ORDIK memberikan informasi yang sangat membantu karena mahasiswa memperoleh penjelasan langsung mengenai proses yang perlu dijalani untuk menyelesaikan pendidikan magister.
“Saya sangat suka karena dosen-dosen menjelaskan bagaimana cara saya lulus dan apa saja syaratnya untuk lulus. Jadi ini baik sekali karena semuanya jelas,” katanya.
Kejelasan mengenai perjalanan akademik sejak awal menjadi penting, terlebih bagi mahasiswa internasional yang harus beradaptasi tidak hanya dengan sistem pendidikan baru, tetapi juga dengan lingkungan bahasa, sosial, dan budaya yang berbeda.
Lisa berharap masa studinya di FIB UB dapat membantunya menemukan topik penelitian yang tepat dan menyelesaikan tesis dengan baik.
“Saya berharap akhirnya bisa memilih topik penelitian saya, menulis tesis saya, dan tentunya bersenang-senang di UB selama studi saya,” ujarnya.
Orientasi bagi mahasiswa pascasarjana memiliki karakter berbeda dengan pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa sarjana. Mahasiswa magister memasuki pendidikan dengan tuntutan untuk segera memahami arah studi, menentukan minat penelitian, membangun komunikasi akademik dengan dosen, serta mempersiapkan tesis sejak awal.
Karena itu, ORDIK Magister Ilmu Linguistik FIB UB dirancang lebih banyak memberikan peta perjalanan akademik. Mahasiswa diperkenalkan dengan sistem yang akan mereka gunakan, standar etik yang harus dijaga, strategi belajar, mekanisme penelitian, publikasi ilmiah, hingga tahapan penyelesaian studi.
Program studi juga terus melakukan pengembangan kurikulum agar pembelajaran sesuai dengan kebutuhan keilmuan. Dany menjelaskan bahwa kurikulum telah melalui proses peninjauan dengan melibatkan pakar dari luar FIB UB sebelum diterapkan kepada mahasiswa baru.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penerimaan mahasiswa baru tidak berhenti pada proses administrasi. Program studi juga mempersiapkan sistem pembelajaran dan pendampingan agar mahasiswa mengetahui arah yang perlu ditempuh sejak semester pertama. [dts/Humas FIB]
Sumber : Radar Malang