Wisudawan UB Raih Predikat Terbaik dengan Konsistensi - Teliti Ritual di Dieng

Galih R Prasetyo • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 14:37 WIB
Joya Sarah Wisudawan Fakultas Ilmu Administrasi UB dan Freska Ela Melati Wisudawan Prodi Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UB
Joya Sarah Wisudawan Fakultas Ilmu Administrasi UB dan Freska Ela Melati Wisudawan Prodi Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UB

MALANG KOTA- Tak ada cara yang instan untuk menjadi wisudawan terbaik Universitas Brawijaya. Para mahasiswa perlu menjaga konsistensi belajar selama kuliah sampai berani melakukan inovasi. Modal itulah yang mengantarkan Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Freska Ela Melati, dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) UB Joya Sarah raih predikat wisudawan terbaik.

Freska Ela Melati meneliti tentang budaya ritual rambut gimbal pada masyarakat dataran tinggi Dieng. Penelitian tersebut diangkat berdasar dorongan untuk mengenalkan budaya lokal Banjarnegara secara ilmiah. Sekaligus melihat hubungan harmoni antara manusia, alam, dan dimensi spiritual.

”Saya ingin menggali lebih dalam budaya lokal di daerah asal agar dapat semakin dikenal dan memiliki penguatan secara ilmiah,” katanya. Dia berharap penelitiannya memberikan perspektif baru bagi pengembangan kajian posthumanisme yang berangkat dari kekayaan budaya lokal Indonesia.

Dari penelitian yang dilakukan Wisudawan dengan IPK 3.98 itu, menunjukkan bahwa tradisi ruwat rambut gimbal di Dieng memiliki nilai budaya, spiritual, sekaligus ekologis yang berkaitan dengan Upaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur. Penelitiannya dengan judul, Relasi Ekospiritualisme Tradisi Ruwat Rambut Gimbal di Dieng itu berhasil dipublikasikan pada Jurnal Nasional Terakreditasi SINTA 3.

Baca Juga: FK UB Ungkap Rekam Akademik R sebelum Insiden, Punya IPK 3,8 dan Kehadiran Baik

Sementara itu, ada dua hal yang jadi pegangan Joya Sarah selama kuliah di UB selama empat tahun. Pertama rasa ingin tahu, kedua adalah konsistensi. Menurutnya, rasa ingin tahu membuat mahasiswa lebih terbuka terhadap berbagai informasi dan peluang.

Sedangkan konsistensi dapat dibangun dari kebiasaankebiasaan sederhana selama kuliah. ”Bagaimana cara kita konsisten untuk ngerjain tugas sesimpel mungkin, tugas hari ke hari, terus juga konsisten untuk ikut aktif berpartisipasi dalam kelas sampai ujian dan lainnya,” tuturnya.

Baca Juga: FIA UB Perkuat Kinerja melalui Evaluasi Triwulan II 2026

Tidak hanya berfokus pada akademik, Joya juga memanfaatkan masa perkuliahannya untuk aktif dalam organisasi. Ia bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Administrasi Bisnis (HIMABIS). ”Selama kuliah aku ikut tiga organisasi. Yang pertama aku ikutin itu Himpunan,” kata dia.

Di luar kegiatan akademik dan organisasi, Joya juga aktif mengikuti kompetisi, khususnya business case competition. Dari berbagai kompetisi yang pernah diikuti, salah satu pengalaman yang paling ia banggakan adalah Ketika berhasil menjadi finalis Billions International Business Case Competition. (gp)

Editor : Aditya Novrian
HIMABIS posthumanisme UB FIA